menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Rabu, 31 Oktober 2018

Renungan Harian GML : JALAN SEMPIT ITU ADALAH JALAN SALIB

Rebo Wage, 31 Okt 2018

BACAAN
Ef 6:1-9 – “Laksanakan pelayananmu seperti orang yang melayani Kristus”

Luk 13:22-30 – “Ada orang terakhir yang akan menjadi terdahulu, dan ada orang terdahulu yang akan menjadi yang terakhir”

RENUNGAN
1.”Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Latar belakang pertanyaan ini adalah bahwa semua orang Israel, sebagai Umat Perjanjian, akan masuk surga. Jawaban Yesus mengguncang mereka: Keanggotaan seseorang sebagai Umat Perjanjian tidak otomatis sebagai jaminan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Undangan Allah  terbuka untuk umum, termasuk bangsa-bangsa kafir. Bagi kita, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus berjuang melalui pintu yang sempit.

2. Pintu sempit itu adalah Yesus, dan Yesus adalah satu-satunya Jalan. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat” (Yoh 10:9). Dan jalan Yesus adalah Jalan Salib. Melalui Salib, Yesus membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Yesus mengingatkan, kita harus berjuang untuk memperoleh keselamatan.

3.Supaya mampu melalui Salib, kita harus mengenal Yesus, akrab bersatu dengan-Nya lewat Firman,  doa, Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Kita diingatkan Rasul Paulus: “Hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus” (Flp 1:27).

4. Kelemahan utama kita adalah: tidak berusaha sungguh-sungguh mengenal Kristus. Dengan kata lain: kita abai membaca dan merenungkan Kitab Suci, tidak teratur berdoa, dan tidak memperhatikan Sakramen Tobat dan Ekaristi. Betulkah demikian?

Selasa, 30 Oktober 2018

Renungan Harian GML : JANGAN MEREMEHKAN YANG KECIL DAN SEDERHANA

Selasa, 30 Okt 2018

BACAAN
Ef 5:21-33 – “Rahasia ini sungguh besar! Yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dengan jemaat”

Luk 13:18-21 – “ Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi … ”

RENUNGAN
1.Biji sesawi dikenal umum di Palestina. Biji yang teramat kecil, tetapi bila tumbuh, tanaman itu lebih besar daripada segala tanaman  belukar. Burung-burung di udara tertarik untuk makan biji-bijinya dan bersarang di pohon tersebut. Demikian Kerajaan Allah, tumbuh dan berproses seperti biji sesawi. Lewat Sabda yang diterima oleh manusia, Kerajaan Allah tumbuh dari dalam hati manusia. Pertumbuhannya tidak bisa dilihat, namun akan membawa perubahan besar dari dalam hati manusia. Ia menjadi manusia baru dalam Kristus.

2.Banyak hal kecil kita sepelekan dan remehkan, padahal apa yang besar dan segala yang baik berawal dari hal-hal kecil, sederhana, dan serba biasa. Dalam proses beriman, seseorang menerima kehidupan baru. Ia dipanggil untuk mengasihi mulai dari cara yang sederhana, lewat menyapa orang lain, memberi senyuman, menjadi pendengar yang baik, memberi pertolongan. Dari hal-hal kecil akan menghasilkan hal-hal besar. Dengan cara itu Kerajaan Allah terwujud.

3. Apa sumbangsih kita (Gereja) bagi kemajuan lingkungan dan masyarakat di sekitar kita?

Sabtu, 27 Oktober 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH


Sabtu, 27 Okt 2018

BACAAN
Ef 4:7-16 – “Kristuslah kepala tubuh, dan daripadanya seluruh tubuh menerima pertumbuhannya”

Luk 13:1-9 – “Jika kamu semua tidak bertobat, kamu pun akan binasa dengan cara demikian”

RENUNGAN
1.Pemilik pohon ara dipandang sebagai Allah Bapa. Bercermin dari bacaan, Allah Bapa sering datang kepada kita untuk mencari buah ara dalam hidup kita. Allah telah memberi kita “tanah” dan rahmat cukup untuk kita menghasilkan buah. Allah datang kepada kita, karena memang saatnya kita menghasilkan buah. Bagaimana kalau kita tidak menghasilkan buah?

2.Kalau tidak menghasilkan buah berarti hidup kita sia-sia, useless. Kita tidak menjadi roti kehidupan bagi orang lain, tetapi menjadi roti bakar. Hidup yang hanya menghisap sari-sari makanan dari tanah tetapi tidak ada manfaatnya dan mandul. Saat kerahiman Tuhan akan berakhir, dan Tuhan akan menjatuhkan keadilan.
3.Bila hal tersebut terjadi atas kita, seharusnya kita malu karena Yesus telah menebang diri-Nya lewat jalan berdarah sampai di kayu Salib. Agar kita tidak sampai ditebang, maka jalan satu-satunya hanyalah bertobat dan menghasilkan buah-buah kebaikan yang membawa orang kepada kehidupan yang damai dan sejahtera. Hidup tidak boleh sia-sia tanpa menghasilkan kebaikan. 

Jumat, 26 Oktober 2018

Renungan Harian GML : *PEKA TERHADAP KEHADIRAN DAN SAPAAN TUHAN

Jumat. 26 Okt 2018

BACAAN
Ef 4:1-6 – “Satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan”

*Luk* 12:54-59 – “Kamu tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini?”

RENUNGAN
1. Yesus menunjukkan *kejengkelan terhadap ketumpulan hati para pendengar-Nya.* Mereka pandai membaca tanda-tanda alam, misalnya hari akan hujan, gunung akan meletus, tetapi *hati mereka tumpul ketika berhadapan dengan Yesus, satu-satunya tanda dari Allah.* Yesus, sebagai utusan Allah, menyampaikan pengajaran dan mukjizat-mujizat. Tetapi *semua itu tidak menggetarkan hati mereka, juga tidak menggetarkan hati anak-anak manusia jaman ini.*

2. Untunglah masih ada orang yang beriman. *Orang beriman sejati selalu mendasari hidup dengan Firman, Sakramen, dan doa-doa yang konsisten dan berkelanjutan.* Mereka ini peka terhadap kehadiran dan sapaan Tuhan. Apa yang menurut orang lain sebagai kebetulan, mereka menganggapnya sebagai *penyelenggaraan Allah.* Sikap percaya seperti ini yang membawa ketenangan dan damai. Dan mereka *tidak mengeluh dan tidak cemas, hanya percaya, pasrah sumarah dan menerima apa yang terjadi.*

3. Allah menyampaikan kehadiran-Nya tidak hanya lewat tanda-tanda alam dan tanda-tanda jaman. Lebih dari itu, *Allah menyampaikan tanda kehadiran-Nya lewat Firman, Sakramen, khususnya Ekaristi, doa, ziarah, juga lewat kebersamaan sabagai Komunitas Kristen.* Semoga kita selalu mengikuti gerakan Roh Kudus lewat Gereja-Nya.

Kamis, 25 Oktober 2018

Renungan Harian GML : DAMAI SEJATI

Kamis, 25 Okt 2018

*BACAAN*
Ef 3:14-21 – “Semoga kamu berakar dan beralas dalam kasih, dan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Alllah”

*Luk* 12:49-53 – “Aku datang bukannya membawa damai, melainkan pertentangan”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan pernyataan yang radikal. *Ia begitu merindukan sebuah lautan api ilahi berkobar menyala dalam hati para murid-Nya*. Yesus telah menanggung baptisan yang membenamkan-Nya dalam penderitaan Golgota, dengan harapan *baptisan kita bukan sekedar seremoni, tapi benar-benar menyerupai baptisan Yesus*. Ia menghendaki baptisan menjadi cahaya suci yang memancarkan kesucian dalam hidup kita.

2.Kita mengharapkan bahwa Yesus benar-benar pembawa damai seperti dikatakan oleh nabi Yesaya (Yes 11:6-9). *Tetapi damai akan terjadi pada akhir sejarah ketika Kerajaan Allah terbangun dalam kepenuhannya*. Sampai saat itu, para murid Kristus akan berhadapan dengan kekuatan-kekuatan dunia yang juga menawarkan damai. *Tidak jarang kita lebih tergiur dengan damai yang ditawarkan dunia,* daripada damai yang ditawarkan oleh Tuhan. Kita diharapkan memiliki roh yang kuat sehingga *tetap memilih damai yang ditawarkan Kristus dan menolak damai yang ditawarkan dunia.*

3.Hidup damai tidak mungkin dibangun dengan perkelahian, berbantah-bantahan, dan kebencian. *Damai yang ditawarkan Kristus, harus dibangun dengan sikap sopan santun, kelemahlembutan, belas kasihan, dan menyatukan, bukan dengan memecah belah dan berbantah-bantahan.

Rabu, 24 Oktober 2018

Renungan Harian GML : MENJADI PELAYAN YANG BIJAK DAN SETIA

Rabu, 24 Okt 2018, St. Antonius Maria Claret


BACAAN
Ef 3:2-12 – “Rahasia Kristus kini telah diwahyukan dan para bangsa menjadi pewaris perjanjian”

Luk 12:39-48 – “Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut daripadanya”

RENUNGAN
1.Salah satu paling beresiko bagi seorang management perusahaan adalah ketika memilih dan mempekerjakan karyawan baru, apalagi bila visi dan misi perusahaan tidak jelas. Tuhan memiliki tujuan jelas ketika Ia memilih pelayan. Kriterianya: mereka haruslah orang yang bijak dan setia, dapat dipercaya, dan melayani Tuannya yang akan memberi mereka upah, serta mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi. Apakah aku sesuai dengan kriteria Tuhan?

2.Dalam bacaan Injil hari ini dikatakan seorang pelayan yang jahat memukuli hamba-hamba lain. Pelayan yang bijak “membagikan makanan tepat pada waktunya.” Tentu kita semua ingin diperhitungkan sebagai pelayan yang bijak dan setia yang memperhatikan mereka yang dipercayakan kepada kita. Tuhan, sebagai Pelayan, telah mati disalib sedemikian kejam demi keselamatan kita, maka kita harus berani menyingkirkan kepentingan kita sendiri dan melayani mereka yang menjadi permata hati Tuhan, yaitu orang-orang miskin, mereka yang menderita dan dianiaya, mereka yang tertindas dan terlupakan.

Selasa, 23 Oktober 2018

Renungan Harian GML : SAAT INI ADALAH SAAT KERAHIMAN TUHAN

Selasa, 23 Okt 2018, St. Yohanes Capestrano

BACAAN
Ef 2:12-22 – “Kristuslah damai sejahtera kita”

Luk 12:35-38 – “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga”

RENUNGAN
1.“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (ay 35). Perintah tersebut diulangi: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” ( ay 40). Kapan Tuhan akan datang? Tidak ada yang tahu. Kebanyakan dari kita menganggapnya biasa-biasa saja bahkan tidak peduli, sehingga hidup kita pun biasa-biasa saja. Apa saja yang biasa-biasa, selalu tidak menarik.

2.Pendapat umum: “Tuhan sudah datang dan selalu berada di tengah-tengah kita. Jadi apa yang perlu dipersiapkan?” Benar, Tuhan berada di tengah kita, tetapi persoalannya adalah sejauh mana kita bertobat dan menjadikan diri layak di hadapan Tuhan?

3.Selama kita masih hidup, Tuhan selalu menawarkan kerahiman-Nya kepada kita, supaya bertobat, menjadi baru dan menjadi berkat. Maka saat ini disebut saat Kerahiman Tuhan. Bagaimana kalau kita tidak berubah sampai mati? Berarti kita gagal sebagai manusia. Berarti saat Kerahiman Tuhan berakhir dan berubah menjadi saat Pengadilan. Pada saat itu kita harus mempertanggungjawabkan hidup kita. Bagi siapa  yang layak menyambut Tuhan, akan disebut “berbahagia” (ay 38).

4.Kita terus-menerus diingatkan: “Berdirilah tegap, berikat pinggangkan kebenaran dan berbaju zirahkan keadilan” (Ef 6:14). “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang”

Senin, 22 Oktober 2018

Renungan Harian GML : KESERAKAHAN BUKANLAHm8 KEBAHAGIAAN

Senen Kliwon, 4 Sapar 1952, 22 Okt 18

BACAAN
Ef 2:1-10 – “Tuhan telah menghidupkan kita bersama dengan Kristus, dan telah memberi kita tempat di surga bersama dengan Dia”

*Luk* 12:13-21 – “Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kau sediakan itu?”

RENUNGAN
1.” *Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan.”* Yesus tidak menyalahkan orang kaya. Yang dikritik Yesus adalah orang yang *tamak, serakah, egois, dan abai terhadap orang lain*. Orang serakah dan egois, seperti  orang kaya dalam kisah Lazarus (Luk 16:20-25), telah kehilangan rasa dan daya untuk terlibat dan berbagi terhadap orang lain yang membutuhkan. Harta kekayaan menjadi tujuan hidupnya dan perhatiannya hanyalah terhadap dirinya sendiri. Kematiannya menjadi akhir dari jiwanya.

2.Kalau harta kekayaan menjadi tujuan, orang akan berusaha mendapatkannya dengan cara apa pun, dan tidak pernah berpikir usaha itu halal atau haram. *Hidup serakah, biasanya diikuti dengan cara-cara tidak terpuji* untuk mendapatkan harta kekayaan:  korupsi, pungli, suap, mencuri, merampok, bahkan membunuh. Yang dipikirkan hanyalah kepentingan sendiri dan keluarganya.

3. *Apa yang kita miliki adalah pemberian Allah*, diberikan kepada kita untuk kebaikan sesama dan tidak untuk kepentingan diri sendiri. Kita disebut sebagai orang kaya, jika kita murah hati, dan memiliki cinta kasih yang tulus. Yang harus kita perluas bukanlah gudang penyimpanan kekayaan atau rekening bank, melainkan *hati* kita. Apakah yang membuat Anda bahagia?

Sabtu, 20 Oktober 2018

Renungan Harian GML : BERTOBAT DAN BERSAKSI

Sabtu, 20 Okt 2018

*BACAAN*
Ef 1:15-23 – “Kristus diberikan sebagai kepala atas jemaat, dan jemaat itulah tubuh Kristus”

*Luk* 12:8-12 – “Roh Kudus akan mengajarkan kepadamu, apa yang harus kamu katakan”

*RENUNGAN*
1.Kadang-kadang *sukar* untuk mengakui Yesus di depan orang lain. Ada yang *malu* diketahui sebagai murid Kristus, takut akibat yang bakal terjadi, dan *takut* dikucilkan. Ketika ada gereja dirusak atau dibakar, kita diam seribu bahasa. Banyak yang tidak membuat *tanda salib* ketika makan di restoran atau di muka umum. Kita terbebani oleh perasaan “orang berpikir bahwa saya adalah seorang Katolik.” Sikap yang menandakan bahwa iman kita lemah.

2.Tiap saat *Tuhan menyadarkan* kita sebagai orang Katolik. Tuhan juga selalu menyadarkan kita atas dosa-dosa kita, namun kita tidak mau menerimanya. Tuhan siap mengampuni dosa-dosa kita, tetapi kita menolak untuk diampuni. Jika kita mati, tetapi tidak mau menerima kebenaran Allah dan tidak mau bertobat sama sekali, kita berdosa melawan Roh Kudus dan dosa-dosa kita tidak akan diampuni.

3.Bertobat dan bersaksi, itu yang dikehendaki Allah. Bersaksi artinya menjadi martir. Bersaksi apa pun keadaannya, baik maupun buruk. Untuk itu, kita harus mohon Roh Kudus untuk selalu hadir dan berbicara melalui diri kita ketika berada di hadapan orang lain. Dengan demikian tidak perlu ada yang kita takuti.

Jumat, 19 Oktober 2018

RENUNGAN HARIAN GML : JANGAN TAKUT

Jumat, 19 Okt 2018. St. Paulus dari Salib, St. Yohanes de Brebeuf, St. Ishak Joques


*BACAAN*
Ef 1:11-14 – “Kami sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, dan kamu pun telah dimeteraikan dengan Roh Kudus”

Luk 12:1-7 – “Jangan takut!”

*RENUNGAN*
1.”Beribu-ribu orang banyak telah  berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan.” Orang-orang begitu ingin untuk berjumpa dengan Yesus. “Mereka seperti domba tanpa gembala” (Mrk 6:34).

2.Yesus mulai mengajar: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Parisi.” Kemunafikan berarti menyembunyikan kebenaran. Di luar nampak bagus, di dalamnya tertimbun kebusukan. Tiap hari ikut misa, tetapi hidupnya berlawanan dengan semangat Ekaristi. Yesus menghendaki kita berubah: meninggalkan kemunafikan dan menyamakan antara kata, sikap dan tindakan, dan tidak perlu ada yang disembunyikan.

3.Para murid diharapkan memiliki ketulusan hati, tidak menyembunyikan kebenaran, tidak takut menyampaikan kebenaran, dan tidak boleh menyimpan untuk dirinya sendiri, tetapi harus menyebarkannya kepada orang lain.

4.Dan tidak perlu takut terhadap penderitaan karena mewartakan kebenaran Kristus. Takut terhadap penderitaan berarti menolak kebenaran. Barangsiapa memisahkan diri dari Kristus karena takut akan penderitaan, akan hilang untuk selama-lamanya. Mengapa kita tidak perlu takut? Karena hidup kita berada di tangan Allah. Anda takut sebagai murid Kristus?

Kamis, 18 Oktober 2018

Renungan Harian GML : MENGANDALKAN ALLAH DAN MEMULIHKAN NILAI-NILAI MASYARAKAT

Kamis, 18 Okt 2018, St. Lukas

MENGANDALKAN ALLAH DAN MEMULIHKAN NILAI-NILAI MASYARAKAT

BACAAN
2Tim 4:10-17a – “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku”

Luk 10:1-9 – “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya”

RENUNGAN
1.Lukas, yang pestanya kita rayakan hari ini, satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang berasal dari  bukan orang Yahudi. Hal tersebut sudah menjadi rencana Allah untuk menjadikan Lukas penulis Injil dan Kisah Para Rasul. Ia menerima rahmat khusus untuk menjadi bagian penting Gereja sepanjang sejarah. Mengapa kita diberi rahmat untuk boleh mengenal Kristus, sedangkan banyak orang tidak memperolehnya? Jawabannya: Allah menghendaki. Dan hal itu merupakan rencana Allah bagi kita.

2. “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Kalau Yesus menganggap para rasul seperti domba, mengapa Ia mengutus mereka ke tengah para serigala? Yesus ingin menguji iman para rasul. “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?” Jawab mereka: “Suatu pun tidak.” (Luk 22:35). Para murid diajak untuk mengandalkan penyelenggaraan Allah, bukan pada ketrampilan dan talenta.

3. "Yesus, Engkau andalanku" (MS,berkat.id)

Rabu, 17 Oktober 2018

Renungan Harian GML : SPIRIT ORANG PARISI DAN AHLI TAURAT VERSUS SPIRIT YESUS

Rabu, 17 Okt 2018, St. Ignasius dari Antiokhia

BACAAN
Gal 5:18-25 – “Barangsiapa menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”

Luk 11:42-46 – “Celakalah kamu, hai orang-orang Parisi .... “

RENUNGAN
1.Yesus mengecam orang-orang Parisi dan ahli Taurat. Mereka, sebagai pemimpin umat Israel, tidak mau mendengarkan Sabda Allah, bahkan menyesatkan orang-orang yang ingin menuju jalan Allah. Karena menekuni Hukum dan Taurat, maka mereka merasa diri sebagai sumber kebijaksanaan dan kebenaran yang harus didengar. Tetapi ada masalah dengan mereka: tidak memiliki belas kasih.

2.Orang-orang Parisi dengan cermat dan tertib membayar persepuluhan hanya demi dipuji orang, tetapi tidak ada perhatian terhadap mereka yang miskin, bahkan menganggap mereka sebagai kelompok terkutuk. Karena merasa paling hebat, mereka dipenuhi dengan kesombongan, gila hormat, dan suka merendahkan orang lain yang tidak segolongan.

3.Yesus membandingkan mereka dengan kuburan yang tanpa tanda. Kuburan merupakan gambaran kecemaran. Kebusukan orang-orang Parisi menjangkiti orang-orang lain, termasuk duabelas murid Yesus, dengan gagasan-gagasan yang salah tentang Allah, tetapi orang lain tidak mengetahui dan tidak menyadarinya. Ini berbahaya.

4.Dalam Yesus, esensi Hukum dan Ajaran adalah cinta kasih kepada Allah dan orang lain. Tuhan adalah cinta dan segala sesuatu yang Dia buat mengalir dari cinta. Cinta adalah berkorban, berbelas kasih, berbagi, memeluk dan mengangkat beban-beban orang lain.

5.Siapakah orang-orang Parisi dan para ahli Taurat pada zaman sekarang ini? Jangan-jangan aku 😄

Selasa, 16 Oktober 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG WELAS ASIH

Selasa, 16 Okt 2018, St. Margareta Maria Alacoque, St. Hedwig

*BACAAN*
Gal 4:31b-5:6 – “Bagi orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat sama sekali tidak mempunyai arti. Yang berarti hanyalah iman yang bekerja oleh kasih”

*Luk* 11:37-41 – “Berikanlah isinya sebagai sedekah, dan semuanya akan menjadi bersih bagimu”

*RENUNGAN*
1.Setelah mendengarkan pengajaran Yesus, seorang Parisi mengundang makan di rumahnya. Tapi Yesus tidak mengubah kebiasaan-Nya, yaitu *tidak mencuci tangan* sebagai syarat menurut adat. Dengan cara itu, Yesus dianggap tidak taat hukum. Terjadilah saling kritik antara Yesus dan orang Parisi, tanpa dibuka ruang dialog.

2. *Yesus mengkritik* mereka, karena di balik ketaatan terhadap ritual keagamaan tersebut, mereka *menyembunyikan* *kejahatan* yang tidak pernah mereka persoalkan, yaitu tidak pernah berbelas kasih dan memberi derma kepada orang-orang miskin, bahkan menyingkirkan mereka dari tengah masyarakat.

3.Yesus mendesak agar mereka *berbelas kasih*  dan memberi *derma* kepada orang-orang miskin. Yesus ingin menekankan *perubahan batin,* sehingga orang memiliki hati yang rela, murah hati dan berbelas kasih. Dengan sikap demikian, orang tidak perlu cemas dan takut terhadap hal-hal yang datang dari luar. Belas kasih dan derma juga mampu menetralisir keserakahan, nafsu menggarong, korup, dan merampok, sehingga tidak ada ruang di dalam hati kita untuk iri hati, sombong dan congkak. Bagaimana dengan Anda?

Senin, 15 Oktober 2018

Renungan Harian GML : BERTOBAT DAN TERUS BERTOBAT

Senin, 15 Okt 2018, St. Theresia Avila


*BACAAN*
Gal 4:22-24.26-27.31-5:1 – “Kita bukanlah anak-anak dari wanita hamba, melainkan dari wanita merdeka”

Luk 11:29-32 – “Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus”

*RENUNGAN*
1.Orang-orang Israel dan para pemimpin mereka hampir tiap hari mendengarkan pengajaran dan menyaksikan mukjizat Yesus, namun mereka *tidak* pernah menyesal dan bertobat, apalagi untuk mengikuti Yesus. Maka sudah sepantasnya  Yesus berkata: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.”

2.Berbeda dengan orang-orang Ninive. Ketika mendengar peringatan Allah lewat nabi Yunus, mereka *bertobat*.

3.Orang-orang Israel *menolak* pesan pewartaan Yohanes, sekarang mereka *menolak* pesan Yesus, Yang Diurapi atau Mesias. Sesungguhnya *Allah pun kesal* terhadap  Israel. “Sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang *tegar tengkuk*” (Kel 32:9), bangsa yang *keras hati* (1Sam 6:6), “Pikiran mereka telah menjadi *tumpul*, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka” (2Kor 3:14). Dan Simeon telah menubuatkan tentang Yesus: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau  membangkitkan banyak orang di Israel” (Luk 2:34), tetapi bangsa Israel *tetap menolak Yesus*, bahkan membunuh-Nya.

4.Lewat peristiwa sehari-hari, Tuhan selalu *mengingatkan* agar kita bertobat, namun banyak dari antara kita yang tidak mau mendengarkan peringatan dari Allah, “sehingga dosa mereka bertambah-tambah” (Yes 30:1). Bukan pertobatan, justru malah kesombongan yang terjadi, merasa diri benar dan lebih hebat dibanding orang lain. Pengakuan sebagai orang Kristen dan baptisan yang kita terima belum menjadi jaminan keselamatan, jika kita tidak mau bertobat. (berkat.id)

Rabu, 10 Oktober 2018

Renungan Harian GML : Doa Bapa Kami


Hari Biasa, Pekan Biasa XXVII

Bacaan Injil
Luk 11:1-4
Tuhan, ajarlah kami berdoa.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat.
Ketika Ia berhenti berdoa,
berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya,
"Tuhan, ajarlah kami berdoa,
sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya."

Maka Yesus berkata kepada mereka,
"Bila kalian berdoa, katakanlah:
'Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya,
dan ampunilah dosa kami,
sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."



Renungan :
Kita pasti sudah menghafalnya sejak kita masih kecil. Namun saat ini, saya ingin fokus pada satu bagian Doa Bapa Kami, “Dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu.” Kata-kata ini seringkali dipandang sebagai sebuah kata ajakan kepada Bapa agar Ia memuliakan nama-Nya dan mendatangkan kerajaan-Nya di tengah-tengah kita. Namun, seringkali kita juga lupa bahwa kata-kata ini pun sebenarnya sebuah kalimat imperatif (ajakan) untuk kita yang mendoakannya. Dengan Doa Bapa Kami, Yesus tampaknya mengajak kita untuk mengkonkretkan apa yang kita doakan.

Ini berarti bahwa: (1) “Dimuliakanlah nama-Mu” dalam tindakan-tindakanku sehari-hari. Lalu pertanyaannya, “Apakah sikapku dalam keseharian sudah dapat dikatakan memuliakan Tuhan?”; dan (2) “Datanglah kerajaan-Mu” yang penuh damai itu di tengah-tengah kami yang diwujudkan secara konkret melalui sikapku yang selalu membawa damai untuk lingkungan dan orang-orang di sekitarku. Inilah tantangan kita saat ini, di tengah-tengah dunia yang penuh dengan “hoaks” dan “kebencian” di mana-mana.

“Apakah aku mau memuliakan dan menghadirkan kerajaan-Nya dengan nyata saat ini dan di sini?” Inilah ajakan Tuhan pada kita saat ini.

Selasa, 09 Oktober 2018

Renungan Harian GML : DOA MERUPAKAN DARAH KEHIDUPAN DALAM RELASI DENGAN YESUS

Selasa, 9 Okt 2018


BACAAN
Gal 1:13-24 – “Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku. Agar aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa lain”

Luk 10:38-42 – “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya”

RENUNGAN
1.”Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.” Duduk membaca Firman Tuhan, merenungkannya dan berdoa, bagi kebanyakan orang jaman sekarang, merupakan kesia-siaan dan tidak membantu apa pun untuk proyek-proyek mereka. Bagi mereka “time is money,” baca Kitab Suci, berdoa adalah “wasting-time” dan “useless.”

2.Bagaimana sikap kita? Perhatikan kata-kata Tuhan: “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Sikap untuk bisa seperti Maria adalah mencintai Tuhan  dan tekun duduk di kaki Tuhan, terutama di saat kita sedang mengalami kesulitan. Ketekunan akan meningkatkan iman. Jika kita bertekun, kita akan mendapatkan apa yang kita perlukan.

3.Apakah kita sering kecewa ketika doa permohonan kita tidak dikabulkan? Apakah ketika berdoa, kita terbuka terhadap kehendak Allah? Yang harus kita sadari adalah jika kita tidak melihat hasil dari doa, tidak berarti bahwa Tuhan tidak mendengarkan. Tuhan selalu memberi kesempatan dan akan sering melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada apa yang kita inginkan. Allah pasti melakukan yang terbaik bagi kita, walaupun hal itu tidak seluruhnya sesuai dengan rencana kita. Kita tidak pernah akan tahu atau menyadari tanda-tanda khusus bagaimana Tuhan mendengarkan doa-doa kita. Kita hanya bisa menerima dalam iman. (www.berkat.id)

Senin, 08 Oktober 2018

Renungan Harian GML : MENCINTAI ORANG LAIN SEPERTI YESUS

Senin, 8 Okt 2018


*BACAAN*
Gal 1:6-12 – “Injil yang kuberitakan itu bukanlah Injil manusia”

Luk 10:25-37 – “Siapakah sesamaku?”

*RENUNGAN*
1.Dalam Taurat Yahudi tertulis bahwa mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan menjadi hukum utama (Im 19:18; Ul 6:5). Tetapi dalam keseharian, mereka mempraktekkan hukum balas dendam: “mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Kel 21:24). Yesus menghendaki perubahan hukum secara total. Yesus menghendaki  kita memiliki cinta persaudaraan, mencintai orang lain, mencintai siapa saja tanpa memandang siapa mereka, sebagaimana telah Ia tunjukkan di kayu salib. Apakah aku juga berusaha mencintai orang lain seperti Yesus?

2.Mungkin, kita sama seperti orang Yahudi: mengasihi Allah dan mentaati hukum-hukum-Nya, tetapi ketika kita harus mencinta orang lain, bahkan terhadap orang yang paling dekat sekali pun, banyak gagal. Mereka banyak menderita karena ketidak sabaran, kemarahan dan  kurangnya kontrol pada diri kita. Mengapa hal ini bisa terjadi?

3.Yesus juga meminta agar kita mencintai musuh-musuh kita. Hal ini dicontohkan oleh seorang Samaria yang menolong seorang Yahudi yang dirampok. Orang Samaria tersebut tidak lain adalah gambaran Yesus sendiri. Inilah cinta, di mana Yesus menghendaki untuk kita lakukan: cinta tanpa batas seperti yang Ia lakukan di Salib. “Pergilah, dan perbuatlah demikian!.” (MS,berkat.id)

DOA SALAM MARIA



1). Doa Salam Maria terdiri dari 3 bagian yang tidak terjadi seketika. Doa Salam Maria membutuhkan waktu sekitar 15 abad untuk sampai pada bentuknya sekarang ini.

2). *Bagian pertama*: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu.” Kalimat pertama doa Salam Maria ini diambil dari salam Malaikat Gabriel yang diutus Allah untuk mengabarkan kelahiran Yesus. Mulai abad ke-6, umat Kristen mulai mendaraskan salam malaikat itu sebagai penghormatan bagi ibu Yesus. Kata-kata itu berbunyi: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu.” Kata-kata ini mirip salam malaikat dalam Luk 1:28: Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

3). *Bagian kedua*: “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.” Ungkapan ini menyadur seruan Elisabet: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:48). Mulai abad ke-12, umat Kristen berdoa: “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu. Amin.” Belum ada kata Yesus.

4). Kapan kata “Yesus” ditambahkan ke dalam doa Salam Maria? Kata “Yesus” baru ditambahkan pada abad ke-13, sehingga berbunyi “terpujilah buah tubuhmu Yesus.”

5). *Bagian ketiga*: “Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.” Bagian ketiga doa Salam Maria ini diresmikan untuk seluruh Gereja oleh Paus Pius V pada tahun 1568.

6). Apa peranan Maria dalam doa-doa kita? Maria adalah seorang manusia di antara kita. Kita tidak berdoa mohon kepada Maria untuk mengabulkan doa-doa kita. Tidak. Dalam doa, kita berdoa bersama Maria. Kita minta tolong kepada Bunda Maria untuk membawa dan mengantarkan doa-doa permohonan kita kepada puteranya, Yesus Kristus. Yesus, sebagai anak, akan sangat berkenan dengan permintaan bunda-Nya. Pertolongan Bunda Maria sangat nyata bagi umat Allah.

7). Walaupun kita minta pertolongan Bunda Maria, fungsi pengantaraan Kristus utuh tak tergantikan, karena Dia adalah Sang Sabda dan tinggal di antara kita. Jadi, dalam berdoa, kita berdoa kepada Allah, sebagai asal mula dan tujuan hidup kita, dengan pengantaraan Kristus, dan dalam persekutuan dengan RohKudus.
(MS, berkat.id)

Rabu, 03 Oktober 2018

SEJARAH ROSARIO



1.Doa Rosario menjadi kesukaan umat Katolik. Rosario merupakan pendarasan  misteri iman: peristiwa Gembira, Sedih, Mulia, dan Cahaya. Dengan peristiwa-peristiwa tersebut, kita mengenangkan Inkarnasi Tuhan, pewartaan-Nya di hadapan public, sengsara dan wafat-Nya, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian, berdoa Rosario membantu kita untuk tumbuh dalam penghayatan akan misteri-misteri yang kita renungkan. Dalam doa Rosario, kita mohon bantuan Bunda Maria yang akan menghantarkan kita kepada Putranya.

2.Manik-manik dalam Rosario untuk membantu orang menghitung jumlah doa Bapa Kami atau Salam Maria. Maka disebut manik-manik Pater Noster (Bapa Kami). Mengapa disebut demikian? Karena, pada abad ke-12, mereka yang mendaraskan mazmur hanyalah para rahib dan para imam, sedangkan umat yang tidak sekolah alias buta hurup, mendaraskan 150 Bapa Kami sebagai ganti mendaraskan 150 Mazmur.

3.Struktur Rosario mengalami perkembangan pada abad ke-12 dan ke-15. Pada waktu itu berdoa Rosario adalah mendaraskan 50 kali salam Maria untuk mengenangkan peristiwa “sukacita” dalam hidup Yesus dan Maria. Perkembangan lebih lanjut, dalam doa Rosario ditambahkan peristiwa “dukacita Maria” dan “sukacita surgawi”, sehingga jumlah salam Maria menjadi 150. Dan akhirnya doa 150 Salam Maria digabungkan dengan 150 kali Bapa Kami. Terlebih dahulu didoakan Bapa Kami diteruskan dengan Salam Maria, begitu sampai 150 kali.

4.Pada abad ke-16 diperkenalkan lima misteri Rosario didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa: Peristiwa GEMBIRA, mencakup: Maria menerima kabar gembira, Maria mengunjungi Elisabet, Yesus dilahirkan di Betlehem, Yesus dipersembahkan di dalam kenisah, dan Yesus diketemukan dalam Bait Allah. Peristiwa SEDIH, mencakup: Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakrat maut, Yesus didera, Yesus dimahkotai duri, Yesus memanggul salib-Nya, dan Yesus wafat di salib. Peristiwa MULIA, mencakup: Yesus bangkit dari mati, Yesus naik ke surga, Roh Kudus turun atas para rasul, Maria diangkat ke surga, dan Maria dimahkotahi di surga. Pada tahun 2002, Paus Yohanes Paulus II menetapkan peristiwa CAHAYA, mencakup Yesus dibaptis di sungai Yordan, Yesus menyatakan diri dalam perjamuan nikah di Kana, Yesus mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, Yesus dipermuliakan, dan Yesus menetapkan Ekaristi. Juga setelah penampakan Bunda Maria di Fatima pada tahun 1917, doa yang diajarkan Bunda Maria kepada anak-anak, ditambahkan pada akhir setiap misteri: “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka. Hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa jiwa-jiwa yang amat membutuhkan kerahiman-Mu.”

5.Doa Rosario menjadi semakin dikenal pada tahun 1500-an, teristimewa atas upaya Paus Pius V. Pada waktu itu kaum Muslim Turki menyerang “orang-orang kafir” Eropa Timur. Tahun 1521 Bulgaria dan Hungaria jatuh ke tangan Muslim. 1526 pasukan muslim berada di perbatasan Austria. Tahun 1570, Turki mengultimatum Venisia agar menyerahkan kepulauan Siprus. Venisia menolak dan terjadilah perang selama 11 bulan. Pada 1 Agustus 1571, Siprus takluk.

6.Paus Pius V mengorganisir suatu armada di bawah komando Don Juan dari Austria. Paus Pius V minta segenap umat beriman untuk mendaraskan doa Rosario dan mohon bantuan Bunda Maria di bawah gelar “Bunda Kemenangan”, memohon Tuhan menganugerahkan kemenangan kepada umat Kristiani. Tanggal 7 Oktober 1571 terjadi pertempuran di Lepanto. Dalam waktu 5 jam, kaum muslim dikalahkan. Sebagai ucapan syukur, setahun kemudian, Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Hari Raya Rosario, dan menganugerahi Bunda Maria dengan gelar: Bunda Penolong bagi Orang-orang Kristen.
(MS,berkat.id)

Renungan Harian GML : BERANI MENGIKUTI KRISTUS BERAPA PUN ONGKOSNYA

Rebo Legi, 3 Okt 2018


BACAAN
Ayb 9:1-12.14-16 – “Masakan manusia benar di hadapan Allah?”

Lluk 9:57-62 – “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi”

RENUNGAN
1.Seorang murid Kristus dengan sombongnya berkata:  “Aku akan mengikuti Engkau, ke mana pun Engkau pergi.” Ia ingin melakukan hal-hal yang besar bagi Kristus. Tetapi jawaban Kristus sangat mengejutkan: “... Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Mengikuti Yesus tidak ada romantismenya. Yang ada adalah jalan terjal nan sempit. Seorang isteri  sangat menyesal karena mendapati  suaminya seorang pemboros. Orang tua begitu berbunga-bunga atas kelahiran anak pertamanya, namun beberapa bulan kemudian diketahui bahwa anak tersebut menderita kelainan jantung. Bagaimana bila terjadi padaku?

2.Mengikuti Yesus tidak bisa ditawar-tawar dan harus siap. Orang tidak bisa beralasan: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Mengikuti Kristus tidak perlu menunggu saat baik, setelah pensiun atau ketika sudah kaya raya. Mengikuti Kristus harus menjadi prioritas. Setuju?

3.Mengikuti Kristus harus selalu mengarahkan pandangan ke depan demi menggapai Kerajaan Allah. “Setiap orang yang membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Menoleh ke belakang berarti menyimpang dan kehilangan arah.

4. Banyak orang tidak tahan terhadap jalan Yesus ini. Banyak orang berbelok arah dan meninggalkan Yesus. Bagaimana dengan anggota keluargaku? (MS,www.berkat.id)

Selasa, 02 Oktober 2018

Renungan Harian GML : *MALAIKAT PELINDUNG: PEMBANTU SURGAWI*

Selasa, 2 Oktober 18, Para Malaikat Pelindung


*BACAAN*
Kel 23:20-23a – “Malaikat-Ku akan berjalan di depanmu”

Mat 18:1-5.10 – “Malaikat mereka ada di surga, dan selalu memandang wajah Bapa-Ku di surga”

*RENUNGAN*
1.Para murid bertanya, siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga? Pertanyaan demi egonya sendiri:  ingin menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Pertanyaan yang tidak berkenan di hati Tuhan.  Kerajaan Allah dapat dibandingkan dengan sebuah keluarga. Kalau kita bertanya: “Siapa yang paling besar dalam keluarga?” dipastikan bahwa pertanyaan tersebut keliru. Pertanyaan yang dikehendaki Tuhan adalah: “Bagaimana aku menjadi anggota keluarga dengan lebih baik? Bagaimana aku menjadi seorang suami dengan lebih baik? …

2.Mengapa Tuhan menunjuk seorang anak kecil menjadi model? Karena kesederhanaannya dan kecederungannya untuk selalu percaya. Mereka mungkin tidak memahami apa yang dikatakan orang tuanya, tetapi ia menerima karena datang dari orang yang mencintainya. Demikian juga seharusnya terhadap Allah. Kita mungkin tidak mengerti secara penuh mengapa Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu, tetapi kita menerima, percaya dan terbuka terhadap-Nya. Bila kita kurang memiliki kepercayaan pada Allah, suatu saat kita bisa mengatakan tidak terhadap Allah.

3.Doa terhadap malaikat pelindung sangat populer di kalangan umat Katolik. Kita berdoa kepadanya, karena masing-masing dari kita memiliki malaikat pelindung. Malaikat kita mencerminkan cinta Allah yang selalu ingin melindungi dan menyelamatkan kita. Sebaliknya dunia ini selalu memasang ranjau-ranjaunya agar kita membuat langkah yang keliru dan terjebak. Malaikat kita akan membantu kita melewati lembah air mata ini. Pernahkah aku berdoa kepada malaikatku? *MS,berkat.id*

Senin, 01 Oktober 2018

Renungan Harian GML : YANG TERBESAR

Senin, 1 Okt 2018, St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus


*BACAAN*
Ayb 1:6-22 – “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan”

Luk 9:46-50 – “Yang terkecil di antara kamu, dialah yang terbesar”

*RENUNGAN*
1.Seandainya para murid memperhatikan Sang Guru, pastilah mereka tahu bahwa Kabar Gembira bukanlah usaha untuk meraih prestise dan pengakuan, tetapi  kerendahan hati dan pelayanan. Kenyataannya, para murid tidak memahami, malah berebut siapa yang paling besar. Apakah kita lebih baik daripada para murid? Kita mendengar atau membaca Kitab Suci dari tahun ke tahun, tetapi masih saja sombong; kita menganggap diri kita lebih baik atau lebih suci dari orang lain. Bagaimana Kristus memandang kita pada saat ini?

2.Yesus berbicara kepada mereka tentang penerimaan terhadap orang  yang paling lemah dan paling tak terlindungi. Yang dibutuhkan adalah kerendahan hati.  Dalam kehidupan sering terjadi seseorang mengekploitasi orang lain, mayoritas menindas minoritas, seorang boss menindas bawahannya. Bagaimana Aku memperlakukan orang lain? Apakah aku suka memiliki sifat diktator? Atau aku memiliki jiwa pelayanan seperti dikehendaki Tuhan?

3.Yohanes dan murid yang lain mencoba menghentikan seseorang yang melakukan perbuatan baik atas nama Yesus, karena orang tersebut tidak termasuk “kelompok kita.” Mereka merasa ditunjuk sebagai “polisi.” Bagi Yesus, yang penting adalah buah yang dihasilkan (Mat 7:16), bukan siapa yang melakukan. *Penting*: Jangan begitu cepat menghakimi tindakan orang lain. Kita harus bisa melihat nilai-nilai positip dan buah-buah yang dihasilkan. (MS,www.berkat.id)