menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Rabu, 12 Desember 2018

Renungan Harian GML : DATANGLAH KEPADA-KU

Rabu, 12 Des 2018

BACAAN
Yes 40:25-31 – “Tuhan yang mahakuasa memberi kekuatan kepada yang lelah”

Mat 11:28-30 – “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”

RENUNGAN
1.”Datanglah kepada-Ku, …” Dengan kata-kata tersebut, Tuhan mengajak kita untuk percaya penuh kepada-Nya. Percaya berarti meneladani cara dan pola hidup Yesus; Yesus sebagai Way of Life bagi kehidupan kita.

2.”Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku.” Kuk Yesus adalah cinta kasih terhadap sesama, lemah lembut, rendah hati, jujur, dan bertanggungjawab terhadap Allah dan sesama. Memiliki cara hidup yang demikian akan membawa kepada kebebasan, kelegaan, kebahagiaan dan sukacita.

3.Apa beban-beban kita? Ingin menguasai apa saja dan siapa saja untuk diri sendiri. Untuk mencapai hal tersebut, tidak jarang kita membenci, tidak mau mengampuni, marah, serakah, korupsi, teror, fitnah, membunuh. Banyak dari antara kita yang tidak mau melepas beban-beban tersebut, sehingga kita terbelenggu olehnya.

4.”Datanglah kepada-Ku … “ berarti melepas belenggu yang mencekik kita dan mengubah pola hidup kita dan menggantinya dengan pola hidup Yesus; Yesus sebagai Way of Life. Ketika kita berbeban berat, sebenarnya, Yesus berada di samping kita, menunggu supaya kita menoleh dan datang kepada-Nya. Hanya dibutuhkan sikap rendah hati dan berani mengatakan: “Yesus, aku tidak mampu melakukannya. Beban hidupku terlalu berat. Tolonglah aku!” Yesus menjawab: “Datanglah kepada-Ku!” (MS,berkat.id)





Selasa, 11 Desember 2018

Renungan Harian GML : BAGAIMANA PENDAPATMU?

Selasa, 11 Des 2018

BACAAN
Yes 40:1-11 – “Allah menghibur umat-Nya”
Mat 18:12-14 – “Bapamu tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang”

RENUNGAN
1.Dari perumpamaan ini, Allah Bapa tidak ingin ada seorang yang lemah, miskin, terlantar tersesat dan hilang tanpa mendapat perhatian dari pihak Gereja. Mereka harus menjadi prioritas dan pusat perhatian Gereja, tidak boleh dibiarkan tersesat. “Bagaimana pendapatmu?” (Mat 18:12).

2.Mereka yang miskin, terlantar, lemah, tidak berdaya biasanya mudah tersesat karena situasi dan keadaan mereka. Orang-orang beriman pada jaman sekarang juga mudah tersesat, karena tidak lagi memperhatikan hidup rohani, kurang/tidak berdoa lagi, dan  malas ke gereja. Ke gereja Natal dan Paskah dirasa sudah cukup menandai sebagai orang Kristen. Mereka semua, dari hati yang terdalam, sebenarnya berteriak: “Para gembala, apakah engkau mendengarkan jeritanku?” Mereka haus perhatian dari para gembala. Masih adakah para gembala Gereja yang tergerak hatinya untuk mencari dan menemukan mereka serta membimbing kembali masuk kawanan domba? “Bagaimana pendapatmu?”* (Mat 18:12).

3.Dengan pertanyaan “Bagaimana pendapatmu,”  Tuhan mengajak kita berpikir dan bertindak untuk satu domba, dan banyak domba, yang tersesat dan hilang. Tuhan begitu terketuk hati-Nya ketika ada seorang yang tersesat dan Ia mencarinya sampai ketemu. Manusia menjadi pusat perhatian Allah. Ia menghendaki agar setiap orang beriman tetap berada dalam satu kawanan domba. Setiap pendosa dicari-Nya dan akan bersukacita bila ia berhasil ditemukan kembali. Saat ini Tuhan menghendaki  kita untuk menjadi alat di tangan-Nya. “Bagaimana pendapatmu?”

Senin, 10 Desember 2018

Renungan Harian GML : IMAN MENGGERAKKAN TUHAN UNTUK BERTINDAK

Senen Wage, 10 Des 2018

BACAAN
Yes 35:1-10 – “Allah sendiri datang menyelamatkan kamu”
Luk 5:17-26 – “Hari ini kita telah menyaksikan hal-hal yang sangat menakjubkan”

RENUNGAN
1.Orang-orang Parisi duduk di depan Yesus menyaksikan Dia menyembuhkan orang sakit. Sebelumnya mereka telah menyaksikan banyak mukjijat, tetapi tidak membuat mereka percaya pada Yesus. Mukjizat yang mereka saksikan tidak dapat mengubah pikiran dan hati mereka. Maka Yesus memutuskan untuk menunjukkan kepada mereka mukjizat yang paling menentukan dengan harapan mereka percaya. Ia menyembuhkan seorang yang lumpuh untuk menunjukkan kekuasaan-Nya mengampuni dosa-dosa. Bagi orang-orang Parisi, penyakit menandakan bahwa orang tersebut dihukum oleh Allah karena dosa-dosanya. Yesus mengajarkan kebalikannya. Yesus berkata, “dosamu sudah diampuni.” Dengan kata lain, Allah tidak menolak orang yang berdosa.

2.Orang lumpuh tadi tidak memerlukan tanda. Ia hanya percaya bhwa Yesus mampu menyembuhkan dirinya. Imannya begitu kuat, sehingga ia tidak takut mengatasi segala kesulitan. Ia tidak dapat berjalan, maka ia minta orang lain untuk membawanya kepada Yesus. Ketika ia sampai di depan rumah, ia tidak dapat menjangkau Yesus, sehingga orang-orangnya membawanya kepada Yesus melewati atap. Orang lumpuh itu tahu betul, apa yang dapat dibuat Yesus. Imannya begitu kuat, sehingga menggerakkan Yesus untuk bertindak. Orang itu memiliki iman yang hidup, iman yang mampu menggerakkan hatinya untuk menemukan Tuhan, walaupun sangat banyak kesulitan.

3.Dengan mukjizat tersebut, Yesus tidak mencari kemuliaan untuk diri-Nya sendiri, melainkan hanya demi kemuliaan Allah Bapa-Nya. Betapa sering kita mengutamakan kemuliaan kita sendiri ketika kerasulan atau tindakan amal kita berhasil, dan betapa sering kita berharap orang lain selalu mengingat kita dan berkata “Terima kasih.” Bila demikian bukan kemuliaan Allah yang kita cari, melainkan kemuliaan kita sendiri. Pantaskah kita mendapatkan berkat dengan bertindak seperti itu?

Minggu, 09 Desember 2018

Renungan Harian GML : PERSIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN


Saudari-sudara sekalian, salam jumpa lagi dalam renungan hari Minggu Adven II tahun C.  Minggu ini kita dipertemukan dengan satu tokoh penting di sekitar kedatangan Sang Juruselamat, Yohanes Pembaptis. Disebut Yohanes Pembaptis karena ia menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun dan datang ke seluruh daerah Yordan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Bahkan nantinya Yesus pun meminta untuk dibaptis olehnya di sungai Yordan. Intinya Yohanes mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Nabi Barukh dalam bacaan pertama mewartakan kabar gembira tentang damai-sejahtera, karena Allah akan datang. Paulus berseru kepada umat di Filipi: “Usahakanlah supaya kamu suci dan tak bercatat menjelang hari Kristus”. Yohanes Pembaptis dalam Injil Lukas berseru : “ Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Maka Allah akan mengampuni dosamu. Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”. Inilah kabar gembira yang kita dengarkan dalam masa Adven.

Adven, kata dari bahasa latin “adventus” artinya “kedatangan” bermakna mempersiapkan kedatangan Juruselamat yang dirayakan pada hari Natal dan mempersiapkan kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman. Kedatangan-Nya adalah kepastian. Damai sejahtera adalah janji yang penuh harapan. Untuk kedatangan-Nya ada syaratnya. Nabi Barukh menyatakan “Damai Sejahtera-Hasil Kebenaran” dan “Kemuliaan-Hasil Takwa”. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi: “Demikian kamu dapat memilih apa yang baik, agar kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.” Yohanes dalam bacaan Injil menyebut: “baptisan tobat untuk pengampunan dosa”. Tiga hal penting disebutkan oleh Yohanes untuk mempersiapkan jalan Tuhan: baptisan, tobat, dan pengampunan dosa.

“Baptis adalah suatu tanda panggilan yang kita terima untuk memasuki suatu hidup bersama dengan Yesus. Baptis adalah pembersihan diri dari segala cacat hidup. Namun baptis bukanlah suatu tanda/sarana yang bekerja secara otomatis, ataupun seakan-akan semua akan berjalan dengan sendirinya. Secara simbolis, niat dan tekad baik seseorang yang mau berdamai dengan Allah itu, dahulu dibuktikan dengan menerjunkan diri ke dalam sungai Yordan, agar segala kekotoran dirinya terhapuskan. Bagi kita sekarang ini pembaptisan itu terlaksana dalam menuangkan air di kepala/dahi kita. Sebab kepala kita adalah sumber kebaikan, tetapi juga sumber kejahatan kita. Pertobatan dan pengakuan dosa merupakan syarat pengampunan. Pertobatan merupakan suatu perubahan keadaan hati/batin yang buruk. Bukan sekadar untuk sementara, melaikan harus mempengaruhi corak dan arah hidup dan perbuatan kita selanjutnya. Itulah yang disebut perubahan total: suatu metanoia. Bukan sekadar penyesalan atas dosa-dosa yang sudah kita lakukan, melainkan suatu perubahan mendasar dan radikal seluruh hati nurani kita! Bukan hanya berarti tidak berbuat jahat, melainkan lebih positif, yaitu berupa berbuat baik. Metanoia atau perubahan total inilah yang dapat mendatangkan pengampunan yang sebenarnya. Pengampunan hanya diberikan Tuhan di mana ada pertobatan. Dengan demikian pengampunan dari segala dosa berarti pembebasan diri dari beban berat hidup kita. Pengampunan mendatangkan rekonsiliasi, pendamaian kembali dengan Allah, tetapi juga sekaligus pendamaian dengan sesama kita. Dengan demikian pertobatan dan pengampunan merupakan suatu penyembuhan dan pemulihan kembali hidup kita sehingga dapat menjadi tenang dan penuh damai” (.kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm).

Nasehat Yohanes Pembaptis kiranya bukan hanya berlaku bagi orang-orang sezamannya. Kitapun di zaman ini, untuk mendapatkan damai sejahtera perlu menegakkan kebenaran: yang bengkak-bengkok jalannya perlu diluruskan, yang terlalu rendah perlu ditimbun dan yang terlalu tinggi diratakan. Yang tersesat bengkak-bengkok hatinya demi mencari keselamatan diri perlu kembali ke jalan lurus. Yang membiarkan hati ternoda oleh perbuatan merendahkan martabat diri maupun sesama perlu kembali menyadari diri sebagai gambar Allah. Yang tinggi hati dan sombong akan kesanggupan kemampuan diri sendiri atau sebaliknya kecenderungan menghina ataupun mencari-cari kesalahan orang lain demi kedudukan atupun posisi perlu lebih rendah hati. Masa adven menjadi masa penantian penuh kegembiraan dengan mengedepankan pertobatan, yakni memperbanyak berbuat kebaikan dalam ketakwan kepada Allah dan kasih kepada sesama. Salam Pancasila. Kita Bhinneka Kita Indonesia. (Rm. Yohanes Purwanta MSC).

Sabtu, 08 Desember 2018

Renungan Harian GML : JALAN BUNDA MARIA ADALAH JALANKU

Sabtu, 8 Des 2018, SP Maria Dikandung Tanpa Dosa


BACAAN
Kej 3:9-15.20 – “Aku akan mengadakan permusuhana antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya”
Luk 1:26-38– “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja semesta merayakan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa. Dikandung Tanpa Noda Dosa mengingatkan kita akan kebenaran yang paling hakiki tentang iman Katolik dan kehidupan manusia, yaitu bahwa  kita membutuhkan seorang Penebus.

2.Bacaan pertama mengingatkan bahwa Adam jatuh ke dalam dosa, karena berontak melawan Allah. Dosa Adam berimbas kepada semua manusia dan dunia, sehingga  penderitaan, ketidak adilan, kesengsaraan di dunia ini disebabkan oleh dosa. Akibat dosa, manusia terputus dari Allah; ia bagaikan layang-layang putus terbawa angin. Untuk dapat tersambung lagi dengan Allah, manusia membutuhkan seseorang yang menangkapnya; manusia membutuhkan seorang Penyelamat. Tidak mungkin kita melakukannya sendiri bila tanpa Sang Penyelamat.

3.Gereja Katolik mengakui Maria sebagai manusia yang sejak semula dipilih oleh Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus, karena itu Maria dibebaskan dari dosa asal. Maria adalah satu-satunya manusia yang dilahirkan tanpa noda dosa.

4.Pengakuan Bunda Maria sebagai Terkandung Tanpa Noda Dosa juga merupakan pengakuan terhadap kita, bahwa kita juga akan dimuliakan oleh Allah bila kita memiliki kualitas hidup seperti Bunda Maria: berani berserah diri dan melaksanakan kehendak  Allah dengan berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu"

Jumat, 07 Desember 2018

Renungan Harian GML : IMAN YANG MENYEMBUHKAN

Jumat, 7 Des 2018, St. Ambrosius


BACAAN
Yes 29:17-24 – “Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar …, dan mata orang-orang buta akan melihat, lepas dari kekelaman dan kegelapan”
Mat 9:27-31 – “Terjadilah padamu menurut imanmu”

RENUNGAN
1.Orang buta itu mencari Tuhan dengan sikap rendah hati dan dengan penyesalan yang mendalam atas dosa-dosanya. Mereka mendekati Yesus karena katerbatasan dan kelemahan mereka. Jika mereka sehat, pasti mereka tidak akan mendekati Yesus, tidak pernah menyesali dosa-dosa mereka dengan berseru, “kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Kita yang tidak cacat secara phisik, namun punya banyak kelemahan dan dosa, sudah selayaknya menyadari diri seperti orang buta tadi; berteriak lantang dengan penuh penyesalan dan tobat.

2.Mereka buta phisik namun bertekun dan berusaha keras untuk bisa bertemu Yesus. Mereka memiliki iman yang kuat: “Ya Tuhan, kami percaya.” Mereka percaya bahwa Yesus mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah. Mereka dilarang bicara, namun mereka tetap menyebarkan sukacita yang mereka alami karena kemurahan Tuhan. Bukannya tidak taat, mereka hanya ingin menyampaikan ungkapan rasa syukur yang meluap. Sukacita dalam Tuhan tidak bisa ditutup-tutupi, apalagi hanya untuk dirinya sendiri.

3. Kita disebut buta, ketika kita tidak memiliki rasa terhadap kehadiran Tuhan, tidak memiliki rasa terhadap dosa, tidak peduli terhadap orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan. Hal ini disebut buta hati, jauh lebih parah daripada buta mata.

Kamis, 06 Desember 2018

Renungan Haroan GML : KRISTUS PONDAMEN HIDUP KITA

Kamis, 6 Des 2018,

BACAAN
Yes 26:1-6 – “Bangsa yang benar dan tetap setia biarkanlah masuk”
Mat 7:21.24-27 – “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga"

RENUNGAN
1.Sangat mudah berseru kepada Yesus  “Tuhan, Tuhan.” Dari kacamata iman, kita tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah.  Namun demikian, pengakuan kita atas Yesus sebagai Tuhan tidaklah cukup. Pengakuan kita bahwa Yesus adalah Sang Penebus tidak akan menjamin kita masuk surga. Iman kepada Kristus tidak cukup di bibir saja; iman harus menerobos masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Dengan demikian iman berarti melakukan kehendak Allah Bapa dengan pikiran, perkataan dan tindakan.

2.Kristus menasihati para murid-Nya untuk membangun iman  mereka di atas pondamen batu karang. Untuk menggali pondamen yang kokoh kuat tentu amat sukar. Hal itu membutuhkan keteguhan dan kesetiaan, doa, belas kasih, kemurahan hati, kerendahan hati dan intensi murni. Dalam kehidupan rohani, menggali sebuah pondamen memaksa kita untuk masuk ke dalam, menyingkirkan dosa dan kesalahan kita yang paling buruk. Proses ini tidaklah enak, bahkan menyakitkan. Hal ini mau tidak mau memaksa kita menghadapi sifat-siat buruk kita dan menyingkirkan topeng-topeng kita. Tanpa langkah-langkah seperti ini, hidup kita hanyalah kita bangun di atas pasir. Mampukah kita menggali pondamen itu sendirian?

3.Pondamen nampak kuat ketika semuanya tampak tenang. Ujian sesungguhnya ketika cuaca buruk. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan rohani. Ketika aman dan damai, maka semuanya berjalan baik. Tetapi ketika krisis menimpa: penolakan, sakit, kegagalan, dari situlah kita belajar bagaimana iman kita kokoh. Petrus, dengan sombong mengatakan: “Biar pun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat 26:33), tetapi ketika krisis menimpa, ia meninggalkan Kristus Tuhan sendirian di taman Getsemane. Bagaimana pengalamanku ketika menghadapi krisis?

Selasa, 04 Desember 2018

Renungan Harian GML : JALAN TUHAN

Selasa, 4 Des 2018


BACAAN
Yes 11:1-10– “Roh Tuhan akan ada padanya”
Luk 10:21-24 –“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”

RENUNGAN
1.Kita begitu rindu untuk mengenal Allah dan cinta-Nya yang tanpa batas, tetapi pengetahuan kita yang sangat terbatas begitu sulit memahami-Nya. Dengan studi sampai botak pun, apa yang kita pelajari tentang Allah tidak berarti apa-apa. Pengetahuan yang benar tentang Kristus dan Allah tidak datang dari buku-buku. Pengetahuan yang benar tentang Kristus dan Allah dinyatakan kepada mereka yang belajar untuk mengheningkan jiwanya di dalam doa. Hanya ketika kita berserah diri kepada pengampunan Allah, pasrah sumarah, barulah kita mengenal Allah.

2.Kristus mengutus kita untuk suatu tugas tertentu, namun kita sering merasa tidak layak. Pikiran kita langsung tertuju kepada banyak orang pandai, bijak dan terdidik yang akan mampu mengerjakan tugas tersebut. Kristus tidak pernah mencari orang yang cerdik pandai, lulusan dengan predikat summa cum laude, tetapi memilih jiwa yang memiliki semangat seorang anak kecil, terbuka terhadap rencana Allah dan siap melaksanakannya. Kuncinya adalah jiwa yang sederhana dan rendah hati.

3.”Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya …" Walaupun mereka tidak melihat pemenuhan janji Allah, namun mereka selalu setia, konsisten dan dedicated dalam tugas perutusan. Mereka   berperan aktif dalam memimpin dan membimbing umat pada zamannya. Tuhan minta kepada kita untuk memiliki sikap dan semangat para nabi, dengan terus menanamkan benih-benih keselamatan yang nampaknya tidak menghasilkan buah, bahkan dalam jangka panjang. Seperti para nabi, kita tidak selalu diberi rahmat untuk melihat hasil dari apa yang kita tanam.

Minggu, 02 Desember 2018

Renungan Harian GML : HIDUP DALAM PENGHARAPAN

Minggu, 2 Des 2018, ADVEN I

BACAAN
Yer 33:14-16– _“Sungguh, waktunya akan datang, bahwa Aku menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda”_
1Tes 3:12-4:2 – _“Semoga Ia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus di hadapan  Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita”_
Luk 21:25-28.34-36 – “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, … supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia”

RENUNGAN
1.Ketika seseorang berjanji mau datang menemui saya, berarti saya memiliki pengharapan dan tidak sendirian. Dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Tuhan berjanji kepada kita. Yang dijanjikan bukanlah kekayaan atau kesuksesan atau kehidupan yang bebas dari penderitaan. Ia menjanjikan seorang pribadi yang akan menemani perjalanan hidup kita. _“Sesungguhnya, waktunya akan datang, … bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda … Aku akan menumbuhkan Tunas Keadilan bagi Daud_ …” (Yer 33:14-15).

2.Dan di dalam Injil, kita melihat pemenuhan janji Allah dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah Allah beserta kita. Ia, secara spesial, datang bagi kita. Namun banyak kali kita ini malas dan tertidur, sehingga kehilangan sentuhan akan janji Tuhan tersebut. Kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan hidup sehari-hari, di rumah, di tempat kerja, di jalan yang macet, tetapi kita lupa akan janji Allah. Menjadi seorang Katolik adalah memiliki relasi akrab mendalam dengan Yesus. Tapi bagaimana hal ini bisa terwujud kalau hati kita kumuh, jarang/tidak pernah berdoa, dan menutup diri?

3.Dalam masa Adven ini kita diundang untuk fokus kepada Kristus dengan membuat pembaruan hidup, membarui komitmen yang belum terlaksana. Kita perhatikan korona (lingkaran) Adven di gereja. Bentuknya bulat melambangkan panggilan manusia untuk menjadi utuh, penuh, dan sempurna. Warna hijau adalah simbol akan pengharapan, pertobatan, dan perubahan diri. Selamat merayakan Adven: Nil nisi Christum– tak ada yang lain kecuali Kristus.