GOA MARIA LAWANGSIH

Kulo meniko Abdi Dalem Gusti,
sendiko dawuh Dalem Gusti
image
Tentang,

Goa Maria Lawangsih

"Menemukan Tuhan dalam keheningan "

Goa Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Goa Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Paroki Administratif Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokasi Goa Lawangsih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

Me

Me

Suasana perarakan

Lantunan Ave Maria mengiringi perjalanan perarakan , sakral
Me

Peletakan Patung

Suasana peletakan patung Bunda Maria
Me

Suasana perarakan

Antusias Umat mengikuti perarakan lilin

SEJARAH

Me
Goa Pangiloning leres

Goa Pengiloning Leres adalah cikal bakal Goa Pengiloning Leres adalah cikal bakal Goa Maria Lawangsih, merupakan goa alam, namun hanya kecil. Letak Goa Pengiloning Leres yang berada di atas Gereja SPM Fatima Pelemdukuh, tidak terlalu jauh dari Goa Maria Lawangsih. Di samping goa, bertahtalah Patung Kristus Raja yang memberkati yang tingginya 3 meter.Goa ini (pangiloning leres) berada lebih tinggi daripada Gereja SPM Fatima. Legenda yang berkembang mengatakan bahwa bukit di Goa Pengiloning Leres ini adalah (Jawa: gedogan) kandang Kuda Sembrani. Banyak orang mengalami peristiwa bahwa hampir setiap Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon mendengar suara gaduh, (Jawa: pating gedobrak). Konon katanya, goa ini dulunya dipakai oleh para makhluk halus sebagai kandang kuda Sembrani. Hal ini terbukti dengan adanya sebuah mata air di bagian bawah bukit yang bernama “benjaran” yang berarti tempat minum kuda.

Me
Patung Kristus Raja

Di bawahnya terdapat Kapel (Gereja) yang sebagian dindingnya adalah Batu Karang (asli) yang ingin menunjukkan bagaimana Gereja yang dibangun Yesus di atas Batu Karang. Bila kita melihat segi arsitekturnya dari sisi luar Kapel,mungkin saja akan kalah bila dibandingkan dengan gereja yang terdapat di kota besar lainnya. Namun, bila kita masuk ke dalam Gereja kita akan melihat beberapa lukisan yang indah dimana Gerbang Kerajaan Surga tergambar indah di dinding. Adapula kisah pembangunan yang penuh perjuangan karena Gereja sulit mendapatkan tanah pada waktu itu. Namun sempat pula Romo YB. Mangunwijaya, Pr sempat meneliti dan mereka-reka arsitektur Kapel Stasi Pelemdukuh yang alami. Namun tidak ada informasi yang tepat, mengapa Romo YB. Mangunwijaya, Pr tidak melanjutkan arsitektur di Kapel tersebut.

Me
Sejarah lengkap

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi), namun setelah itu tidak ada perkembangan yang berarti sampai tahun 2008. Pada bulan Juli 2008 . Pembangunan Goa Maria Lawangsih untuk menjadi tempat berdoa (Panti Sembahyang) adalah atas inisiatif Romo Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan ini yaitu Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr, setelah beberapa kali masuk dan meneliti kemungkinan Goa Lawa menjadi tempat doa SELENGKAPNYA >>>

Me
Menemukan Tuhan Di dalam Keheningan

Kesan pertama para peziarah ketika kita datang adalah suasana hening yang menyejukkan hati, jauh dari keramaian. Suara gemericik air, kicauan burung, tiupan angin, udara yang sejuk akan membuat kita semakin mensyukuri indahnya ciptaan Tuhan. Suasana ini lah yang membawa kita pada suatu situasi yang sangat mendukung bila ingin memanjatkan doa.Keindahan GM ini bukan hanya struktur gua yang benar-benar gua tetapi sekaligus situasi doa yang muncul dari dirinya. Bila doa adalah tujuan dan hasil yang diinginkan orang saat pergi ke Gua Maria, GM Lawangsihpun dapat dikatakan sebagai “ conditio sine qua non “ dari doa si peziarah.

Me
Eksotisme Goa Alam

Kekhasan Goa Maria Lawangsih yakni eksotisme goa alamnya. Goa ini sungguh merupakan goa alam kedua di Keuskupan Agung Semarang setelah Goa Maria Tritis Wonosari, Gunungkidul. Seperti yang kita ketahui, tidak banyak tempat doa yang berupa goa yang merupakan goa alami. Goa Lawangsih merupakan salah satu goa alami, goa ini cukup besar, lengkap dengan sungai kecil yang mengalir di dalam goa dan dihiasi oleh stalaktit stalagmit yang indah.Di belakang Patung Bunda Maria, terdapat lorong goa yang sangat panjang, dalam dan indah dengan stalagtit dan stalagmit yang mempesona, di dalamnya juga terdapat sumber air yang mengalir tiada henti, jernih dan sejuk, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar goa Maria. Kelak air ini akan ditampung dan dijadikan tempat “menimba air kehidupan” dan untuk kebutuhan sehari-hari. Sungguh ajaib, Bunda Maria juga memberikan berkatNya

Me
Disinilah saat aku Hening

Salah satu Kelebihan struktur Goa Maria Lawangsih mampu memberikan efek yang sangat dasyat ,Inilah gua. Saat mencoba masuk lebih dalam, hanya keheningan yang muncul. Suara di dalam adalah keheningan. Tak ada suara selain diam. Suara sedikit "mbengung" mendominasi telinga. Dalam suasana seperti itu, manusia diajak bertemu dengan dirinya sendiri. Di depan tempat Doa, ditempatkan patung Yesus."Disinilah saat aku Hening",keheningan, hasrat ingin lama berdoa ,menjadi tempat yang membantu orang, dengan keheninganya, untuk menemukan Tuhan.

Me

SLAKA

SLAKA : Sholawat Katolik merupakan salahsatu Inkulturasi Gereja terhadap Budaya Jawa ,biasanya di adakan malam jumat kliwon setiap bulan Mei
Me

SLAKA SABDO SUCI

Paguyuban Kesenian Tradisional Sloka (sholawatan katolik) Sabda Suci. Paguyuban ini kurang lebih memiliki anggota 30 orang, yang range umurnya cukup jauh (dr muda sampai tua)
Me

sekilas slaka

Kesenian Sloka mengajak kita mendalami dan menghayati babad suci atau kitab suci perjanjian lama dengan melagukan secara tradisional, mulai dari kisah penciptaan sampai menjelang kelahiran Yesus, sehingga sloka berisi tentang nabi-nabi, sejarah, dan nabi besar yang tertuang dalam kitab suci perjanjian lama.
Me

sekilas slaka

Peralatan yang digunakan sangat sederhana, dibuat seperti pada awal mula dibentuknya paguyuban ini, misalnya kendang : kendang yang digunakan adalah kendang buntung, bukan kendang batangan, yang merupakan warisan nenek moyang.
ARTIKEL

Renungan Harian GML : Tanggapan Tegas

Jumat, 30 Nop 18, St. Andreas, Rasul

BACAAN
Rom 10:9-18 – “Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran dari firman Kristus”
Mat 4:18-22 – “Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja merayakan pesta St. Andreas Rasul. Bersamaan dipanggilnya Andreas, dipanggil pula Simon (Petrus), Yakobus, dan Yohanes. Mereka dijadikan penjala manusia. Seperti mereka, masing-masing dari kita pasti memiliki sejarah panggilan sebagai orang beriman.

2.Tuhan Yesus memanggil kita untuk menjadi murid-Nya, dan Tuhan menghendaki tanggapan kita. Tanggapan yang dikehendaki Tuhan adalah cinta. Cinta kepada Allah merupakan pilihan dari semua pilihan, sekaligus sebagai prioritas. Jika kita mencintai Tuhan  melebihi diri kita, kita dapat mengikuti Dia. Jika kita lebih memilih Dia di atas aktifitas dan kehidupan kita, kita dapat mengikuti Dia. Jawaban cinta seperti apa yang layak kita berikan kepada Tuhan?

3. Tuhan menghendaki kita untuk memilih. Setiap pilihan untuk Tuhan, harus menyingkirkan pilihan-pilihan lain. Kita tidak dapat mengikuti seseorang tanpa meniggalkan sesuatu dan seseorang yang lain. Simon dan Andreas meninggalkan jala mereka, Yakobus dan Yohanes meninggalkan perahu dan orang tua mereka. Kita selalu berusaha mengikuti Kristus tetapi tanpa mau meninggalkan sesuatu dan yang lain: dunia, kesenangan-kesenangan, dan pilihan-pilihan yang menyesatkan. Dengan cara ini, iman kita dalam bahaya. Kalau kita memilih Kristus, maka harus berani menyingkirkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan Dia. Beranikah aku?

Renungan Harian GML : SAAT YANG MENAKUTKAN

Kamis, 29 Nop 2018

BACAAN
Why 18:1-2.21-23; 19:1-3.9– “Kota raja Babilon jatuh”
Luk 21:20-28 – “Yerusalem akan dinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah”

RENUNGAN
1.Bagi orang Yahudi, Yerusalem adalah Kota Abadi yang tak penah akan hancur. Tetapi tahun 70 Yerusalem benar-benar dihancurkan musuh. Kehancuran Yerusalem merupakan gambaran akhir zaman. Pada zaman kita ini di mana-mana muncul peperangan, terorisme, gempa bumi, banjir, kelaparan yang membuat hidup ini semakin cemas dan susah. Orang-orang saleh dan tidak berdosa pun menderita. Tuhan tidak merencanakan semua penderitaan ini, tetapi Tuhan mengijinkan hal itu terjadi karena Tuhan menghargai kebebasan kita. Bagaimana kita telah menggunakan kebebasan?

2.Kehancuran Yerusalem tidak berarti Tuhan meninggalkan dunia ini. Dengan kehancuran Bait Allah dan Yerusalem, kita memiliki pusat baru penyembahan yaitu Kristus, yang benar-benar hadir di dalam Ekaristi. Pusat perhatian adalah Kristus dalam tabernakel, tetapi hanya sedikit jiwa yang mengerti kebenaran tersebut. Setelah 2000 tahun, Yesus tetap rendah hati, membiarkan diri berada dalam tabernakel. Apakah kenyataan ini berpengaruh terhadap sikap kita ketika berada dalam gereja?

3.Mengikuti Kristus memberi kita jaminan bahwa hidup kita memiliki arti. Semua perjuangan menghidupi Injil akan mendapatkan penghargaan. Pada akhir zaman kita menyesali banyak hal, tetapi kita tidak pernah akan menyesali apa yang telah kita buat bagi Kristus. Apakah kebenaran ini membimbing hidup kita tiap hari?

Renungan Harian GML : HARGA MAHAL YANG HARUS KITA BAYAR

Rabu, 28 Nop 2018

BACAAN
Why 15:1-4 – “Mereka melagukan nyanyian Musa dan nyanyian Anak Domba”
Luk 21:12-19 – “Karena nama-Ku kamu akan dibenci semua orang. Tetapi tidak sehelai pun rambut kepalamu akan hilang”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berbicara tentang penganiayaan orang-orang beriman. Perlawanan dari dunia merupakan harga yang harus dibayar oleh para pengikut Kristus. Yesus mengingatkan bahwa mereka akan ditangkap, disiksa, dan dibunuh karena nama-Nya. No pain, no gain. Bagi kita, tidak ada alasan untuk takut, tetapi harus bersukacita karena  kita memiliki pengharapan karena iman.

2. Penindasan tidak perlu menjadi hal yang fatal atau alasan untuk putus asa dan mengingkari Kristus, tetapi menjadi saat untuk bersaksi tentang Kabar Gembira. Tuhan menghendaki agar kita menggunakan semua talenta kita untuk membangun dan mewartakan Kerajaan Allah. Kita dituntut untuk percaya sepenuhnya bahwa kemenangan kebaikan terhadap keburukan adalah milik Tuhan.

3.” Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat.”Jika kita berada dekat dengan Kristus dalam doa dan perbuatan, Ia, pelan-pelan, akan mengambil alih hidup kita. Dengan demikian egoisme kita makin menghilang dan hati kita tumbuh; kita mati terhadap diri sendiri. _“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil_” (Yoh 3:30).

4.Dalam situasi sulit tersebut, Kristus satu-satunya pengharapan. _“Tidak sehelai pun dari ramput kepalamu akan hilang.”_ Tuhan juga menguatkan, _“Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya”_ (Luk 9:24). 

 

Renungan Harian GML : MARANATHA – DATANGLAH, TUHAN YESUS

Selasa, 27 Nop 2018

BACAAN
Why 14:14-20 – “Sudah tiba saatnya untuk menuai, sebab tuaian di bumi sudah masak”
Luk 21:5-21– “Tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain”

RENUNGAN
1. Injil hari ini bicara tentang akhir jaman. Bagi orang-orang Yahudi, Bait Allah di Yerusalem merupakan pusat keagamaan dan budaya Yahudi. Di dalam Bait Allah terdapat tempat kudus, di mana tersimpan Tabut Perjanjian. Orang-orang begitu bangga terhadap Bait Allah, tetapi Yesus mengingatkan mereka bahwa saatnya akan tiba dan Bait Allah akan dihancurkan. Namun demikian akhir dari Bait Allah bukanlah akhir dari agama. Yesus  tetap akan menyertai kita, sebagaimana telah Ia buat di dalam Ekaristi. Semuanya akan berakhir, namun Kristus tetap tinggal.

2. Yesus tidak menjawab ketika ditanya kapan Bait Allah akan dihancurkan, tetapi minta kepada para pendengarnya apa yang sungguh-sungguh penting, yaitu iman mereka. Tuhan mengingatkan mereka untuk tidak mendengarkan orang yang salah. Sekarang ini, lewat tv, radio, dan medsos, banyak orang menawarkan “kebahagiaan” dan “keselamatan.” Kita harus mencermati, mengkritisi dan menyaring. Orang yang kita ikuti akan mempengaruhi kualitas hidup kita – dan bahkan kualitas kehidupan kekal kita. “Janganlah kamu mengikuti mereka.”

3. Sekarang sering terjadi serangan teroris, gempa bumi dahsyat, banjir bandang, kecelakaan hebat yang menewaskan banyak orang. Jika kita mengalaminya, dunia seperti kiamat dan hilanglah segala pengharapan. Hari kiamat akan terjadi, tetapi bagi kita bukan merupakan hari yang menakutkan, melainkan sukacita, karena puncak keselamatan disampaikan kepada kita. “Maranatha” – “Datanglah, Tuhan Yesus.”

4. Sikap iman yang harus kita bangun adalah percaya dan setia kepada Kristus dalam situasi apa pun, selalu melakukan perbuatan belas kasih, dan terus menerus mewujudkan pertobatan nyata.



KING OF GLORY KING OF PEACE





Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi dalam hari Minggu Biasa ke-34. Minggu terakhir dalam lingkaran Tahun Liturgi B, ini juga dirayakan sebagai Hari Raya Kristus Raja Semesta Allah. Perayaan ini memberi kesimpulan pada perayaan sepanjang tahun liturgy dan mempersiapkan untuk masuk ke Tahun Liturgi C yang akan dimulai dengan Hari Pertama Adven pada minggu yang akan datang. Waktunya berjalan begitu cepat dan kita sudah akan masuk ke Tahun yang baru. Perayaan ini mengajak kepada kita sekalan bahwa Tuhan Yesus selalu menyertai kita sepanjang Tahun yang sudah kita lalui dan akan tetap menyertai kita di Tahun yang akan kita jelang. Pesta ini menjadi populer di dalam Gereja sejak tahun 1925 pada zaman Paus Pius XI. Fokus perayaannya adalah sebagai hari Minggu terakhir dalam tahun liturgi dan juga untuk menyiapkan umat untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus Raja kita yang akan mengadili orang yang hidup dan mati. Bersama penginjil Yohanes kita diajak untuk menjawab pertanyaan Pilatus: Jadi Engkau adalah raja?” Dan jawabannya adalah ya, Yesus adalah Raja, bukan saja raja orang Yahudi tetapi raja semesta alam: “Utuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran;..” Dalam pemahaman dari Kisah Penciptaan, kita diarahkan untuk mengerti arti dari “raja semesta alam” dan “kebenaran” yang dimaksud oleh Yesus. Pada proses penciptaan, manusia dicipta sebagai yeng terakhir, sesudah semua alam raya diciptakan. Untuk penciptaan manusia itu, Tuhan menghendaki agar diciptakan mereka segambar dengan Dia. Seturut gambar Allah diciptakannya mereka. Kepada manusia itu pun kekuasaan diberikan oleh Tuhan untuk mengelola: ”Baiklah Kita menjadi manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan ….segala binantang yang merayap di bumi.” (Kej 1:26). Sesudah penciptaan manusia itu, pada hari ketujuh Tuhan beristirahat. Kebenaran Sang Raja semesta Alam telah ditetapkan sejak penciptaan itu bahwa manusia menjadi “gambar dan rupa Allah” dan bahwa manusia itu diberi kekuasaan atas isi bumi. Allah beristirahat, tetapi selanjutnya manusia menjadi wakil Allah untuk terus melanjutkan karyanya atas dunia. Yesuslah yang menyatakan kebenaran sempurna sebagai “Gambar Allah” dan “Yang menampakkan karya Allah” itu.   Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini membantu mengarahkan kita kepada figur Yesus sebagai raja semesta alam. Daniel dalam bacaan pertama memiliki visi ini: “Tampak seorang seperti Anak Manusia datang dari langit bersama awan gemawan. Ia menghadap Dia Yang Lanjut Usianya dan diantar ke hadapanNya. Ia diserahi kekuasaan, kehormatan, dan kuasa sebagai raja.” Visi atau penglihatan Daniel ini menarik perhatian kita karena menggambarkan Anak Manusia, sebuah gelar yang juga di miliki oleh Yesus (Mat 8:20; Mrk 2:10; Luk 5:23: Yoh 3:13). Anak manusia datang dalam kemuliaan dinaungi awan gemawan. Memang awan adalah shekina atau gambaran bahwa Tuhan hadir di sana dengan segala kemuliaanNya. Ia menghadap Dia yang lanjut usia menunjukkan ketaatan sebagai Putera kepada Bapa. Dan karena ketaatanNya itu maka segala kukasaan dan kehormatan serta kuasa sebagai raja dianugerahkan kepadaNya. KerajaanNya pun tidak akan berakhir karena segala bangsa dan kaum tunduk kepadaNya. KekuasaanNya kekal dan kerajaanNya takkan binasa. Bacaan kedua dari Kitab Wahyu, menggambarkan bahwa Kristus sebagai Raja melepaskan umatNya dari belenggu dosa. Kristus adalah saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi. Dia menjadikan kita sebagai sebuah Kerajaan dan menjadi imam-imam bagi Allah BapaNya. Semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Memang Dia adalah Alfa dan Omega. Dialah yang awal dan akhir, kekal selamanya. Dalam bacaan Injil Yesus mengakui dirinya secara terang-terangan bahwa Dia adalah Raja. Menjawab pertanyaan Pilatus, “Jadi Engkau adalah raja?” Yesus dengan tegas menjawab, “Engkau mengatakan bahwa Akulah Raja! Untuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran akan mendengar suaraKu”. Dalam percaturan dunia yang mengedepankan “pencarian kedudukan” dan “posisi-posisi kekuasaan” perayaan Kristus Raja Semesta Alam menohok kita untuk bertanya diri. Apakah kita tidak termasuk dalam kelompok pejuang-pejuang raja duniawi yang menghalalkan segala cara demi kedudukan dan kehormatan diri? Sudahkah kita mengambil bagian dalam ke-“Raja”-an Kristus: benar-benar menjadi “Gambar Allah” yang menampakkan karya keselamatan-Nya di bumi? Kerajaan Kristus nyata di dalam: perhatian kepada “orang miskin”, kesembuhan kepada “orang sakit”, perdamaian kepada “yang bertikai”, dan harapan kepada “yang putus asa”,  membawa kelegaan bukan “keonaran”, kejujuran dan bukan “hoax’ untuk membenarkan diri, “melayani” dan bukan untuk dilayani. Salam Pancasila: Kita Bhinneka Kita Indonesia. (Rm. Y. Purwanta MSC)

Renungan Harian : Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam



(Yoh 18:33b-37)

Hari Raya ini ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925. Beliau menginginkan ada sebuah Pesta untuk memperingati “Kristus Raja Semesta Alam” untuk seluruh Gereja. Ada konteks historis (sejarah) di balik Pesta ini. Pada tahun-tahun itu, Paus dan seluruh dunia masih berduka atas Peristiwa Perang Dunia I yang menghancurkan kehidupan. Setelah perang berakhir, ternyata masih banyak “Raja-Raja yang Eksploitatif” di dunia ini yang masih berkuasa, yaitu Kolonialisme, Konsumerisme, Nasionalisme Sempit, Sekularisme, dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya. Dari konteks inilah, Paus menetapkan Hari Raya ini.

Paus Pius XI ingin menekankan bahwa Raja bagi Orang Kristen adalah Kristus sendiri. “Aku adalah Raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran (Yoh 18:37a).” Ketika melihat situasi dunia yang jauh dari ideal, Kristus hendaklah menjadi panutan – Raja kita satu-satunya. Raja yang jauh dari “gambaran dunia mengenai kuasa”. Raja yang lahir di kandang – jauh dari kecemerlangan dunia. Ia yang mau dan mampu merasakan penderitaan orang lain – penderitaan manusia. Raja yang dihadapkan pada Pilatus. Raja yang nantinya akan disalibkan dan mati. Namun, pada akhirnya Sang Raja bangkit dari mati dan membawa harapan bagi dunia dan alam semesta bahwa segala bentuk “perusakan” baik terhadap manusia dan bumi ini, pada akhirnya akan berakhir. Dan, usaha itu perlu diwujudkan pula oleh kita mulai dari sekarang dengan cara meniru Sang Raja (Kristus itu sendiri) dengan berusaha “menghargai setiap kehidupan dan alam sekitar kita.” Inilah inti dari Pesta kita hari ini. Inilah kebenaran itu - "mencintai setiap bentuk kehidupan dan alam sekitar". “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku (Yoh 18:37b).”

Rm Nikolas K.  SJ

Renungan Harian GML : JESUS, I TRUST IN YOU

Setu Pon, 24 Nop 2018


BACAAN
Why 11:4-12 – “Kedua nabi itu telah merupakan siksaan bagi semua orang yang diam di atas bumi”
Luk 20:27-40 – “Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”

RENUNGAN
1.Hidup sesudah mati merupakan realitas yang sama sekali berbeda. Kita tidak memiliki kemampuan untuk membayangkannya. Jauh melampaui pikiran kita. Ada yang menganggap bahwa hidup sesudah kematian sama seperti hidup di dunia ini, maka ketika ada yang meninggal, keluarganya yang masih hidup mengirimkan “mobil,” “uang,” “perabotan.” Malah ada yang begitu hakul yakin bahwa setelah kematian, dia akan mendapat seorang bidadari untuk dikawini, dan makan makanan lezat secara gratis.

2.Yesus memberikan pandangan jelas tentang hidup sesudah kematian: _“Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.”_

3.Kita memiliki jaminan kehidupan sesudah mati ketika kita mampu menanggapi cinta Allah. Jika kita hidup dalam cinta kasih, kita tidak perlu cemas tentang apa yang ada “di seberang sana.” Hidup kita sesudah kematian akan ditentukan oleh hidup kita sekarang ini. Pertanyaannya: Apakah aku percaya sepenuhnya (trust) pada Yesus?

Renungan Harian GML : RUMAH TUHAN ADALAH KUDUS

Jumat, 23 Nop 2018


BACAAN
Why 10:8-11 – “Aku menerima kitab itu dan memakannya”
Luk 19:45-48– “Rumah-Ku telah kamu jadikan sarang penyamun”

RENUNGAN
1.Sesampainya Yesus di Yerusalem, tujuan utamanya adalah memasuki Bait Allah. Disertai para murid-Nya, _“tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah.”_ Namun didapati-Nya, Bait Allah telah menjadi sarang para preman, dan para pedagang telah menguasai semua area Bait Allah. Dengan keadaan ini fungsi ekslusif Bait Allah sebagai tempat penyembahan telah hilang. Maka Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah.

2. Yesus menuntut perubahan total terhadap Bait Allah dengan cara memurnikan Bait Allah dari hal-hal negatip dan mengembalikan fungsi aslinya, yaitu sebagai *tempat menyembah Allah.* Untuk itu pada pedagang harus diusir, seperti dinubuatkan nabi Zakaria, “tidak akan ada lagi pedagang di rumah Tuhan, ketika Hari itu datang” (Zak 14:21). Para imam kepala, ahli Taurat merasa dirugikan oleh tindakan Yesus ini. Maka mereka berusaha keras bagaimana membunuh Yesus.

3.Gereja tempat kita beribadah harus kita anggap sebagai Bait Allah yang kudus. Maka hal yang sangat esensial ketika kita memasuki gereja, terlebih saat misa pada hari Minggu adalah keheningan, penyembahan dan doa. Hal ini sangat penting karena kita menghadap Allah, di mana Dia berada dalam tabernakel sebagai tawanan cinta yang ingin berdialog dengan kita. Bagaimana jadinya kalau kita sendiri telah menjadikan gereja sebagai sarang penyamun, dengan tidak hormat lagi ketika berada dalam gereja, ngobrol, main hp, dan berpakaian yang mendegradasi fungsi gereja menjadi mall?

Renungan Harian GML : MEMBANGUN HIDUP BERPONDAMEN KRISTUS

Kamis, 22 Nop 2018, St. Sisilia

BACAAN

Wahy 5:1-10 – “Anak Domba telah disembelih dan dengan *darah-Nya telah menebus kita* dari segala bangsa”

Luk 19:41-44 – _“Andaikan engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu”_


RENUNGAN

1.Hidup ini menjadi indah karena banyak pilihan. Kita diberi kebebasan, dan kita bisa memilih untuk melakukan banyak hal. Kita dapat memilih di mana kita akan bekerja, ke mana kita akan berakhir pekan, siapa teman-teman kita. Tetapi *pilihan yang paling penting adalah apakah kita mencintai dan melayani Allah atau menolak Dia. Memilih Allah dan jalan-jalan-Nya akan memberikan arah dan tujuan kepada kehidupan kita dan memberikan kejelasan ketika kita berada dalam kegelapan dan pencobaan.


2.Tetapi untuk siap di hadapan Tuhan, berada dalam jalan-Nya  dan mengarahkan tujuan hidup kita kepada-Nya, begitu sulit bagi kebanyakan dari kita. Tuhan berkata kepada para murid-Nya: _“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan”_ (Mt 26:41).


3.Kehidupan rohani seperti sebuah benteng. Sebuah benteng memiliki titik-titik kuat namun juga memiliki titik-titik lemah. Kuat karena ia dikelilingi parit, dinding batu yang tinggi, dan menara, tetapi juga memiliki titik lemah karens pintu yang hanya terbuat dari kayu. Masing-masing dari kita memiliki kelemahan.  Sejauh mana kita tahu kelemahan kita? Salah satu kunci untuk mampu mengatasi kelemahan dan dosa adalah mengetahui dan menyadari siapa diri kita. Kesadaran diri akan membuat kita mampu menolak kecenderungan untuk kompromi terhadap situasi dosa. Kita dapat menggunakan titik-titik kuat untuk memerangi musuh dan membetengi area yang paling lemah. Dan senjata yang paling kuat adalah ketergantungan kita pada Allah – yang kita ungkapkan lewat doa dan kesetiaan pada kehendak-Nya.

Renungan Harian GML : IMAN MAMPU MENGUBAH SEGALANYA

Senin, 19 Nop 2018

BACAAN
Why 1:1-4;2:1-5a – “Sadarilah, betapa dalamnya engkau telah jatuh, dan bertobatlah!”
Luk 18:35-43 – “Apa yang kau inginkan Kuperbuat bagimu? Tuhan, semoga aku melihat”

RENUNGAN
1.Seorang buta duduk di tepi jalan. Ia tidak bisa ikut dalam perarakan mengiringi Yesus. Ia hanya bisa berteriak: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Teriakan yang mengganggu dan menjengkelkan banyak orang, sampai mereka harus menegornya. “Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya.” Mereka yang jengkel justru disuruh untuk menolongnya. Makin jengkel. “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Tidak cukup mendengar teriakan, tetapi harus tahu mengapa mereka berteriak. Jawab orang buta itu: “ Tuhan, supaya aku dapat melihat!”

2. ”Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Ia dapat melihat dan mengikuti Yesus menuju Yerusalem sambil memuji Allah. Berjalan bersama Yesus telah menjadi sumber keberanian untuk menuju kemenangan Salib.

3. Iman merupakan kekuatan yang mengubah manusia. Sabda Tuhan merupakan pupuk yang membuat biji yang tersimpan dalam hati manusia tumbuh, berkembang, dan berbuah. Dan orang beriman tahu bagaimana percaya kepada Yesus, menyangkal diri, dan mengikuti-Nya (Luk 9:23-24), tahu bagaimana menjadi yang terakhir (Luk 22:26), tahu bagaimana meminum piala dan memanggul salibnya (Mat 20:22; Mrk 10:38), tahu bagaimana mengikuti Yesus sepanjang Jalan Salib (Luk 18:43). Bagaimana imanku?

Renungan Harian GML : SUKACITA MENGHARAPKAN AKHIR ZAMAN

Minggu, 18 Nop 2018, HMB XXXIII

BACAAN

Dan 12:1-3 – “Pada waktu itu bangsamu akan terluput”

Ibr 10:11-14.18 – “Oleh satu kurban saja Kristus telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”

Mrk 13:24-32 – “Ia akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru dunia”


RENUNGAN

1. Kedatangan Anak Manusia, atau sering disebut akhir zaman, akan terjadi. Kapan akan terjadi, kita tidak perlu tahu. Saat ini kita hidup dalam zaman Gereja, saat di mana rahmat penyelamatan kita sebarkan ke seluruh dunia. Pada akhir zaman, Kristus datang untuk membawa umat manusia sampai pada puncaknya. Maka saat Kristus datang, kita tidak usah takut bila kita sudah melaksanakan amanat Kristus. Lain halnya jika kita mengikuti zaman edan dan bumi gonjang-ganjing, bersiaplah untuk gelisah dan takut.


2. Siap siaga dan berjaga-jaga karena kita tidak tahu kapan waktunya tiba. Berjaga-jaga berarti mengikuti cara hidup Yesus dan misi-Nya: bertekun dalam doa, mengasihi, melayani, mengampuni, dan mengandalkan seluruh hidup kita hanya kepada Yesus. Dengan melakukan tugas panggilan secara sungguh-sungguh, seorang murid sedang memenuhi perintah Tuhan untuk berjaga-jaga. Baginya akhir zaman tidak menakutkan.


3. Setiap orang beriman yang terlena, acuh tak acuh, dan tidak tergerak akan kedatangan Tuhan adalah celaka. Bagaimana kesiapanku?

Renungan Harian GML : PENGADILAN ALLAH: TERGANTUNG RELASI KITA DENGAN KRISTUS

Jumat, 16 Nop 2018

BACAAN

2 Yoh 1:4-9 – “Barangsiapa setia kepada ajaran, dia memiliki Bapa maupun Putera”

Luk 17:26-37 – “Kapan Anak Manusia akan menyatakan diri”


RENUNGAN

1.Pada jamannya Nuh dan Lot, pengadilan Allah turun atas manusia. Bagi kita sekarang ini, secara riil, pengadilan Allah terjadi saat kita meninggal. Orang Katolik meyakini tiga keputusan Allah: Surga, Neraka, atau Api Penyucian. Maka tanggapan kita terhadap kehendak Allah, dari hari ke hari, menentukan ke mana aku akan menuju.


2.Dalam suatu bencana, orang hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mengumpulkan barang-barang yang ia miliki. Mereka yang berusaha mencari barang-barangnya justru akan mendapat celaka. Demikian juga pada Pengadilan Terakhir – dan juga pada saat kematian kita. Pertanyaannya: apakah kita kedapatan siap ketika Tuhan datang? Apa yang paling berharga bagi kita? Apakah kita, dari hari ke hari, berani  menyangkal diri, tidak terbelenggu atau bersikap lepas bebas terhadap barang-barang yang kita miliki? Apakah kita menjadi lebih mencintai, melayani, dan selalu bersama Kristus?


3.”Di mana, Tuhan?” Hal itu terjadi di mana saja kita berada. Apakah itu saat kematian kita atau saat Pengadilan Terakhir, realitasnya sama. Faktor yang sangat menentukan adalah relasi kita dengan Kristus selama kita di dunia ini. Mari kita menjadikan relasi dengan Kristus sebagai prioritas hidup kita melalui doa yang teratur.

Renungan Harian GML : BERSYUKUR: YANG PALING TINGGI DARI SEMUA DOA

Rabu, 14 Nop 2018

BACAAN
Tit 3:1-7 – “Dahulu kita sesat, tetapi berkat rahmat-Nya, kita diselamatkan”
Luk 17:11-19 – “Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing itu?”

RENUNGAN
1.Orang-orang lepra, waktu itu, selalu diasingkan dan dilarang bergaul dengan masyarakat. Harapan mereka satu-satunya hanyalah Kristus.Kepada-Nya mereka mohon dengan sangat dan mendesak. Mereka berdiri dari kejauhan, mengakui ketidakberdayaan mereka dan memohon belas kasihan. Mereka mendapatkan apa yang mereka minta dan Tuhan menyembuhkan mereka, dan mereka pergi dengan puas.Tetapi hanya satu yang kembali untuk bersyukur. Berarti hanya satu yang diselamatkan.

2. Mengapa syukur kita begitu penting bagi Tuhan? Dengan bersyukur kita kembali kepada Allah dan Allah patut mendapatkannya. Para orang kusta, dalam situasi tidak berdaya, hanya bisa minta. Kalau kita ini jujur, sebenarnya *hidup kita seperti orang kusta di hadapan Tuhan. Kita hanya bisa meminta belas kasihan-Nya*. Bila kita menerimanya dan tidak bersyukur, kita seperti 9 orang kusta yang tidak tahu balas kasih. Tuhan ingin menyelamatkan kita dari sikap tidak tahu bersyukur tersebut dan mengubahnya menjadi anak-anak-Nya yang selalu bersyukur.

3.Bila kita selalu bersyukur, kita menjadi seorang pemberi,  dan Tuhan akan menempatkan kita selevel lebih tinggi, yaitu menjadi orang yang pantas menerima pemberian lebih banyak lagi. Seperti seorang lepra tadi, ia mendapat keselamatan dan relasi akrab mesra dengan Tuhan. Dengan selalu bersyukur, kita diharapkan menjadi kawan sekerja Allah dalam karya-karya keselamatan. Jadi dengan bersyukur, kita menerima banyak berkat bagi jiwa kita sendiri,  keluarga kita, orang lain, bahkan bagi jiwa-jiwa berdosa dan malang.



Renunfan Harian GML : HAMBA TAK BERGUNA

Selasa, 13 Nop 2018


BACAAN
Tit 2:1-8.11-14– “Hendaklah kita hidup saleh sambil menantikan kebahagiaan yang kita harapkan, yaitu penampakan Allah dan penyelamat kita Yesus Kristus”
Luk 17:7-10 – “Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”

RENUNGAN
1.Seberapa sering kita dicaci maki orang lain karena kelakuan kita? Dan ketika kita dicaci maki, kita mengeluh dan marah. Mengapa? Karena kita sombong, tidak mau instropeksi diri. Siapa aku di hadapan Tuhan? Aku adalah seorang hamba yang hina dan berdosa, kecil dan tergantung.  Dari Tuhan, kita menerima sangat banyak dan menerima apa saja yang kita butuhkan. Tetapi mengapa kita masih sering mengeluh kepada-Nya, bahkan protes bahwa Tuhan itu tidak adil?

2.Sebagai manusia, secara jujur, kita lebih menuntut hak daripada kewajiban kita. Seperti anak-anak yang ingin dipenuhi keinginannya, suami atau isteri yang menuntut untuk dihargai, dan kita menuntut bahwa pemerintah harus memenuhi segala kebutuhan kita. Bahkan Tuhan pun kita paksa memenuhi kebutuhan kita. Yang kita selalu lupa adalah kita telah menerima segala sesuatu dari Tuhan dan kita berutang segala sesuatu kepada-Nya. Walaupun Kristus telah menjadi hamba demi kita, darah-Nya tertumpah demi keselamatan kita, Ia tidak pernah merasa berhutang kepada kita. Maka relasi kita dengan Tuhan harus didasari atas rasa syukur; bersyukur dan bersyukur.

3.Yesus berkehendak membebaskan kita dari belenggu kesombongan. Kita diharapkan memiliki hati seorang anak Allah, yaitu pelayanan, syukur dan terima kasih, hormat, dan ketaatan pada Allah. Walau pun orang jaman sekarang semakin mengabaikan keutamaan-keutamaan tersebut, namun kita  dituntut untuk menjadi yang terkemuka dalam keutamaan-keutamaan Allah. Melakukan kehendak Allah tanpa menuntut upah. Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (MS,berkat.id)

Renungan Harian GML

Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi dalam renungan hari Minggu Biasa ke-32 Tahun B. Saya tertarik untuk mengajak kita sekalian merenungkan bacaan-bacaan hari ini mulai dari Bacaan Kedua: Surat Kepada Orang Ibrani. Rasul Paulus menyampaikan kepada kita peran Kristus Sang Imam Agung dan alasannya. Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Kita ingat dalam renungan sebelumnya bahwa imam-imam di Bait Allah harus berulang-ulang mempersembahkan korban karena ia harus mempersembahkan korban pepulih dosa untuk dirinya sendiri baru kemudian untuk umatnya dan lagi yang dipersembahkan adalah darah binatang korban dan bukan darahnya sendiri. Yesus Kristus cukup sekali saja mempersembahkan korban sebagai pepulih bagi dosa kita manusia karena ia mempersembahkan darah-Nya sendiri. Ia yang tidak berdosa telah mati untuk menanggung dosa banyak orang. Karena itu Ia menjadi pengantara, hakim, dan juruselamat bagi mereka yang menantikan-Nya.  Bacaan Pertama menyampaikan bagaimana nabi Elia meyakinkan janda di Sarfat itu untuk percaya akan firman Tuhan. Dan janda itupun percaya dan berbuat seperti yang dikatakan Elia. Mereka pun mengalami pemeliharaan Tuhan yang luar biasa. Tepung yang sedianya hanya cukup untuk perempuan itu dan anaknya makan sekali dan lalu akan mati, ternyata menghidupi mereka dan Elia, tidak berkurang sampai beberapa waktu lamanya. Pada Bacaan Injil, Yesus mengingatkan para murid agar tidak terpana dengan penampilan ahli Taurat dan orang parisi yang terhormat, yang bisa dan biasa memberi persembahan dari kelimpahannya untuk dilihat. Janda miskin itu dipuji oleh Yesus karena “ia memberi dari kekurangannya, semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya” Karena hidup-Nya hanya melaksanakan kehendak Allah, Kristus telah menyerahkan diri-Nya seutuh-utuhnya sehingga menjadi Imam Agung sekali untuk selamanya. Karena percaya akan firman Allah melalui Elia, janda di Sarfat itu mendapatkan pemeliharaan Allah. Karena percaya akan Allah, janda miskin itu memberikan seluruh nafkahnya menjadi persembahan dan menerima berkat dari Tuhan. Saudari-saudara sekalian, ada yang mengatakan bahwa tidak ada yang menjadi miskin karena banyak memberi dan juga tidak ada yang menjadi kaya karena kikir dan curang. Kesediaan untuk membantu yang datang dari hati berdasarkan rasa syukur kepada Tuhan dan belaskasih kepada sesama akan menjadi berkat bagi keduanya yang membantu maupun yang dibantu. Kedua janda itu dapat memberikan bukan karena mereka berkelebihan, malahan sebaliknya mereka berkekurangan. Namun karena mereka penuh percaya kepada Firman Tuhan, mereka melakukannya juga. Dan mereka terberkati. Saudari-saudara sekalian, dalam semangat iman yang sama dengan para ibu janda itu marilah kita juga membuka hati untuk setiap peranserta dan persembahan kita kepada Tuhan dalam turut memperhatikan saudari-saudara yang membutuhkan. Semoga kita boleh turut sera mengambil bagian dalam karya imamat Yesus Kristus demi kesejahteraan dan keselamatan setiap orang yang kita jumpai. Tidak perlu menunggu kaya untuk bisa memberi; karena kekayaan itu adalah hatimu. Bukan jumlah yang berbicara. Bantuan sekikit maupun banyak dari segala kekurangan yang diberikan dari hati akan membawa banyak berkat. Pemberian banyak yang tidak disertai dengan ketulusan dan belaskasih di hati hanya berguna untuk sementara saja. Dalam kesatuan pengharapan dalam iman kepada Tuhan, kita dipanggil dan diutus untuk menjadi berkat bagi sesama. Amalkan Panca Sila, Kita Bhinneka Kita Indonesia. Betapa indah menjadi berkat bagi sesama.(rm pur msc)

Renungan Harian GML : TIDAK SETENGAH-SETENGAH DAN TOTAL

Jumat, 9 Nop 18, Pemberkatan Gereja Basilik Lateran


BACAAN
Yeh 47:1-2.8-9.12 – “Aku melihat air mengalir dari dalam Bait Suci; ke mana saja air itu mengalir, semua yang ada di sana hidup”
1Kor 3:9-11.16-17– “Kamu adalah tempat kediaman Allah”
Yoh 2:13-22 – “Bait Allah yang dimaksudkan ialah tubuh-Nya sendiri”

RENUNGAN
1.Basilika (katedral) St. Yohanes Lateran, yang juga Katedralnya Paus di Roma, adalah “induk dan kepala semua gereja.” Dengan memperingati pemberkatan basilika St. Yohanes Lateran, kita hendak mengungkapkan kesatuan kita dengan Uskup di Roma, pemersatu Gereja dalam kasih Kristus. Betapa pun pencobaan yang dahsyat dari dunia, Gereja tetap akan kokoh selamanya. Dan kita yakin bahwa Tuhan selalu menyertai kita dalam peziarahan ini.

2.Walau pun Gereja kokoh kuat, tidak berarti tidak perlu melakukan pemurnian diri. Ketika Tuhan datang di Bait Allah Yerusalem, Tuhan menemukan banyak hal yang mengotori dan merusak spirit doa dan devosi. Sikap-Nya yang keras terhadap para pedagang, menggaris bawahi tentang kesucian yang diberikan oleh Allah kepada Bangsa Terpilih. Kita sebagai umat pilihan mewarisi untuk selalu menjaga kesucian tersebut dalam diri kita. Kita menyadari bahwa jalan hidup dunia banyak kali menggerogoti jiwa dan rohani kita, sehingga kita perlu menyucikan diri.

3.”Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Yesus tidak memberi tanda atau mukjizat seperti yang mereka minta, selain Kematian dan Kebangkitan-Nya. Dengan tanda tersebut, Yesus menggantikan Bait Allah dengan diri-Nya sendiri; satu-satunya Bait Allah, tempat Allah hadir dan umat manusia menyembah. Tidak setengah-setengah, tidak kompromi, dan total, itulah tanggapan yang pantas untuk menjadikan diri kita tempat Allah bersemayam.



Renungan Harian GML : ALLAH PEDULI

Kamis, 8 Nop 2018

BACAAN
*Flp 3:3-8a* – “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap merugikan karena Kristus”
Luk 15:1-10– “Akan ada sukacita pada malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat”

RENUNGAN
1. Bagi orang-orang Parisi dan para ahli kitab, siapa pun yang mereka cap sebagai pendosa, selalu mereka singkirkan dan mereka remehkan. Dari dulu sampai sekarang cap itu terbawa-bawa. Orang begitu mudah memberi cap “berdosa” dan kafir berdasarkan suku, agama, dan pandangan hidup. Pokoknya, apa saja dan siapa saja yang tidak sesuai dengan otak mereka, adalah kelompok tersesat, haram, dan kafir. Serem sekaligus menggelikan.

2.Cara pandang Yesus sungguh baru dan luar biasa. Satu orang yang tersesat harus dicari sampai ketemu. Biar pun hanya satu orang, tapi sangat berharga di mata Tuhan. Bagi yang merasa tersesat dan berdosa, Yesus adalah “penebus dan penyelamatku.” Nah, saat ini kita berada dalam kawanan Gereja. Masalahnya adalah: bagaimana caranya supaya kita tidak sampai tersesat dan hilang.  Tuhan, melalui Gereja-Nya, menyediakan banyak sarana bagi kita untuk sampai pada iman yang utuh: Sabda, Doa, Sakramen, Komunitas. Kita gunakan  saja sarana-sarana tersebut.

3.Tuhan tidak pernah gembira dengan hilangnya seseorang. Tuhan menghendaki semua orang diselamatkan dan dipulihkan persahabatannya dengan Allah. Inilah mengapa seluruh penghuni surga bersukacita ketika seorang yang tersesat diketemukan dan relasinya dengan Allah dipulihkan. Masih pedulikah Gereja (para rama dan umat) terhadap mereka yang tersesat dan hilang?

Renungan Harian GML : YESUS ADALAH SEGALA-GALANYA

Rebo, 7 Nop 2018

BACAAN
Flp 2:12-18 – “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan”

Luk 14:25-33 – “Demikianlah setiap orang di antaramu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”

RENUNGAN
1.Bacaan Injil hari ini sangat tegas dan keras, serta mudah disalahpahami. Namun harus diingat bahwa Yesus tidak pernah menganjurkan murid-murid-Nya untuk membenci seorang pun. Ia juga tidak bermaksud mengecilkan hati siapa pun yang mau mengikuti-Nya.

2.Terus apa maksud sebenarnya? Setiap orang yang mengikut Yesus harus segera, tidak bisa ditunda, memiliki komitmen dan kesetiaan total terhadap Yesus. Yesus adalah segala-galanya. Yesus menjadi ukuran satu-satunya untuk mengasihi orang tua, isteri, suami, anak-anak, bahkan nyawanya sendiri.

3.”Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” Artinya: setiap orang yang mengikuti Yesus harus menyerahkan kepentingan diri kepada Tuhan dan setia total mengikuti-Nya. Jadi, mengikuti Yesus itu sangat mahal, tidak mudah,dan sangat sukar. Maka bila seseorang ingin mengikuti Yesus harus berpikir serius tentang konsekuensi dan harga yang harus dibayar.

4.Melalui Salib, Yesus telah menyediakan bagi para murid-Nya kebahagiaan sejati, damai dan sukacita. Sejauh mana aku telah serius dan total mengikuti Yesus? Atau mengikuti Yesus dengan cara biasa-biasa saja? Atau malah sedang “jatuh”?

Renungan Harian GML : HIDUP YANG TIDAK MEMILIKI PRIORITAS

Selasa, 6 Nop 2018

BACAAN

Flp 2:5-11 – “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib”


Luk 14:15-24– “Pergilah ke semua jalan dan persimpangan dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh”


RENUNGAN

1.Saat paling membahagiakan adalah saat kita mengikuti pesta perjamuan bersama. Peristiwa penting dirayakan di sana, persahabatan tumbuh makin dalam, dan hubungan perelasian diperbarui. Perjamuan seperti tersebut sering dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan perjamuan surgawi. Dalam perjamuan surgawi, tidak penting kita akan duduk di mana. Yesus ingin duduk semeja dan berbicara dengan kita. Suasana yang indah, penuh sukacita dan persahabatan kekal.


2.Untuk sampai kepada perjamuan membutuhkan usaha, misalnya menyediakan waktu khusus, pakaian yang bagus, uang sumbangan. Bila kita malas untuk datang, maka berbagai alasan kita buat: sibuk, ada acara yang lebih penting. *Kita pun banyak alasan terhadap panggilan Tuhan. Terlalu malas untuk membaca Firman, pantat terlalu lancip untuk duduk berdoa, terlalu berat kaki untuk datang menuju tempat kegiatan lingkungan, tidak ada waktu untuk mengikuti misa di Gereja*. Bila hal ini terjadi, sejatinya kita tidak memiliki prioritas hidup, kehidupan rohani yang dingin dan dangkal.


3.Pesta perjamuan sudah siap, tetapi kita yang tidak siap. Mengapa tidak siap?

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH MILIK SEMUA ORANG

Senin, 5 Nop 2018


BACAAN
Flp 2:1-4 – “Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian sia-sia”

Luk 14:12-14 – “Bila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta”

RENUNGAN
1.Demi gengsi, nama baik dan martabat, bila kita mengadakan pesta nikah selalu mengundang orang-orang terpandang, para tokoh masyarakat, dan teman-teman dekat. Menjadi semakin wah bila para tamu datang dengan mobil-mobil mewah. Keren. Sumbangan pun pasti melimpah.

2.Mengapa Yesus minta agar kita mengundang semua orang, termasuk orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan yang tersingkirkan? Bila hal ini terlaksana, pasti heboh. Yang jelas tidak keren. Apa maksud Yesus? Yesus menggunakan perjamuan untuk melambangkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan milik orang-orang kaya, terpandang, dan milik keluarga, melainkan milik semua orang. Siapa saja, tanpa kecuali, berhak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

3. Yesus menantang kita untuk mengasihi dan bermurah hati terhadap mereka yang miskin, cacat, lumpuh, dan tersingkir. Mereka ini jarang mengalami perhatian dan kasih dari orang lain, karena keadaan mereka. Maka panggilan kita adalah mengasihi mereka dengan sepenuh hati, tulus dan rela tanpa minta balasan apa pun.

4.Murah hati berarti pengurbanan. Bermurah hati tidak akan mempermiskin kita, tetapi sebaliknya,  akan memperkaya jiwa dan hidup kita dan kita memperoleh bahagia yang akan dipenuhi “pada hari kebangkitan orang-orang benar.” “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”
 

Renungan Harian GML : MELAYANI DENGAN HATI

Sabtu, 3 Nop 2018, St. Martinus de Porres

BACAAN
Flp 1:18a-26 – “Bagiku hidup ialah Kristus dan mati keuntungan”

Luk 14:1.7-11 – “Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan”

RENUNGAN
1.Yesus menghadiri undangan makan yang diselenggarakan oleh seorang petinggi Parisi. Tetapi “semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan seksama.” Namun Yesus juga memperhatikan para tamu yang berusaha duduk di tempat yang paling terhormat. Dari sini Yesus membalikkan arti dihormati dan ditinggikan.

2.Kita seringkali melihat ada orang yang suka mempromosikan dirinya; suka bercerita tentang dirinya, jasa-jasanya,  kehebatannya sambil meremehkan orang lain, dengan harapan orang lain menganggapnya  hebat. Padahal, orang-orang di sekitarnya tidak senang mendengarkan ceritanya, bahkan  menjadi stress karenanya.

3.Namun ada juga orang yang tidak pernah cerita tentang dirinya sendiri. Ia hanya bekerja dan membantu orang lain. Ia tidak memiliki status sosial yang tinggi, dan tidak memiliki banyak ketrampilan kemasyarakatan, tetapi ia melayani dan membuat orang lain senang, bahagia dan semangat. Ketika ia merasa tidak penting lagi, ia mundur dan orang lain di sekitarnya akan sangat menghormati dia; ia mendapat tempat terhormat di hati setiap orang;

4.Tuhan berkata: “Barangsiapa meninggikan diri , akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan.” Aku termasuk yang mana? Apakah kita tidak boleh memenuhi ambisi kita dengan menjadi yang paling hebat dan terhormat? Yesus tidak berbicara tentang pemenuhan ambisi, melainkan berbicara tentang hati, yaitu bagaimana seseorang melayani orang lain dengan rela dan ikhlas, tanpa pamrih dan hanya demi kebahagiaan orang lain dan kemuliaan Allah. Orang seperti inilah yang akan dihormati dan ditinggikan.

Renungan Harian GML : HR SEMUA ORANG KUDUS: MENJADI KUDUS DAN MULIA BERSAMA ALLAH

Kamis, 1 Nop 2018

BACAAN
Why 7:2-4.9-14 – “Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya”

1Yoh 3:1-3 – “Kita akan melihat Kristus dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”

Mat 5:1-12a – “Bersukacita dan bergembiralah, karena besarlah ganjaranmu di surga”

RENUNGAN
1. Siapa para kudus? Mereka adalah persekutuan orang beriman (“Persekutuan para Kudus) yang telah mempercayakan dirinya kepada Tuhan Yesus dan disucikan oleh Darah Anak Domba. Selama hidup, mereka telah memelihara iman dengan baik sampai akhir pertandingan di dunia ini, sehingga mereka memperoleh ganjaran besar di surga.

2.Yang disebut bahagia menurut pandangan dunia adalah mereka yang kaya, berkuasa, dan  yang memuaskan diri dengan kepuasan duniawi. Menurut Yesus, yang disebut bahagia adalah mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hatinya, pembawa damai, yang dianiaya demi kebenaran, mereka yang dicela dan dicaci maki atas nama Kristus.

3.Mereka disebut bahagia karena mereka ini memberikan contoh sikap percaya dan mengandalkan Allah dalam situasi dan segala keperluan mereka. Yesus sendiri merupakan contoh Sabda Bahagia. Ia orang yang miskin (Mat 8:20), lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29), welas asih (Mat 12:16-21). Para kudus ini telah meneladani hidup Tuhan dengan sempurna, maka sudah selayaknya mulia bersama Allah dalam Kerajaan-Nya.

4. Mampukah kita menjadi kudus seperti dikehendaki Tuhan?

Hubungkan ke Facebook

Contact Us
Goa Maria Lawangsih
0852-9219-3234
Patihombo yogyakarta