Minggu, 25 November 2018

Renungan Harian : Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam



(Yoh 18:33b-37)

Hari Raya ini ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925. Beliau menginginkan ada sebuah Pesta untuk memperingati “Kristus Raja Semesta Alam” untuk seluruh Gereja. Ada konteks historis (sejarah) di balik Pesta ini. Pada tahun-tahun itu, Paus dan seluruh dunia masih berduka atas Peristiwa Perang Dunia I yang menghancurkan kehidupan. Setelah perang berakhir, ternyata masih banyak “Raja-Raja yang Eksploitatif” di dunia ini yang masih berkuasa, yaitu Kolonialisme, Konsumerisme, Nasionalisme Sempit, Sekularisme, dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya. Dari konteks inilah, Paus menetapkan Hari Raya ini.

Paus Pius XI ingin menekankan bahwa Raja bagi Orang Kristen adalah Kristus sendiri. “Aku adalah Raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran (Yoh 18:37a).” Ketika melihat situasi dunia yang jauh dari ideal, Kristus hendaklah menjadi panutan – Raja kita satu-satunya. Raja yang jauh dari “gambaran dunia mengenai kuasa”. Raja yang lahir di kandang – jauh dari kecemerlangan dunia. Ia yang mau dan mampu merasakan penderitaan orang lain – penderitaan manusia. Raja yang dihadapkan pada Pilatus. Raja yang nantinya akan disalibkan dan mati. Namun, pada akhirnya Sang Raja bangkit dari mati dan membawa harapan bagi dunia dan alam semesta bahwa segala bentuk “perusakan” baik terhadap manusia dan bumi ini, pada akhirnya akan berakhir. Dan, usaha itu perlu diwujudkan pula oleh kita mulai dari sekarang dengan cara meniru Sang Raja (Kristus itu sendiri) dengan berusaha “menghargai setiap kehidupan dan alam sekitar kita.” Inilah inti dari Pesta kita hari ini. Inilah kebenaran itu - "mencintai setiap bentuk kehidupan dan alam sekitar". “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku (Yoh 18:37b).”

Rm Nikolas K.  SJ

0 komentar:

Posting Komentar