Minggu, 09 Desember 2018

Renungan Harian GML : PERSIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN


Saudari-sudara sekalian, salam jumpa lagi dalam renungan hari Minggu Adven II tahun C.  Minggu ini kita dipertemukan dengan satu tokoh penting di sekitar kedatangan Sang Juruselamat, Yohanes Pembaptis. Disebut Yohanes Pembaptis karena ia menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun dan datang ke seluruh daerah Yordan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Bahkan nantinya Yesus pun meminta untuk dibaptis olehnya di sungai Yordan. Intinya Yohanes mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Nabi Barukh dalam bacaan pertama mewartakan kabar gembira tentang damai-sejahtera, karena Allah akan datang. Paulus berseru kepada umat di Filipi: “Usahakanlah supaya kamu suci dan tak bercatat menjelang hari Kristus”. Yohanes Pembaptis dalam Injil Lukas berseru : “ Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Maka Allah akan mengampuni dosamu. Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”. Inilah kabar gembira yang kita dengarkan dalam masa Adven.

Adven, kata dari bahasa latin “adventus” artinya “kedatangan” bermakna mempersiapkan kedatangan Juruselamat yang dirayakan pada hari Natal dan mempersiapkan kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman. Kedatangan-Nya adalah kepastian. Damai sejahtera adalah janji yang penuh harapan. Untuk kedatangan-Nya ada syaratnya. Nabi Barukh menyatakan “Damai Sejahtera-Hasil Kebenaran” dan “Kemuliaan-Hasil Takwa”. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi: “Demikian kamu dapat memilih apa yang baik, agar kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.” Yohanes dalam bacaan Injil menyebut: “baptisan tobat untuk pengampunan dosa”. Tiga hal penting disebutkan oleh Yohanes untuk mempersiapkan jalan Tuhan: baptisan, tobat, dan pengampunan dosa.

“Baptis adalah suatu tanda panggilan yang kita terima untuk memasuki suatu hidup bersama dengan Yesus. Baptis adalah pembersihan diri dari segala cacat hidup. Namun baptis bukanlah suatu tanda/sarana yang bekerja secara otomatis, ataupun seakan-akan semua akan berjalan dengan sendirinya. Secara simbolis, niat dan tekad baik seseorang yang mau berdamai dengan Allah itu, dahulu dibuktikan dengan menerjunkan diri ke dalam sungai Yordan, agar segala kekotoran dirinya terhapuskan. Bagi kita sekarang ini pembaptisan itu terlaksana dalam menuangkan air di kepala/dahi kita. Sebab kepala kita adalah sumber kebaikan, tetapi juga sumber kejahatan kita. Pertobatan dan pengakuan dosa merupakan syarat pengampunan. Pertobatan merupakan suatu perubahan keadaan hati/batin yang buruk. Bukan sekadar untuk sementara, melaikan harus mempengaruhi corak dan arah hidup dan perbuatan kita selanjutnya. Itulah yang disebut perubahan total: suatu metanoia. Bukan sekadar penyesalan atas dosa-dosa yang sudah kita lakukan, melainkan suatu perubahan mendasar dan radikal seluruh hati nurani kita! Bukan hanya berarti tidak berbuat jahat, melainkan lebih positif, yaitu berupa berbuat baik. Metanoia atau perubahan total inilah yang dapat mendatangkan pengampunan yang sebenarnya. Pengampunan hanya diberikan Tuhan di mana ada pertobatan. Dengan demikian pengampunan dari segala dosa berarti pembebasan diri dari beban berat hidup kita. Pengampunan mendatangkan rekonsiliasi, pendamaian kembali dengan Allah, tetapi juga sekaligus pendamaian dengan sesama kita. Dengan demikian pertobatan dan pengampunan merupakan suatu penyembuhan dan pemulihan kembali hidup kita sehingga dapat menjadi tenang dan penuh damai” (.kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm).

Nasehat Yohanes Pembaptis kiranya bukan hanya berlaku bagi orang-orang sezamannya. Kitapun di zaman ini, untuk mendapatkan damai sejahtera perlu menegakkan kebenaran: yang bengkak-bengkok jalannya perlu diluruskan, yang terlalu rendah perlu ditimbun dan yang terlalu tinggi diratakan. Yang tersesat bengkak-bengkok hatinya demi mencari keselamatan diri perlu kembali ke jalan lurus. Yang membiarkan hati ternoda oleh perbuatan merendahkan martabat diri maupun sesama perlu kembali menyadari diri sebagai gambar Allah. Yang tinggi hati dan sombong akan kesanggupan kemampuan diri sendiri atau sebaliknya kecenderungan menghina ataupun mencari-cari kesalahan orang lain demi kedudukan atupun posisi perlu lebih rendah hati. Masa adven menjadi masa penantian penuh kegembiraan dengan mengedepankan pertobatan, yakni memperbanyak berbuat kebaikan dalam ketakwan kepada Allah dan kasih kepada sesama. Salam Pancasila. Kita Bhinneka Kita Indonesia. (Rm. Yohanes Purwanta MSC).

0 komentar:

Posting Komentar