GOA MARIA LAWANGSIH

Kulo meniko Abdi Dalem Gusti,
sendiko dawuh Dalem Gusti
image
Tentang,

Goa Maria Lawangsih

"Menemukan Tuhan dalam keheningan "

Goa Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Goa Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Paroki Administratif Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokasi Goa Lawangsih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

Me

Me

Suasana perarakan

Lantunan Ave Maria mengiringi perjalanan perarakan , sakral
Me

Peletakan Patung

Suasana peletakan patung Bunda Maria
Me

Suasana perarakan

Antusias Umat mengikuti perarakan lilin

SEJARAH

Me
Goa Pangiloning leres

Goa Pengiloning Leres adalah cikal bakal Goa Pengiloning Leres adalah cikal bakal Goa Maria Lawangsih, merupakan goa alam, namun hanya kecil. Letak Goa Pengiloning Leres yang berada di atas Gereja SPM Fatima Pelemdukuh, tidak terlalu jauh dari Goa Maria Lawangsih. Di samping goa, bertahtalah Patung Kristus Raja yang memberkati yang tingginya 3 meter.Goa ini (pangiloning leres) berada lebih tinggi daripada Gereja SPM Fatima. Legenda yang berkembang mengatakan bahwa bukit di Goa Pengiloning Leres ini adalah (Jawa: gedogan) kandang Kuda Sembrani. Banyak orang mengalami peristiwa bahwa hampir setiap Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon mendengar suara gaduh, (Jawa: pating gedobrak). Konon katanya, goa ini dulunya dipakai oleh para makhluk halus sebagai kandang kuda Sembrani. Hal ini terbukti dengan adanya sebuah mata air di bagian bawah bukit yang bernama “benjaran” yang berarti tempat minum kuda.

Me
Patung Kristus Raja

Di bawahnya terdapat Kapel (Gereja) yang sebagian dindingnya adalah Batu Karang (asli) yang ingin menunjukkan bagaimana Gereja yang dibangun Yesus di atas Batu Karang. Bila kita melihat segi arsitekturnya dari sisi luar Kapel,mungkin saja akan kalah bila dibandingkan dengan gereja yang terdapat di kota besar lainnya. Namun, bila kita masuk ke dalam Gereja kita akan melihat beberapa lukisan yang indah dimana Gerbang Kerajaan Surga tergambar indah di dinding. Adapula kisah pembangunan yang penuh perjuangan karena Gereja sulit mendapatkan tanah pada waktu itu. Namun sempat pula Romo YB. Mangunwijaya, Pr sempat meneliti dan mereka-reka arsitektur Kapel Stasi Pelemdukuh yang alami. Namun tidak ada informasi yang tepat, mengapa Romo YB. Mangunwijaya, Pr tidak melanjutkan arsitektur di Kapel tersebut.

Me
Sejarah lengkap

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi), namun setelah itu tidak ada perkembangan yang berarti sampai tahun 2008. Pada bulan Juli 2008 . Pembangunan Goa Maria Lawangsih untuk menjadi tempat berdoa (Panti Sembahyang) adalah atas inisiatif Romo Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan ini yaitu Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr, setelah beberapa kali masuk dan meneliti kemungkinan Goa Lawa menjadi tempat doa SELENGKAPNYA >>>

Me
Menemukan Tuhan Di dalam Keheningan

Kesan pertama para peziarah ketika kita datang adalah suasana hening yang menyejukkan hati, jauh dari keramaian. Suara gemericik air, kicauan burung, tiupan angin, udara yang sejuk akan membuat kita semakin mensyukuri indahnya ciptaan Tuhan. Suasana ini lah yang membawa kita pada suatu situasi yang sangat mendukung bila ingin memanjatkan doa.Keindahan GM ini bukan hanya struktur gua yang benar-benar gua tetapi sekaligus situasi doa yang muncul dari dirinya. Bila doa adalah tujuan dan hasil yang diinginkan orang saat pergi ke Gua Maria, GM Lawangsihpun dapat dikatakan sebagai “ conditio sine qua non “ dari doa si peziarah.

Me
Eksotisme Goa Alam

Kekhasan Goa Maria Lawangsih yakni eksotisme goa alamnya. Goa ini sungguh merupakan goa alam kedua di Keuskupan Agung Semarang setelah Goa Maria Tritis Wonosari, Gunungkidul. Seperti yang kita ketahui, tidak banyak tempat doa yang berupa goa yang merupakan goa alami. Goa Lawangsih merupakan salah satu goa alami, goa ini cukup besar, lengkap dengan sungai kecil yang mengalir di dalam goa dan dihiasi oleh stalaktit stalagmit yang indah.Di belakang Patung Bunda Maria, terdapat lorong goa yang sangat panjang, dalam dan indah dengan stalagtit dan stalagmit yang mempesona, di dalamnya juga terdapat sumber air yang mengalir tiada henti, jernih dan sejuk, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar goa Maria. Kelak air ini akan ditampung dan dijadikan tempat “menimba air kehidupan” dan untuk kebutuhan sehari-hari. Sungguh ajaib, Bunda Maria juga memberikan berkatNya

Me
Disinilah saat aku Hening

Salah satu Kelebihan struktur Goa Maria Lawangsih mampu memberikan efek yang sangat dasyat ,Inilah gua. Saat mencoba masuk lebih dalam, hanya keheningan yang muncul. Suara di dalam adalah keheningan. Tak ada suara selain diam. Suara sedikit "mbengung" mendominasi telinga. Dalam suasana seperti itu, manusia diajak bertemu dengan dirinya sendiri. Di depan tempat Doa, ditempatkan patung Yesus."Disinilah saat aku Hening",keheningan, hasrat ingin lama berdoa ,menjadi tempat yang membantu orang, dengan keheninganya, untuk menemukan Tuhan.

Me

SLAKA

SLAKA : Sholawat Katolik merupakan salahsatu Inkulturasi Gereja terhadap Budaya Jawa ,biasanya di adakan malam jumat kliwon setiap bulan Mei
Me

SLAKA SABDO SUCI

Paguyuban Kesenian Tradisional Sloka (sholawatan katolik) Sabda Suci. Paguyuban ini kurang lebih memiliki anggota 30 orang, yang range umurnya cukup jauh (dr muda sampai tua)
Me

sekilas slaka

Kesenian Sloka mengajak kita mendalami dan menghayati babad suci atau kitab suci perjanjian lama dengan melagukan secara tradisional, mulai dari kisah penciptaan sampai menjelang kelahiran Yesus, sehingga sloka berisi tentang nabi-nabi, sejarah, dan nabi besar yang tertuang dalam kitab suci perjanjian lama.
Me

sekilas slaka

Peralatan yang digunakan sangat sederhana, dibuat seperti pada awal mula dibentuknya paguyuban ini, misalnya kendang : kendang yang digunakan adalah kendang buntung, bukan kendang batangan, yang merupakan warisan nenek moyang.
ARTIKEL

Renungan Harian GML : KEKUATAN KESAKSIAN

Rabu, 26 Des 18, St. Stefanus, martir pertama


BACAAN
Kis 6:8-10; 7:54-59 – “Aku melihat langit terbuka”
Mat 10:17-22 – “Bukan kamu yang berbicara, melainkan Roh Bapamu”

RENUNGAN
1.”Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka” (Kis 7:60). Kata-kata St. Stefanus ini mengulangi apa yang dikatakan Tuhan. Stefanus telah menyatu hati dengan hati Tuhan. Ia begitu berkobar demi Tuhannya. Semangat ini telah membawa dia mengalami siksaan dan kematian seperti Kristus. Hatinya begitu terbakar akan Kristus, sehingga tidak dapat dibusukkan oleh kebencian. Seperti Tuhannya, ia hanya menghendaki keselamatan pagi para pembunuhnya. Sejauh mana cintaku kepada Kristus, dan bagaimana jika harus mengalami kebencian, siksaan dan salib?

2.Saulus menyaksikan ketika Stefanus dirajam. Saulus berpikir betapa membahayakan apa yang diajarkan oleh Stefanus. Apa yang disampaikan Stefanus benar, tetapi dia dihukum mati. Saulus, setelah nanti menjadi rasul Kristus Yesus, mengakui bahwa sebenarnya dirinya telah mati – mati nuraninya. Namun Allah begitu berbelas kasih. Tidak lama kemudian, Saulus diubah menjadi rasul Paulus. Yesus menerima doa Stefanus persis seperti ketika Bapa menerima doa Yesus. Sebagai murid Kristus, kita tidak perlu takut. Tuhan menerima doa-doa dan pelayanan kita.

3.Masa Natal merupakan saat paling tepat untuk mengubah hati yang keras menjadi hati yang lembut, ketika kita merenungkan wajah Allah yang penuh cinta dalam diri Bayi Kudus yang terbaring di palungan. Ia begitu mencintai kita tanpa batas. Dalam kesatuan dengan Tuhan yang lemah lembut, kita dapat menyingkirkan semua rasa sakit, luka batin masa lalu dan menemukan damai dan sukacita yang hanya datang dari Sabda yang menjadi Manusia. Stefanus telah mengalami semua ini, maka ia siap mengikuti Yesus lewat siksaan dan salib. Iman dan cinta kita kepada Kristus akan diuji ketika kita benar-benar menghadapi kesulitan, penderitaan, kegagalan, ancaman, diremehkan.

Renungan Harian GML : DAGING, KEMULIAAN, PEMBERIAN

Selasa, 25 Des 2018, HARI RAYA NATAL

BACAANYes 52:7-10 – “Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita”
lbr 1:1-6– “Allah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya”
Yoh 1:1-18– “Firman telah menjadi manusia”

RENUNGAN
1.Dalam tradisi lama, bagi kebanyakan keluarga Kristiani, Natal merupakan saat kedekatan satu sama lain. Mereka saling menyediakan waktu untuk yang lain. Dalam Natal ini, kita diajak untuk merenungkan dan mengagumi Bayi Kudus, Sabda yang sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita. Yang perlu kita refleksikan: apakah aku membiarkan diriku dekat dengan Kristus? Apakah aku telah mencintai Dia?
2.”Dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.” Bagi penginjil Yohanes, kemuliaan Tuhan yang memancar dalam wajah Kristus merupakan kemuliaan cinta. Dalam kemuliaan-Nya, Yesus mencinta; Ia mencintai kita. Betapa mengagumkan Allah kita. Kemuliaan Allah terletak pada kerendahan hati-Nya yang sedemikian sehingga Ia menjadi bayi mungil yang tergantung pada cinta kita. Kemuliaan-Nya termasuk ketika Ia merangkul Salib-Nya dan wafat demi cinta-Nya kepada kita. Apakah aku berani mencintai Allah sebagai balas kasih?

3.”…. Penuh kasih karunia dan kebenaran.” Kehadiran Kristus membawa cinta Bapa kepada dunia dan hidup kita. Cinta yang dibawa Kristus semata-mata rahmat atau pemberian dari Bapa, dan  tidak tergantung dari kita. Kita hanya menerima dan menyambut sebagai pemberian dari Allah. Apakah aku berani menjadikan hidupku sebagai hadiah dan berkat bagi orang lain, seperti yang telah Tuhan buat bagiku? 
----------------------------------------
Kepada semua saudara pembaca renungan ini, saya mengucapkan selamat NATAL. Semoga Kristus menjadi hikmat bagi kita semua.


Renungan Harian GML : PERJALANAN IMAN DAN CINTA

Jumat, 21 Des 2018, St. Petrus Kanisius

BACAAN
Kid 2:8-14– “Lihatlah, kekasihku datang, melompat-lompat di perbukitan”
Luk 1:39-45– “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

RENUNGAN
1.Maria merupakan model Advent; contoh bagaimana kita menyiapkan kedatangan Kristus. Allah Bapa telah menyiapkan Maria sedari awal ia dikandung untuk layak menjadi ibu Anak Allah. Seperti para gadis beriman Israel pada waktu itu, ia berdoa sepanjang masa mudanya untuk menyiapkan kedatangan Mesias. Ketika ia seorang perawan, doanya terjawab. Mesias tidak hanya menjadi anaknya, tetapi anaknya itu adalah Allah. Kesanggupan Maria terhadap malaikat Gabriel, merupakan persiapan kelahiran Yesus Mesias. Kita perlu memiliki sikap Maria ini agar Yesus Mesias hadir di dalam hati dan hidup kita, sehingga perayaan Natal memiliki buah berlimpah sebagaimana Natal pertama di Betlehem.

2.Setelah malaikat Gabriel selesai menyampaikan pesan Allah, Maria segera pergi menuju ke rumah Elisabet, saudaranya, yang mengandung untuk pertama kalinya, walaupun Gabriel tidak memerintahkan untuk pergi kepada Elisabet. Hanya karena cinta Maria yang begitu besar, yang membuat ia mengunjungi dan membantu Elisabet. Dan ia tidak takut bahaya dalam perjalanan. Bagi Maria, seseorang yang mencintai akan melakukan apa saja demi membantu orang lain, apa pun resiko yang harus ditanggung.

3.Dengan pergi menolong Elisabet, Maria, yang mengandung Yesus kecil dalam rahimnya, menjadi seorang misionaris  pertama, pembawa Kabar Gembira yang akan mengubah seluruh sejarah manusia. Maria membawa sukacita kepada Elisabet dan Yohanes Pembaptis yang masih dalam kandungan karena Maria membawa Kristus dalam rahimnya. Saking sukacitanya, Maria mampu mengidungkan Kidung Magnificat dengan hati meluap. Sukacita Natal hanya bisa kita sampaikan kepada orang lain, jika kita membawa Kristus kepada mereka. Kristus haruslah menjadi kado terbesar bagi orang lain yang kita cintai. Membawa Kristus kepada mereka, berarti kita membawa segala sesuatu.

Renungan Harian GML : YES

Kamis, 20 Des  2018

BACAAN
Yes 7:10-14– “Seorang perempuan muda akan mengandung”
Luk 1:26-38– “Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki”

RENUNGAN
1.Dalam pemberitahuan Kabar Sukacita ini, kita melihat catatan yang sangat rinci. Hal tersebut terjadi pada tempat tertentu dan orang tertentu. Begitulah rencana Tuhan. Tuhan juga memanggil masing-masing dari kita secara pribadi, karena Tuhan mengasihi kita sebagai anak-Nya. Apakah kita menanggapi panggilan ini secara pribadi seperti Tuhan memanggil kita?

2.Umat Allah, termasuk Maria, menanti cukup lama seorang Mesias. Namun Maria tidak membayangkan bahwa akan menjadi ibu Penebus. Kita sering penasaran, kapan Tuhan akan mengirim seseorang untuk menyelamatkan dunia sekarang ini? Sekarang ini dan di sini, melalui masing-masing dari kita. Dengan rahmat Tuhan, kita bisa membantu menyelamatkan dunia sesuai dengan panggilan dan rahmat yang diberikan Tuhan.

3.Menanggapi panggilan Tuhan, Maria hanya bisa menjawab ya – terjadilah padaku menurut perkataanmu itu. Dengan keterbukaannya terhadap  rencana Allah, akan membantu mengubah perjalanan sejarah manusia. Kita juga dipanggil untuk menjawab “yes” terhadap Allah untuk membangun budaya cinta. Masing-masing generasi memiliki sumbangannya untuk membangun Kerajaan Allah. Apakah masing-masing dari kita siap menjadi rasul Allah untuk zaman ini?



Renungan Harian GML : ZAKARIA YANG RAGU

Rebo Pon, 19 Des 2018

BACAAN
Hakim-hakim 13:2-7.24-25a– “Kelahiran Simson diberitahukan oleh malaikat”
Luk 1:5-25– “Kelahiran Yohanes Pembaptis diberitahukan oleh Gabriel”

RENUNGAN
1. Di dalam tempat kudus, ketika Zakaria mendapat giliran membakar ukupan, seorang malaikat Tuhan menampakkan diri. Zakaria dipersiapkan untuk menerima pesan Tuhan, namun ia ragu dan tidak percaya. Walaupun ia “hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” namun ia tidak bisa menterjemahkan ketetapan Tuhan ke dalam iman yang hidup ketika ia menghadapi situasi yang krusial. Kita semangat berdoa, tetapi skeptis ketika Allah minta sesuatu yang khusus dari kita.

2. Zakaria berpikir bahwa usianya akan menghalangi rencana Allah. Ia meremehkan kekuatan dan kuasa Allah. Dalam Kitab Suci, Tuhan memanggil orang-orang yang tidak mungkin: Musa yang gagap berbicara (Kel 4:10), Yeremia yang merasa terlalu muda (Yer 1:6), Petrus yang tidak berpendidikan (Kis 4:13), Saulus membenci orang-orang Kristen (Kis 9:1). Walau pun mereka merasa tidak mungkin menjadi nabi atau rasul, namun mereka membiarkan Allah menggunakan mereka. Kita pun seperti Zakaria. Bila Allah ingin memakai kita, kita terlalu banyak alasan: terlalu sibuk, terlalu tua, terlalu muda, merasa tidak layak. Kapan kita menyediakan diri untuk Tuhan?

3. Tuhan tetap jalan dengan rencana-Nya, walau pun Zakaria kurang beriman. Allah membangkitkan seorang bentara bagi kedatangan Putera-Nya, yaitu Yohanes Pembaptis. Dan Tuhan membuat Zakaria tidak bisa berbicara. Kita tidak perlu heran ketika Tuhan merancang hidup kita dengan cara yang luar biasa, bahkan ketika kita melawan Allah. Siapkah kita dipakai Tuhan?

Renungan Harian GML : ARTI HIDUP KITA YANG LEBIH DALAM

Senin, 17 Des 2018

BACAAN
Kej 49:2.8-10– “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda”
Mat 1:1-17 – “Silsilah Yesus Kristus, anak Daud”

RENUNGAN
1.Banyak orang mencoba melacak silsilah keluarga mereka untuk menentukan keaslian mereka. Pelacakan ini kadangkala mudah ketika keluarga mereka tinggal dalam satu kota atau satu negara. Membangun kembali pohon keluarga  merupakan suatu usaha untuk memperdalam pemahaman siapa mereka sebenarnya. Yesus tidak perlu atas studi terhadap silsilah-Nya. Tetapi satu hal yang terpenting adalah bahwa Ia datang dari Bapa dan taat terhadap kehendak Bapa. Kita juga datang dari Bapa yang menciptakan kita. Kita juga mempunyai sebuah missi untuk memenuhi bumi ini. Tetapi inilah yang memberi arti terhadap keseluruhan eksistensi kita, yaitu asal usul kita bersumber dari kasih Allah Bapa.

2.Dari silsilah Yesus ini, kita diajak kembali kepada  Abraham, bapak kita dalam iman. Allah telah menjanjikan kepada Abraham bahwa Ia akan menjadikan dia “bapa sejumlah besar bangsa” (Kej 17:4). Hal ini mau menunjukkan bahwa Allah selalu setia terhadap janji-janji-Nya. Yesus Mesias, anak Daud dan anak Abraham, merupakan pemenuhan segala sesuatu yang Allah telah janjikan. Maka rasul Petrus menyatakan, “keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12). Apakah kita telah menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan kita, baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, gembira maupun derita?

3.Manusia diciptakan untuk suatu kemegahan dan kejayaan. Ia diciptakan menurut gambar Allah. Dalam silsilah tadi, Allah tidak membuat manusia berakhir dalam sebuah tragedi. Maka Allah mengirim Anak-Nya ke dunia ini untuk membantu manusia agar memperoleh kembali kejayaannya, dengan cara mengangkat manusia menjadi anak-anak Allah. Sejarah manusia bukanlah jalan menuju ketiadaan, melainkan memiliki tujuan khusus, yaitu berada di surga bersama Allah. Maka tidak cukup hanya kagum bahwa kita berasal dari kasih Allah Bapa dan penyelamatan kita dalam Yesus. Kita dituntut bekerjasama dengan Roh Kudus dalam menyampaikan rencana Allah, yang harus kita mulai di dalam keluarga kita masing-masing, di tempat kerja kita, dan dalam masyarakat di mana kita hidup.

Renungan Harian GML : JALAN KETAATAN

Sabtu, 15 Des 2018

BACAAN
Sirakh 48:1-4.9-11– “Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu”
Mat 17:10-13– “Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia”

RENUNGAN
1.Orang-orang Yahudi mengharapkan kembalinya Elia yang akan menyiapkan jalan bagi Mesias terjanji. Tetapi mereka mengharapkan dia datang sebagai sosok maha agung, seseorang yang akan menyingkirkan penjajah. Namun mereka gagal mengenali Elia dalam diri Yohanes Pembaptis, yang penuh Roh Kudus, yang mengundang semua orang untuk bertobat agar bisa menerima Kristus, Mesias. Kita juga banyak kali gagal mengenali kehadiran Kristus dalam hidup kita karena kita mencari sesuatu yang lain yang tidak dijanjikan Kristus bagi para pengikut-Nya. Kristus tidak pernah menawarkan jalan yang mudah dan penuh penghiburan.

2.Mengapa Kristus lahir sebagai  bayi lemah di Betlehem? Karena, dengan cara itu, Ia dapat menderita bagi kita untuk menyelamatkan kita. Apa artinya? Hal itu menunjukkan bahwa penderitaan adalah sebuah rahmat yang datang dari Allah. Itulah wujud perhatian Allah yang ingin membentuk kita menjadi serupa dengan Putera-Nya. Salib adalah sumber kesuksesan kita dan  bagi tiap orang yang percaya.

3.Keinginan Kristus untuk memeluk penderitaan muncul dari ketaatan penuh cinta kepada rencana Bapa-Nya, tanpa batas dan tanpa syarat. Ketaatan penuh cinta inilah yang memberi nilai penebusan. Sejak saat kelahiran-Nya di Betlehem, Kristus menunjukkan kepada kita apa arti taat dengan penuh cinta. Betlehem merupakan sekolah ketaatan. Di Betlehem, Kristus mengajar kita bahwa hanya ketaatan yang penuh cintalah yang membebaskan, menyelamatkan, dan memperkaya  kehidupan. Hanya ketaatan seperti itulah yang menyelamatkan, membebaskan kita dari dosa dan menyenangkan hati Allah. Marilah kita berani memeluk ketaatan salib dalam kehidupan setiap hari, dalam pencobaan, dalam kesulitan hidup kita. Ketaatan yang penuh cinta adalah jalan menuju kesucian, jalan menuju rumah Bapa.

Renungan Harian GML : Tetap Berbuat Baik

Jumat, 14 Des 2018, St. Yohanes dari Salib


BACAAN
Yes 48:17-19 – “Ah, sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku”
Mat 11:16-19 – “Mereka tidak mendengarkan Yohanes Pembaptis maupun Anak Manusia”

RENUNGAN
1. Tidak ada seorang pemimpin, baik itu pemerintahan, perusahaan, atau Gereja *yang suka dikritik*. Hal yang sama terjadi pada jamannya Yesus. Yohanes Pembaptis dibenci, dipojokkan dan dianggap “kerasukan setan,” karena telah mengkritik para pejabat negara dan keagamaan. Yohanes dipenggal kepalanya. Yesus juga dikritik dan dicap sebagai “seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.”

2.Sangat banyak orang, dari dulu sampai sekarang, terlalu mudah mengadili Yesus. Kita pun juga sering terlalu mudah mengadili orang lain hanya karena hal-hal yang nampak kasat mata dan sangat sepele. Kita suka mengkritik orang lain, tapi kalau dikritik atau dicela, menjadi sangat tersinggung dan marah. *Di mana hati kita sebagai orang beriman?

3.Walaupun dikritik, diancam untuk dibunuh, Yesus tetap berbuat baik. Apakah kita juga seperti Tuhan, tetap melayani dan berbuat baik walau sering dikritik, tidak dihargai dan diremehkan? Tindakan baik akan selalu menjadi kesaksian bahwa kita adalah murid-murid Tuhan. Ketika kita, dengan penuh percaya, mengikuti “seruling dan kidung duka” yang dimainkan Tuhan bagi kita, kita boleh yakin bahwa Tuhan sedang memberkati kita.

Renungan Harian GML : Merindukan Sorga

Kamis, 13 Des 2018, St. Lusia

BACAAN
Yes 41:13-20 – “Yang menebus engkau ialah Yang Mahakuasa, Allah Israel”
Mat 11:11-15 – “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis”

RENUNGAN
1.Tuhan Yesus memberi pujian paling tinggi kepada Yohanes Pembaptis: “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Dibandingkan dengan tokoh-tokoh Perjanjian Lama, Yohanes yang paling besar, “namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.”

2.Seberapa besar kita merindukan Sorga? Kita merindukan Sorga, tetapi ketika hari ini Tuhan memanggil kita pulang, kita pasti menjawab: “Jangan dulu, Tuhan, tugasku belum selesai.” Aneh, kita selalu berdoa “terjadilah kehendak-Mu,” tetapi ketika Tuhan memanggil ke Sorga, kita tidak siap bahkan bergulat dan melawan. Kalau kita berani berdoa “terjadilah kehendak-Mu” harus berani pula untuk dipanggil pulang hari ini juga 😆

3.Merindukan Sorga itu perlu, karena tidak mudah untuk sampai ke sana. Tuhan mengatakan “Kerajaan Sorga diserong.” Artinya Kerajaan Sorga sedang dibelokkan, ditumbangkan, dihancurkan oleh egoism dan keserakahan manusia. Maka agar sampai ke Sorga, kita perlu napak tilas Yohanes Pembaptis, dengan mematikan kecenderungan-kecenderungan duniawi yang menyesatkan, melepaskan “bagian kehidupan- ku” yang gelap, dan berani rendah hati: mencintai daripada dicintai.

4.Kerajaan Sorga bukan merupakan ajaran, melainkan cara hidup baru dalam Allah.

Renungan Harian GML : DATANGLAH KEPADA-KU

Rabu, 12 Des 2018

BACAAN
Yes 40:25-31 – “Tuhan yang mahakuasa memberi kekuatan kepada yang lelah”

Mat 11:28-30 – “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”

RENUNGAN
1.”Datanglah kepada-Ku, …” Dengan kata-kata tersebut, Tuhan mengajak kita untuk percaya penuh kepada-Nya. Percaya berarti meneladani cara dan pola hidup Yesus; Yesus sebagai Way of Life bagi kehidupan kita.

2.”Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku.” Kuk Yesus adalah cinta kasih terhadap sesama, lemah lembut, rendah hati, jujur, dan bertanggungjawab terhadap Allah dan sesama. Memiliki cara hidup yang demikian akan membawa kepada kebebasan, kelegaan, kebahagiaan dan sukacita.

3.Apa beban-beban kita? Ingin menguasai apa saja dan siapa saja untuk diri sendiri. Untuk mencapai hal tersebut, tidak jarang kita membenci, tidak mau mengampuni, marah, serakah, korupsi, teror, fitnah, membunuh. Banyak dari antara kita yang tidak mau melepas beban-beban tersebut, sehingga kita terbelenggu olehnya.

4.”Datanglah kepada-Ku … “ berarti melepas belenggu yang mencekik kita dan mengubah pola hidup kita dan menggantinya dengan pola hidup Yesus; Yesus sebagai Way of Life. Ketika kita berbeban berat, sebenarnya, Yesus berada di samping kita, menunggu supaya kita menoleh dan datang kepada-Nya. Hanya dibutuhkan sikap rendah hati dan berani mengatakan: “Yesus, aku tidak mampu melakukannya. Beban hidupku terlalu berat. Tolonglah aku!” Yesus menjawab: “Datanglah kepada-Ku!” (MS,berkat.id)





Renungan Harian GML : BAGAIMANA PENDAPATMU?

Selasa, 11 Des 2018

BACAAN
Yes 40:1-11 – “Allah menghibur umat-Nya”
Mat 18:12-14 – “Bapamu tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang”

RENUNGAN
1.Dari perumpamaan ini, Allah Bapa tidak ingin ada seorang yang lemah, miskin, terlantar tersesat dan hilang tanpa mendapat perhatian dari pihak Gereja. Mereka harus menjadi prioritas dan pusat perhatian Gereja, tidak boleh dibiarkan tersesat. “Bagaimana pendapatmu?” (Mat 18:12).

2.Mereka yang miskin, terlantar, lemah, tidak berdaya biasanya mudah tersesat karena situasi dan keadaan mereka. Orang-orang beriman pada jaman sekarang juga mudah tersesat, karena tidak lagi memperhatikan hidup rohani, kurang/tidak berdoa lagi, dan  malas ke gereja. Ke gereja Natal dan Paskah dirasa sudah cukup menandai sebagai orang Kristen. Mereka semua, dari hati yang terdalam, sebenarnya berteriak: “Para gembala, apakah engkau mendengarkan jeritanku?” Mereka haus perhatian dari para gembala. Masih adakah para gembala Gereja yang tergerak hatinya untuk mencari dan menemukan mereka serta membimbing kembali masuk kawanan domba? “Bagaimana pendapatmu?”* (Mat 18:12).

3.Dengan pertanyaan “Bagaimana pendapatmu,”  Tuhan mengajak kita berpikir dan bertindak untuk satu domba, dan banyak domba, yang tersesat dan hilang. Tuhan begitu terketuk hati-Nya ketika ada seorang yang tersesat dan Ia mencarinya sampai ketemu. Manusia menjadi pusat perhatian Allah. Ia menghendaki agar setiap orang beriman tetap berada dalam satu kawanan domba. Setiap pendosa dicari-Nya dan akan bersukacita bila ia berhasil ditemukan kembali. Saat ini Tuhan menghendaki  kita untuk menjadi alat di tangan-Nya. “Bagaimana pendapatmu?”

Renungan Harian GML : IMAN MENGGERAKKAN TUHAN UNTUK BERTINDAK

Senen Wage, 10 Des 2018

BACAAN
Yes 35:1-10 – “Allah sendiri datang menyelamatkan kamu”
Luk 5:17-26 – “Hari ini kita telah menyaksikan hal-hal yang sangat menakjubkan”

RENUNGAN
1.Orang-orang Parisi duduk di depan Yesus menyaksikan Dia menyembuhkan orang sakit. Sebelumnya mereka telah menyaksikan banyak mukjijat, tetapi tidak membuat mereka percaya pada Yesus. Mukjizat yang mereka saksikan tidak dapat mengubah pikiran dan hati mereka. Maka Yesus memutuskan untuk menunjukkan kepada mereka mukjizat yang paling menentukan dengan harapan mereka percaya. Ia menyembuhkan seorang yang lumpuh untuk menunjukkan kekuasaan-Nya mengampuni dosa-dosa. Bagi orang-orang Parisi, penyakit menandakan bahwa orang tersebut dihukum oleh Allah karena dosa-dosanya. Yesus mengajarkan kebalikannya. Yesus berkata, “dosamu sudah diampuni.” Dengan kata lain, Allah tidak menolak orang yang berdosa.

2.Orang lumpuh tadi tidak memerlukan tanda. Ia hanya percaya bhwa Yesus mampu menyembuhkan dirinya. Imannya begitu kuat, sehingga ia tidak takut mengatasi segala kesulitan. Ia tidak dapat berjalan, maka ia minta orang lain untuk membawanya kepada Yesus. Ketika ia sampai di depan rumah, ia tidak dapat menjangkau Yesus, sehingga orang-orangnya membawanya kepada Yesus melewati atap. Orang lumpuh itu tahu betul, apa yang dapat dibuat Yesus. Imannya begitu kuat, sehingga menggerakkan Yesus untuk bertindak. Orang itu memiliki iman yang hidup, iman yang mampu menggerakkan hatinya untuk menemukan Tuhan, walaupun sangat banyak kesulitan.

3.Dengan mukjizat tersebut, Yesus tidak mencari kemuliaan untuk diri-Nya sendiri, melainkan hanya demi kemuliaan Allah Bapa-Nya. Betapa sering kita mengutamakan kemuliaan kita sendiri ketika kerasulan atau tindakan amal kita berhasil, dan betapa sering kita berharap orang lain selalu mengingat kita dan berkata “Terima kasih.” Bila demikian bukan kemuliaan Allah yang kita cari, melainkan kemuliaan kita sendiri. Pantaskah kita mendapatkan berkat dengan bertindak seperti itu?

Renungan Harian GML : PERSIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN


Saudari-sudara sekalian, salam jumpa lagi dalam renungan hari Minggu Adven II tahun C.  Minggu ini kita dipertemukan dengan satu tokoh penting di sekitar kedatangan Sang Juruselamat, Yohanes Pembaptis. Disebut Yohanes Pembaptis karena ia menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun dan datang ke seluruh daerah Yordan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Bahkan nantinya Yesus pun meminta untuk dibaptis olehnya di sungai Yordan. Intinya Yohanes mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Nabi Barukh dalam bacaan pertama mewartakan kabar gembira tentang damai-sejahtera, karena Allah akan datang. Paulus berseru kepada umat di Filipi: “Usahakanlah supaya kamu suci dan tak bercatat menjelang hari Kristus”. Yohanes Pembaptis dalam Injil Lukas berseru : “ Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Maka Allah akan mengampuni dosamu. Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”. Inilah kabar gembira yang kita dengarkan dalam masa Adven.

Adven, kata dari bahasa latin “adventus” artinya “kedatangan” bermakna mempersiapkan kedatangan Juruselamat yang dirayakan pada hari Natal dan mempersiapkan kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman. Kedatangan-Nya adalah kepastian. Damai sejahtera adalah janji yang penuh harapan. Untuk kedatangan-Nya ada syaratnya. Nabi Barukh menyatakan “Damai Sejahtera-Hasil Kebenaran” dan “Kemuliaan-Hasil Takwa”. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi: “Demikian kamu dapat memilih apa yang baik, agar kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.” Yohanes dalam bacaan Injil menyebut: “baptisan tobat untuk pengampunan dosa”. Tiga hal penting disebutkan oleh Yohanes untuk mempersiapkan jalan Tuhan: baptisan, tobat, dan pengampunan dosa.

“Baptis adalah suatu tanda panggilan yang kita terima untuk memasuki suatu hidup bersama dengan Yesus. Baptis adalah pembersihan diri dari segala cacat hidup. Namun baptis bukanlah suatu tanda/sarana yang bekerja secara otomatis, ataupun seakan-akan semua akan berjalan dengan sendirinya. Secara simbolis, niat dan tekad baik seseorang yang mau berdamai dengan Allah itu, dahulu dibuktikan dengan menerjunkan diri ke dalam sungai Yordan, agar segala kekotoran dirinya terhapuskan. Bagi kita sekarang ini pembaptisan itu terlaksana dalam menuangkan air di kepala/dahi kita. Sebab kepala kita adalah sumber kebaikan, tetapi juga sumber kejahatan kita. Pertobatan dan pengakuan dosa merupakan syarat pengampunan. Pertobatan merupakan suatu perubahan keadaan hati/batin yang buruk. Bukan sekadar untuk sementara, melaikan harus mempengaruhi corak dan arah hidup dan perbuatan kita selanjutnya. Itulah yang disebut perubahan total: suatu metanoia. Bukan sekadar penyesalan atas dosa-dosa yang sudah kita lakukan, melainkan suatu perubahan mendasar dan radikal seluruh hati nurani kita! Bukan hanya berarti tidak berbuat jahat, melainkan lebih positif, yaitu berupa berbuat baik. Metanoia atau perubahan total inilah yang dapat mendatangkan pengampunan yang sebenarnya. Pengampunan hanya diberikan Tuhan di mana ada pertobatan. Dengan demikian pengampunan dari segala dosa berarti pembebasan diri dari beban berat hidup kita. Pengampunan mendatangkan rekonsiliasi, pendamaian kembali dengan Allah, tetapi juga sekaligus pendamaian dengan sesama kita. Dengan demikian pertobatan dan pengampunan merupakan suatu penyembuhan dan pemulihan kembali hidup kita sehingga dapat menjadi tenang dan penuh damai” (.kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm).

Nasehat Yohanes Pembaptis kiranya bukan hanya berlaku bagi orang-orang sezamannya. Kitapun di zaman ini, untuk mendapatkan damai sejahtera perlu menegakkan kebenaran: yang bengkak-bengkok jalannya perlu diluruskan, yang terlalu rendah perlu ditimbun dan yang terlalu tinggi diratakan. Yang tersesat bengkak-bengkok hatinya demi mencari keselamatan diri perlu kembali ke jalan lurus. Yang membiarkan hati ternoda oleh perbuatan merendahkan martabat diri maupun sesama perlu kembali menyadari diri sebagai gambar Allah. Yang tinggi hati dan sombong akan kesanggupan kemampuan diri sendiri atau sebaliknya kecenderungan menghina ataupun mencari-cari kesalahan orang lain demi kedudukan atupun posisi perlu lebih rendah hati. Masa adven menjadi masa penantian penuh kegembiraan dengan mengedepankan pertobatan, yakni memperbanyak berbuat kebaikan dalam ketakwan kepada Allah dan kasih kepada sesama. Salam Pancasila. Kita Bhinneka Kita Indonesia. (Rm. Yohanes Purwanta MSC).

Renungan Harian GML : JALAN BUNDA MARIA ADALAH JALANKU

Sabtu, 8 Des 2018, SP Maria Dikandung Tanpa Dosa


BACAAN
Kej 3:9-15.20 – “Aku akan mengadakan permusuhana antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya”
Luk 1:26-38– “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja semesta merayakan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa. Dikandung Tanpa Noda Dosa mengingatkan kita akan kebenaran yang paling hakiki tentang iman Katolik dan kehidupan manusia, yaitu bahwa  kita membutuhkan seorang Penebus.

2.Bacaan pertama mengingatkan bahwa Adam jatuh ke dalam dosa, karena berontak melawan Allah. Dosa Adam berimbas kepada semua manusia dan dunia, sehingga  penderitaan, ketidak adilan, kesengsaraan di dunia ini disebabkan oleh dosa. Akibat dosa, manusia terputus dari Allah; ia bagaikan layang-layang putus terbawa angin. Untuk dapat tersambung lagi dengan Allah, manusia membutuhkan seseorang yang menangkapnya; manusia membutuhkan seorang Penyelamat. Tidak mungkin kita melakukannya sendiri bila tanpa Sang Penyelamat.

3.Gereja Katolik mengakui Maria sebagai manusia yang sejak semula dipilih oleh Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus, karena itu Maria dibebaskan dari dosa asal. Maria adalah satu-satunya manusia yang dilahirkan tanpa noda dosa.

4.Pengakuan Bunda Maria sebagai Terkandung Tanpa Noda Dosa juga merupakan pengakuan terhadap kita, bahwa kita juga akan dimuliakan oleh Allah bila kita memiliki kualitas hidup seperti Bunda Maria: berani berserah diri dan melaksanakan kehendak  Allah dengan berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu"

Renungan Harian GML : IMAN YANG MENYEMBUHKAN

Jumat, 7 Des 2018, St. Ambrosius


BACAAN
Yes 29:17-24 – “Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar …, dan mata orang-orang buta akan melihat, lepas dari kekelaman dan kegelapan”
Mat 9:27-31 – “Terjadilah padamu menurut imanmu”

RENUNGAN
1.Orang buta itu mencari Tuhan dengan sikap rendah hati dan dengan penyesalan yang mendalam atas dosa-dosanya. Mereka mendekati Yesus karena katerbatasan dan kelemahan mereka. Jika mereka sehat, pasti mereka tidak akan mendekati Yesus, tidak pernah menyesali dosa-dosa mereka dengan berseru, “kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Kita yang tidak cacat secara phisik, namun punya banyak kelemahan dan dosa, sudah selayaknya menyadari diri seperti orang buta tadi; berteriak lantang dengan penuh penyesalan dan tobat.

2.Mereka buta phisik namun bertekun dan berusaha keras untuk bisa bertemu Yesus. Mereka memiliki iman yang kuat: “Ya Tuhan, kami percaya.” Mereka percaya bahwa Yesus mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah. Mereka dilarang bicara, namun mereka tetap menyebarkan sukacita yang mereka alami karena kemurahan Tuhan. Bukannya tidak taat, mereka hanya ingin menyampaikan ungkapan rasa syukur yang meluap. Sukacita dalam Tuhan tidak bisa ditutup-tutupi, apalagi hanya untuk dirinya sendiri.

3. Kita disebut buta, ketika kita tidak memiliki rasa terhadap kehadiran Tuhan, tidak memiliki rasa terhadap dosa, tidak peduli terhadap orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan. Hal ini disebut buta hati, jauh lebih parah daripada buta mata.

Renungan Haroan GML : KRISTUS PONDAMEN HIDUP KITA

Kamis, 6 Des 2018,

BACAAN
Yes 26:1-6 – “Bangsa yang benar dan tetap setia biarkanlah masuk”
Mat 7:21.24-27 – “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga"

RENUNGAN
1.Sangat mudah berseru kepada Yesus  “Tuhan, Tuhan.” Dari kacamata iman, kita tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah.  Namun demikian, pengakuan kita atas Yesus sebagai Tuhan tidaklah cukup. Pengakuan kita bahwa Yesus adalah Sang Penebus tidak akan menjamin kita masuk surga. Iman kepada Kristus tidak cukup di bibir saja; iman harus menerobos masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Dengan demikian iman berarti melakukan kehendak Allah Bapa dengan pikiran, perkataan dan tindakan.

2.Kristus menasihati para murid-Nya untuk membangun iman  mereka di atas pondamen batu karang. Untuk menggali pondamen yang kokoh kuat tentu amat sukar. Hal itu membutuhkan keteguhan dan kesetiaan, doa, belas kasih, kemurahan hati, kerendahan hati dan intensi murni. Dalam kehidupan rohani, menggali sebuah pondamen memaksa kita untuk masuk ke dalam, menyingkirkan dosa dan kesalahan kita yang paling buruk. Proses ini tidaklah enak, bahkan menyakitkan. Hal ini mau tidak mau memaksa kita menghadapi sifat-siat buruk kita dan menyingkirkan topeng-topeng kita. Tanpa langkah-langkah seperti ini, hidup kita hanyalah kita bangun di atas pasir. Mampukah kita menggali pondamen itu sendirian?

3.Pondamen nampak kuat ketika semuanya tampak tenang. Ujian sesungguhnya ketika cuaca buruk. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan rohani. Ketika aman dan damai, maka semuanya berjalan baik. Tetapi ketika krisis menimpa: penolakan, sakit, kegagalan, dari situlah kita belajar bagaimana iman kita kokoh. Petrus, dengan sombong mengatakan: “Biar pun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat 26:33), tetapi ketika krisis menimpa, ia meninggalkan Kristus Tuhan sendirian di taman Getsemane. Bagaimana pengalamanku ketika menghadapi krisis?

Renungan Harian GML : JALAN TUHAN

Selasa, 4 Des 2018


BACAAN
Yes 11:1-10– “Roh Tuhan akan ada padanya”
Luk 10:21-24 –“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”

RENUNGAN
1.Kita begitu rindu untuk mengenal Allah dan cinta-Nya yang tanpa batas, tetapi pengetahuan kita yang sangat terbatas begitu sulit memahami-Nya. Dengan studi sampai botak pun, apa yang kita pelajari tentang Allah tidak berarti apa-apa. Pengetahuan yang benar tentang Kristus dan Allah tidak datang dari buku-buku. Pengetahuan yang benar tentang Kristus dan Allah dinyatakan kepada mereka yang belajar untuk mengheningkan jiwanya di dalam doa. Hanya ketika kita berserah diri kepada pengampunan Allah, pasrah sumarah, barulah kita mengenal Allah.

2.Kristus mengutus kita untuk suatu tugas tertentu, namun kita sering merasa tidak layak. Pikiran kita langsung tertuju kepada banyak orang pandai, bijak dan terdidik yang akan mampu mengerjakan tugas tersebut. Kristus tidak pernah mencari orang yang cerdik pandai, lulusan dengan predikat summa cum laude, tetapi memilih jiwa yang memiliki semangat seorang anak kecil, terbuka terhadap rencana Allah dan siap melaksanakannya. Kuncinya adalah jiwa yang sederhana dan rendah hati.

3.”Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya …" Walaupun mereka tidak melihat pemenuhan janji Allah, namun mereka selalu setia, konsisten dan dedicated dalam tugas perutusan. Mereka   berperan aktif dalam memimpin dan membimbing umat pada zamannya. Tuhan minta kepada kita untuk memiliki sikap dan semangat para nabi, dengan terus menanamkan benih-benih keselamatan yang nampaknya tidak menghasilkan buah, bahkan dalam jangka panjang. Seperti para nabi, kita tidak selalu diberi rahmat untuk melihat hasil dari apa yang kita tanam.

Renungan Harian GML : HIDUP DALAM PENGHARAPAN

Minggu, 2 Des 2018, ADVEN I

BACAAN
Yer 33:14-16– _“Sungguh, waktunya akan datang, bahwa Aku menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda”_
1Tes 3:12-4:2 – _“Semoga Ia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus di hadapan  Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita”_
Luk 21:25-28.34-36 – “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, … supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia”

RENUNGAN
1.Ketika seseorang berjanji mau datang menemui saya, berarti saya memiliki pengharapan dan tidak sendirian. Dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Tuhan berjanji kepada kita. Yang dijanjikan bukanlah kekayaan atau kesuksesan atau kehidupan yang bebas dari penderitaan. Ia menjanjikan seorang pribadi yang akan menemani perjalanan hidup kita. _“Sesungguhnya, waktunya akan datang, … bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda … Aku akan menumbuhkan Tunas Keadilan bagi Daud_ …” (Yer 33:14-15).

2.Dan di dalam Injil, kita melihat pemenuhan janji Allah dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah Allah beserta kita. Ia, secara spesial, datang bagi kita. Namun banyak kali kita ini malas dan tertidur, sehingga kehilangan sentuhan akan janji Tuhan tersebut. Kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan hidup sehari-hari, di rumah, di tempat kerja, di jalan yang macet, tetapi kita lupa akan janji Allah. Menjadi seorang Katolik adalah memiliki relasi akrab mendalam dengan Yesus. Tapi bagaimana hal ini bisa terwujud kalau hati kita kumuh, jarang/tidak pernah berdoa, dan menutup diri?

3.Dalam masa Adven ini kita diundang untuk fokus kepada Kristus dengan membuat pembaruan hidup, membarui komitmen yang belum terlaksana. Kita perhatikan korona (lingkaran) Adven di gereja. Bentuknya bulat melambangkan panggilan manusia untuk menjadi utuh, penuh, dan sempurna. Warna hijau adalah simbol akan pengharapan, pertobatan, dan perubahan diri. Selamat merayakan Adven: Nil nisi Christum– tak ada yang lain kecuali Kristus.

Hubungkan ke Facebook

Contact Us
Goa Maria Lawangsih
0852-9219-3234
Patihombo yogyakarta