GOA MARIA LAWANGSIH

Kulo meniko Abdi Dalem Gusti,
sendiko dawuh Dalem Gusti
image
Tentang,

Goa Maria Lawangsih

"Menemukan Tuhan dalam keheningan "

Goa Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Goa Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Paroki Administratif Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokasi Goa Lawangsih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

Me

Me

Suasana perarakan

Lantunan Ave Maria mengiringi perjalanan perarakan , sakral
Me

Peletakan Patung

Suasana peletakan patung Bunda Maria
Me

Suasana perarakan

Antusias Umat mengikuti perarakan lilin

SEJARAH

Me
Goa Pangiloning leres

Goa Pengiloning Leres adalah cikal bakal Goa Pengiloning Leres adalah cikal bakal Goa Maria Lawangsih, merupakan goa alam, namun hanya kecil. Letak Goa Pengiloning Leres yang berada di atas Gereja SPM Fatima Pelemdukuh, tidak terlalu jauh dari Goa Maria Lawangsih. Di samping goa, bertahtalah Patung Kristus Raja yang memberkati yang tingginya 3 meter.Goa ini (pangiloning leres) berada lebih tinggi daripada Gereja SPM Fatima. Legenda yang berkembang mengatakan bahwa bukit di Goa Pengiloning Leres ini adalah (Jawa: gedogan) kandang Kuda Sembrani. Banyak orang mengalami peristiwa bahwa hampir setiap Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon mendengar suara gaduh, (Jawa: pating gedobrak). Konon katanya, goa ini dulunya dipakai oleh para makhluk halus sebagai kandang kuda Sembrani. Hal ini terbukti dengan adanya sebuah mata air di bagian bawah bukit yang bernama “benjaran” yang berarti tempat minum kuda.

Me
Patung Kristus Raja

Di bawahnya terdapat Kapel (Gereja) yang sebagian dindingnya adalah Batu Karang (asli) yang ingin menunjukkan bagaimana Gereja yang dibangun Yesus di atas Batu Karang. Bila kita melihat segi arsitekturnya dari sisi luar Kapel,mungkin saja akan kalah bila dibandingkan dengan gereja yang terdapat di kota besar lainnya. Namun, bila kita masuk ke dalam Gereja kita akan melihat beberapa lukisan yang indah dimana Gerbang Kerajaan Surga tergambar indah di dinding. Adapula kisah pembangunan yang penuh perjuangan karena Gereja sulit mendapatkan tanah pada waktu itu. Namun sempat pula Romo YB. Mangunwijaya, Pr sempat meneliti dan mereka-reka arsitektur Kapel Stasi Pelemdukuh yang alami. Namun tidak ada informasi yang tepat, mengapa Romo YB. Mangunwijaya, Pr tidak melanjutkan arsitektur di Kapel tersebut.

Me
Sejarah lengkap

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi), namun setelah itu tidak ada perkembangan yang berarti sampai tahun 2008. Pada bulan Juli 2008 . Pembangunan Goa Maria Lawangsih untuk menjadi tempat berdoa (Panti Sembahyang) adalah atas inisiatif Romo Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan ini yaitu Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr, setelah beberapa kali masuk dan meneliti kemungkinan Goa Lawa menjadi tempat doa SELENGKAPNYA >>>

Me
Menemukan Tuhan Di dalam Keheningan

Kesan pertama para peziarah ketika kita datang adalah suasana hening yang menyejukkan hati, jauh dari keramaian. Suara gemericik air, kicauan burung, tiupan angin, udara yang sejuk akan membuat kita semakin mensyukuri indahnya ciptaan Tuhan. Suasana ini lah yang membawa kita pada suatu situasi yang sangat mendukung bila ingin memanjatkan doa.Keindahan GM ini bukan hanya struktur gua yang benar-benar gua tetapi sekaligus situasi doa yang muncul dari dirinya. Bila doa adalah tujuan dan hasil yang diinginkan orang saat pergi ke Gua Maria, GM Lawangsihpun dapat dikatakan sebagai “ conditio sine qua non “ dari doa si peziarah.

Me
Eksotisme Goa Alam

Kekhasan Goa Maria Lawangsih yakni eksotisme goa alamnya. Goa ini sungguh merupakan goa alam kedua di Keuskupan Agung Semarang setelah Goa Maria Tritis Wonosari, Gunungkidul. Seperti yang kita ketahui, tidak banyak tempat doa yang berupa goa yang merupakan goa alami. Goa Lawangsih merupakan salah satu goa alami, goa ini cukup besar, lengkap dengan sungai kecil yang mengalir di dalam goa dan dihiasi oleh stalaktit stalagmit yang indah.Di belakang Patung Bunda Maria, terdapat lorong goa yang sangat panjang, dalam dan indah dengan stalagtit dan stalagmit yang mempesona, di dalamnya juga terdapat sumber air yang mengalir tiada henti, jernih dan sejuk, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar goa Maria. Kelak air ini akan ditampung dan dijadikan tempat “menimba air kehidupan” dan untuk kebutuhan sehari-hari. Sungguh ajaib, Bunda Maria juga memberikan berkatNya

Me
Disinilah saat aku Hening

Salah satu Kelebihan struktur Goa Maria Lawangsih mampu memberikan efek yang sangat dasyat ,Inilah gua. Saat mencoba masuk lebih dalam, hanya keheningan yang muncul. Suara di dalam adalah keheningan. Tak ada suara selain diam. Suara sedikit "mbengung" mendominasi telinga. Dalam suasana seperti itu, manusia diajak bertemu dengan dirinya sendiri. Di depan tempat Doa, ditempatkan patung Yesus."Disinilah saat aku Hening",keheningan, hasrat ingin lama berdoa ,menjadi tempat yang membantu orang, dengan keheninganya, untuk menemukan Tuhan.

Me

SLAKA

SLAKA : Sholawat Katolik merupakan salahsatu Inkulturasi Gereja terhadap Budaya Jawa ,biasanya di adakan malam jumat kliwon setiap bulan Mei
Me

SLAKA SABDO SUCI

Paguyuban Kesenian Tradisional Sloka (sholawatan katolik) Sabda Suci. Paguyuban ini kurang lebih memiliki anggota 30 orang, yang range umurnya cukup jauh (dr muda sampai tua)
Me

sekilas slaka

Kesenian Sloka mengajak kita mendalami dan menghayati babad suci atau kitab suci perjanjian lama dengan melagukan secara tradisional, mulai dari kisah penciptaan sampai menjelang kelahiran Yesus, sehingga sloka berisi tentang nabi-nabi, sejarah, dan nabi besar yang tertuang dalam kitab suci perjanjian lama.
Me

sekilas slaka

Peralatan yang digunakan sangat sederhana, dibuat seperti pada awal mula dibentuknya paguyuban ini, misalnya kendang : kendang yang digunakan adalah kendang buntung, bukan kendang batangan, yang merupakan warisan nenek moyang.
ARTIKEL

Renungan Harian GML : BEKERJA DI KEBUN ANGGUR TUHAN

Jumat, 22 Maret 2019


BACAAN
 Kej 37:3-4.12-13.17-28 – “Lihat, tukang mimpi datang, marilah kita bunuh dia”
Mat 21:33-43.45-46 – “Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, seorang tuan tanah membuka kebon anggur kemudian menyewakannya kepada para penyewa. Ketika tuan tanah itu mempercayakan kepada para penyewa, ia semata-mata tidak mencari keuntungan, tetapi mencari seseorang untuk mengelola kebun anggurnya. Kristus telah membuka kebun anggur-Nya, yaitu Gereja, dan mempercayakan pengelolaannya kepada kita. Ia tidak hanya memberi kita pekerjaan yang harus kita kerjakan, tetapi menaruh keselamatan jiwa-jiwa lain di dalam tangan kita.

2.Tuan tanah itu tidak mengawasi para penyewa. Bahkan ia tidak memberikan peraturan bagaimana mengelola dan menggarap kebon anggur. Ia pergi meninggalkan para penyewa dan memerintahkan para penyewa untuk mengerjakan kebon anggurnya. Allah bukanlah pemberi tugas yang tiran. Ia tahu bahwa bekerja di kebun anggur-Nya itu sungguh berat. Pada musim panen tiba, tuan tanah itu mengirim utusan demi utusan. Ia tidak menjadi berang atau mengutuk para penyewa setelah seorang utusan diperlakukan buruk dan yang lain dianiaya. Akhirnya ia mengutus anak-Nya. Ia melakukan segala sesuatu untuk menanggung egoisme para penyewa dan memberi ilham kepada mereka dengan pemahaman dan kemurahan hati-Nya.

3.Dosa orang-orang Parisi adalah egoisme dan hati yang tertutup rapat untuk Kristus. Ketika Kristus menjatuhkan hukuman bagi orang-orang Parisi, Ia tidak mengatakan “Aku berkata kepadamu, kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan diberikan kepada orang yang menghargai kehidupan,” tetapi Yesus mencaci mereka karena tidak menghasilkan buah. Bekerja di kebun anggur Tuhan, apa maksudnya? Apa yang harus kubuat, agar menghasilkan buah lebat?

Renungan Harian GML : TERLAMBAT UNTUK BERUBAH?

Kamis, 21 Maret 2019


BACAAN
Yer 17:5-10– “Terkutuklah yang mengandalkan manusia. Diberkatilah yang mengandalkan Tuhan”
Luk 16:19-31– “Engkau telah menerima segala yang baik, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita”

RENUNGAN
1.Orang kaya seperti dalam Injijl hari ini hidup dalam kemewahan, memakai pakaian dengan mode terbaru dan makan makanan yang paling baik. Ia tidak menyakiti orang lain, tidak mengkritik Lazarus karena tidak bekerja. Apa dosa orang kaya tersebut? Ia tidak memperlakukan Lazarus sebagai pribadi. Bagi orang kaya, Lazarus hanyalah bagian dari sebuah pemandangan yang biasa bahkan tidak menarik. Beginikah cara memandang orang miskin?

2.Kita tidak mungkin lepas dari penderitaan, bahkan bisa seperti Lazarus. Maka setiap penderitaan yang kita alami semestinya membuat kita lebih manusiawi dan  membuka mata terhadap keadaan buruk orang lain, dan hati kita lebih cepat tanggap dengan penuh belas kasih. Namun demikian, penderitaan juga bisa menjadi pedang bermata dua. Penderitaan bisa mendorong kita untuk iri hati, benci, dan menutup diri jika kita sombong, atau jika kita lupa bahwa Allah ingin memurnikan cinta kita lewat penderitaan.

3.Penderitaan juga bisa membuat kita lebih tekun dan semangat untuk membangun jiwa kita sendiri dan jiwa orang lain. Sayangnya, usaha orang kaya tadi terlambat. Ia, selama hidupnya, menghabiskan energinya untuk menolak penderitaan dan sangat terobsesi hanya pada kepuasan dirinya sendiri. Ia memaknai hidupnya hanyalah sesaat, sementara dan duniawi. Jangan terlambat untuk menjadi berkat bagi orang lain!

Renungan Harian GML : MENEMPATKAN ALLAH SEBAGAI PUSAT KEHIDUPAN

Rabu, 20 Maret 2019


BACAAN
Yer 18:18-20 – “Persekongkolan melawan nabi Yeremia”
Mat 20:17-28 – “Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati”

RENUNGAN
1.Menuju Yerusalem berarti menderita sengsara dan mati disalib. Ketika mendengar bakal penderitaan Sang Guru, para murid tidak mengerti bahwa Mesias harus menderita (Luk 18:34). Bagi mereka, Mesias tidak pernah akan menderita (Mat 16:21-23). Banyak orang mengawali kerasulan dengan penuh semangat dan intensi murni, tetapi jika kita sembrono dan tidak merawatnya, akan berubah menjadi cari perhatian semata.

2.Ketika Yesus mengatakan tentang Penderitaan dan Salib, para murid sibuk dengan ambisi mereka masing-masing, berebut menjadi yang utama. Mereka menginginkan ganjaran karena sudah mengikuti Yesus. Yang terjadi adalah ketegangan, kemarahan, irihati di antara mereka. Di lingkungan umat Gereja pun juga sering terjadi hal yang sama. Ketika mereka menjawab “Kami dapat” sesungguhnya jawaban tersebut tidak muncul dari kesadaran, karena beberapa hari kemudian mereka meninggalkan Yesus seorang diri pada saat penderitaan-Nya (Mrk 14:50), dan Yesus harus mempersembahkan kepada Bapa-Nya sebuah piala baptisan, penderitaan dan salib sendirian.

3.Yesus meluruskan pandangan para murid: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Pelayanan merupakan obat untuk melawan ambisi-ambisi pribadi, terutama pelayanan yang membawa orang lain untuk mencintai dan melayani Allah.

Renungan Harian GML : TELADAN YANG HEROIK

Selasa, 19 Maret 19, Hari Raya St. Yusup, suami Maria

BACAAN
2Sam 7:4-5.12-14.16 – “Tuhan Allah akan memberikan kepada Dia takhta Daud Bapa-Nya”
Rom 4:13.16-18.22– “Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham toh berharap dan percaya”
Mat 1:16.18-21.24– “Yusup berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan”

RENUNGAN
1.Sebuah bahaya bisa terjadi di dalam perjalanan rohani kita. Ketika semuanya berjalan tenang, pekerjaan baik, atau ketika orang lain menghargai usaha-usaha kita, hidup nampak berkembang dan mudah. Ucapan yang selalu meluncur adalah “puji Tuhan, Halleluia.” Di lain pihak, ketika segala sesuatu nampak sial, merendahkan atau menyakitkan, sepertinya awan kelabu menutupi kita, dan terus menerus menyanyi “Hidupku yang sengsara” (Edy Silitonga). Bahkan kita bertanya-tanya, apakah Allah masih mencintai kita. Yusup, suami Maria, merupakan contoh yang baik bagi kita, karena ia tidak mudah berkecil hati dan putus asa ketika menghadapi pencobaan dan kesulitan.

2.Yusup, seorang yang benar, ingin mempercayai cerita Maria, tetapi kenyataan sebenarnya terlalu sulit untuk bisa dimengerti. Ia mencintai dan memperhatikan Maria, tetapi Yusup merasa dikhianati. Karena ia memiliki suara hati yang bersih, ia diam-diam ingin menceraikan Maria. Allah, yang melihat kejujuran Yusup, menyampaikan kepadanya kebenaran tentang integritas Maria. Sebuah pesan dalam sebuah mimpi sudah cukup menyadarkan hati Yusup.

3.Tidak semuanya mudah bagi seorang yang bijak dan benar. Tuhan memilih seseorang yang memiliki kejujuran yang besar untuk mengemban tanggungjawab akan kelahiran Anak-Nya.Pernahkah Yusup membayangkan bahwa sesudah 5 bulan mengambil Maria, ia harus bersama Maria ke Betlehem tanpa jaminan keamanan selama dalam perjalanan? Apakah ia membayangkan bahwa harus lari ke Mesir untuk menjauhi pedang dan kebuasan tentara? Inilah harga yang harus ia bayar untuk menjadi seorang manusia yang dihormati. Dan Allah menghadiahi Yusup dengan menjadi orang tua angkat bagi Sang Pencipta alam semesta, dengan segala berkat dan kepuasan hati. Apakah aku mampu meneladani Yusup dalam memimpin keluargaku?

Renungan Harian GML : JADILAH SEMPURNA!

Sabtu, 16 Maret 2019

BACAAN
Ul 26:16-19 – “Engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu”
Mat 5:43-48 – “Haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya”

RENUNGAN
1.”Jadilah sempurna!” Siapa yang minta agar kita sempurna? Kristus Sang Sabda. Untuk menjadi sempurna bukanlah sekedar anjuran, melainkan perintah. Ia mengatakan hal tersebut kepada para murid-Nya dengan penuh tenaga, walau pun Ia tahu bahwa dari kekuatan para murid saja, hal tersebut tidak mungkin, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kita diingatkan bahwa menjadi sempurna seperti orang kudus, sangatlah mungkin. Mukjizat terjadi ketika kita percaya. Mewujudkan kesempurnaan tidak seperti membuka telapak tangan, tetapi membutuhkan proses dan harus dimulai sekarang, saat ini.

2.Mengapa Allah memerintahkan kita untuk menjadi sempurna? Perintah Allah agar kita menjadi sempurna akan lebih mudah dipahami ketika kita merenungkan situasi dunia yang semakin mengerikan. Dunia saat ini, yang sesungguhnya membutuhkan keselamatan Tuhan, merupakan alasan yang sebenarnya mengapa setiap orang beriman harus mengejar kesempurnaan. Dengan kesempurnaan, kita bersaksi bahwa Allah sungguh hadir dan ingin merangkul semua manusia.

3.Dalam dunia yang dibangun di atas pasir, kita dapat menawarkan dasar yang kokoh kuat; dalam dunia yang buta akan nilai-nilai rohani, kita bisa menawarkan kebaikan, cinta kasih dan kesucian. Menjadi  sempurna bukan hanya kewajiban para murid Kristus, tetapi kewajiban semua orang. Tantangan untuk menjadi sempurna harus didorong oleh hati yang menyala untuk mewujudkan keselamatan bagi semua orang.

Renungan Harian GML : MENJADI SUCI

Jemuah Wage, Jumadil Akhir 1952


BACAAN
Yeh 18:21-28 – “Adakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? Bukankah kepada pertobatannya Aku berkenan, supaya ia hidup?”
Mat 5:20-26– “Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu”

RENUNGAN
1.Bagaimana dengan para ahli kitab dan orang-orang Parisi? Mereka hanya nampak suci, tetapi tidak memiliki kesucian sama sekali. Bagaimana jiwa mereka? Penuh penipuan diri, puas diri dengan hal-hal yang menurutnya nampak suci untuk dirinya sendiri. Cukup mudah bagi kita untuk membaca Kitab Suci dan mengernyitkan dahi terhadap sikap-sikap orang Parisi, tetapi tidak sampai tertarik pada kesucian. Inilah mengapa kita harus selalu memeriksa diri kita di hadapan Tuhan.

2.Kerendahan hati merupakan batu penguji sesungguhnya akan kesucian. Kesombongan dan kesucian pribadi bercampur seperti minyak dan air. Ketika egoisme muncul dalam diri kita, ruang untuk Allah menjadi hilang. Mungkinkah terjadi persahabatan dengan Allah dalam jiwa yang sombong? Tidak ada kompromi antara Allah dengan jiwa yang sombong.

3.Inti dari kesucian adalah kejujuran, artinya dalamnya dan luarnya sama. Sungguh, kejujuran merupakan dasar atau pondamen kesucian, karena dalam kejujuran terdapat ketulusan dan keterus-terangan. Dalam usaha kita untuk sampai kepada kesucian, tidak boleh ada sikap mendua. Kita harus menghindari ambivalensi yang terkecil sekali pun dalam motivasi-motivasi kita, atau ketidak pantasan antara pikiran, keputusan, pilihan, dan tindakan kita. Tidak mungkin ada kesucian tanpa kejujuran.

Renungan Harian GML : JANGAN PERNAH BERHENTI MENCARI KEKUDUSAN





Kamis, 14 Maret 19

BACAAN
Esther 4:10-12.17-19 – “Padaku tidak ada seorang penolong selain Engkau, ya Tuhan”
Mat 7:7-12 – “Setiap orang yang meminta akan menerima”

RENUNGAN
1.Dari Injil hari ini, kita dihadapkan dengan  prinsip fundamental kekudusan, yaitu “Ia harus semakin besar, saya harus semakin kecil” (Yoh 3:30). Kristus harus semakin besar dan semakin besar di dalam diri kita. Sebuah doa yang menjadidkan kita rendah hati. Sikap rendah hati merupakan langkah menuju kekudusan.

2.Kristus mengatakan “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Melalui Firman ini, apakah kita memiliki iman dan kepercayaan bahwa Allah akan memperkuat kehendak kita dalam pencarian akan kekudusan?

3.Doa, kekudusan dan tugas perutusan pada hakekatnya saling berkaitan. Hasil semua usaha  kerasulan tergantung dari tingkat kekudusan kita. Kekudusan sangat ditentukan seberapa tingkat kesatuan kita dengan Allah. Karena kesatuan dengan Allah, maka kehidupan ilahi mengalir di dalam diri kita. Kehidupan ilahi akan semakin meningkat lewat doa pribadi. Kita harus selalu berdoa, sehingga doa akan menjadi rahasia kekudusan dan tugas perutusan kita. Doa yang terus-menerus menjadi kekuatan terbesar di bumi. Doa harus menjadi pusat dalam pencarian kekudusan.

Renungan Harian GML : YESUS, RAHMAT YANG TERLUPAKAN

Rabu, 13 Maret 2019

BACAAN
Yun 3:1-10 – “Penduduk Niniwe berbalik dari tingkah lakunya yang jahat”
Luk 11:29-32 – “Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus”

RENUNGAN
1.Yesus telah bekerja membuat mukjizat, dan khotbah serta kesucian hidup-Nya sungguh luar biasa. Namun demikian beberapa orang tidak puas dan mereka menuntut tanda besar yang benar-benar datang dari surga. Yesus menolak permintaan mereka. Kita seringkali mudah jatuh ke dalam sikap yang sama, bahkan kisah-kisah mukjizat dalam Injil pun nampak membosankan, tetapi penampakan-penampakan yang tidak ada kebenarannya membuat kita tertarik dan heboh. Saat Prapaskah merupakan saat untuk kembali ke bagian paling penting dalam iman kita, yaitu perjumpaan kembali dengan Tuhan dalam Sabda-Nya dan Ekaristi, seolah-olah untuk pertama kalinya kita terima.

2.Walau pun dalam Injil Yesus berkata keras, namun Ia berjanji untuk memberi mereka  sebuah tanda, yaitu tanda Yunus. Yang dimaksudkan adalah Kematian dan Kebangkitan-Nya (Mat 12:40). Tidak ada tanda atau mukjizat yang lebih besar dari kedua tanda tersebut dan perayaan Misteri Paskah merupakan puncaknya. Maka Prapaskah merupakan saat untuk berharap. Kita menyucikan diri untuk ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus.

3.Yesus berkata kepada para pendengar-Nya bahwa mereka akan diadili karena mereka tidak menghargai anugerah dan rahmat yang ada di depan mata mereka. Hal ini merupakan undangan bagi kita untuk menghargai semua yang kita terima dari Gereja, tetapi juga membagikannya kepada orang lain. Kebenaran iman kita tidak hanya untuk kita sendiri, tetapi juga untuk semua orang. Apa yang kita buat untuk membagikan arti sesungguhnya Prapaskah dan Paskah dengan mereka yang berada di sekitar kita?


Renungan Harian GML : TUHAN, AJARLAH KAMI BERDOA

Selasa, 12 Maret  2019

BACAAN
Yes 55:10-11 – “Firman-Ku akan melaksanakan apa yang Kukehendaki”
Mat 6:7-15 – “Doa Bapa Kami”

RENUNGAN
1. Banyak orang suka berbicara. Mereka menuntut untuk didengarkan, tetapi tidak tertarik bila harus mendengarkan. Kita tidak mampu mendengarkan, jika kita tidak membiasakan diri untuk hening. Yesus menghendaki agar kita menyadari bahwa doa merupakan aktifitas mendengarkan daripada berbicara. Ketika engkau bersama seseorang yang tahu banyak tentang topik yang engkau tertarik, engkau pasti membatasi diri untuk bertanya dan meluangkan untuk mendengarkan. Yesus adalah pewahyu Allah Bapa. Hal ini berarti hal utama dalam doa adalah bertanya kepada Yesus tentang Bapa-Nya dan mengkhususkan diri untuk mendengarkan apa yang akan Ia katakan tentang Bapa

2. Yesus mengatakan kepada kita bahwa Allah Bapa tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita minta kepada-Nya. Namun kita masih meminta, karena dengan meminta kita menjadi sadar bahwa kita memiliki kebutuhan dan hanya Allah yang dapat memberikan. Kita belajar meminta kepada Allah apa yang paling kita butuhkan untuk keselamatan kita. Inilah mengapa Yesus mengajarkan kepada kita doa “Bapa Kami.” Dengan mengatakan “Bapa Kami” mengingatkan kita bahwa Ia adalah Bapa semua orang, dan setiap pribadi manusia adalah saudara kita. Dalam doa ini kita minta tiga hal penting: Pertama, Allah memiliki tempat utama dalam hidup kita. Kedua, Allah memberikan makanan jasmani dan rohani. Ketiga, Ia memberikan pengampunan kepada kita.

3. Yesus menekankan pentingnya mengampuni. Kita harus menyadari bahwa kita semua adalah pendosa (1Yoh 1:8). Salah satu sifat hidup keimanan kita adalah mengandalkan kerahiman Tuhan. Kita mengerti arti sebenarnya tentang kerahiman Tuhan ketika kita mengampuni orang lain. Kemurahan hati kita tidak pernah sama dengan kemurahan hati Tuhan. Tuhan tidak pernah berbuat dosa, dan karena itu Ia mengampuni kita walau pun kita tidak berhak menerimanya. Jika Kristus telah mengampuni kita, bagaimana mungkin kita tidak mengampuni orang lain?


Renungan Harian GML : GANJARAN ATAS PENYANGKALAN DIRI

Selasa, 5 Maret 19, St. Philipus Neri


BACAAN
Sir 35:1-12– “Mentaati perintah Tuhan sama dengan kurban keselamatan”
Mrk 10:28-31 – “Barangsiapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ... pada masa ini juga ia akan menerima kembali seratus kali lipat ... dan di masa datang ia akan menerima hidup yang kekal”

RENUNGAN
1.Si pemuda kaya pergi dengan sedih dan kecewa. Petrus dan murid-murid lain bereaksi atas sikap orang muda kaya raya tadi. Ganjaran apa yang akan kami peroleh karena sudah meninggalkan semuanya? Ini jawaban Yesus:  siapa saja yang telah meninggalkan segala sesuatu tidak hanya akan menerima ganjaran kehidupan kekal pada saat yang akan datang, tetapi juga akan menerima ganjaran seratus kali lipat pada masa ini juga.

2.Pengurbanan dan penyangkalan diri hanya mempunyai nilai jika dilakukan demi Kristus dan Injil-Nya, dan semata-mata demi cinta kepada Kristus dan sesama. Maka Kristus hanya menghendaki murid yang memiliki komitmen total terhadap-Nya, bahkan ketika harus mengalami penderitaan dan salib berat, bukan murid yang setengah-setengah dan sontoloyo. Bila hal ini mampu kita wujudkan, kita akan menerima balasan seratus kali lipat dan hidup kekal.

3.Sangat tidak mudah mewujudkan tawaran Kristus ini. Mengapa? Karena tawaran dunia jauh lebih menggiurkan dan menggoda, dan cara mencapainya juga tidak sulit-sulit amat. Tidak sedikit para murid Kristus yang jatuh ke dalam pelukan dunia dan meninggalkan-Nya. Harus kita sadari bahwa kehidupan kita adalah sebuah pemurnian komitmen kita terhadap Kristus. Dengan membuktikan cinta kita kepada-Nya, kita akan menikmati  kehidupan bersama Kristus.

Renungan Harian GML : ANAK-ANAK KERAJAAN

Sabtu, 2 Maret 2019

BACAAN
Sir 17:1-15 – “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya”
Mrk 10:13-16 – “Barangsiapa tidak menerima kerajaan Allah seperti anak-anak ini, tidak akan masuk ke dalamnya

RENUNGAN
1. Sekali lagi, para murid kehilangan arah, sehingga Yesus berkata kepada mereka: “Jangan halangi mereka!” Saat ini banyak di antara kita yang menghalangi anak-anak datang kepada Yesus. Kita berpikir, sangat banyak acara penting untuk dikerjakan anak-anak. Bukankah mereka harus berkompetisi dengan anak-anak lain dan harus menjadi nomer satu? Dunia dengan sepenuh hati setuju. Bahkan dunia menyerukan: “Biarkanlah anak-anak datang kepadaku.” Hanya Yesus yang berani mendesak, “Bawalah mereka kepada-Ku, sekarang!” Mengapa Yesus begitu ingin untuk menjamah, memberkati, mengajar dan menerima anak-anak ini? Terhadap anak-anakku, apakah aku menerapkan semangat dunia atau semangat Yesus?

2. Tiap hari kita semua berjuang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Ketika dewasa dan menjadi tua, terkadang, kita punya keinginan untuk murni, tanpa dosa seperti anak-anak. Tetapi banyak yang meremehkan hidup suci tanpa dosa, bahkan tidak percaya kepada Allah. Jika kita ingin berperang demi memperoleh Kerajaan Allah, peperangan kita harus dimulai dengan mempertahankan hidup tanpa dosa. Itulah satu-satunya pintu masuk Kerajaan Allah. Apakah aku memperjuangkan Kerajaan Allah di dalam keluargaku?

3. Siapa pun yang dibaptis, dia menerima rahmat menjadi anak-anak Kerajaan. Rahmat baptisan ini tidak pernah hilang. Rahmat tersebut akan diperbarui ketika kita berdoa, berserah diri kepada Allah, mendengarkan Sabda-Nya yang menyapa kita, ketika kita memandang Salib Rosario di tangan, ketika kita bersukur, ketika kita merayakan Misa Kudus, dan ketika kita menerima Sakramen Tobat. Tetapi, apakah aku menyediakan diri dan waktu agar Kristus menumpangkan tangan-Nya atas diriku dan memberkati aku tiap hari?

Renungan Harian GML : HARGA KERAJAAN ALLAH

Kamis, 28 Pebr 2019

BACAAN
Sir 5:1-8 – “Jangan menunda-nunda untuk bertobat kepada Tuhan”
Mrk 9:41-50 – “Lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan, daripada dengan kedua belah tangan masuk dalam api yang tak terpadamkan”

RENUNGAN
1.Siapa yang dimaksud Yesus dengan anak-anak kecil? Mereka adalah orang-orang kecil, orang-orang miskin, lemah dan tersingkir, tidak punya status sosial di masyarakat, bahkan mereka tidak diperkenankan ambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya. Mereka “diberdayakan” saat menjelang pemilu saja dengan janji-janji  palsu – php.

2.Menyesatkan mereka berarti skandal. Arti  skandal adalah batu yang diserakkan di sepanjang jalan. Orang yang berjalan tersandung-sandung, sehingga jalannya terbelokkan dari jalan yang benar. Harus kita ketahui bahwa orang-orang kecil tidak memiliki daya. Menyesatkan orang-orang kecil berarti membelokkan jalan mereka sehingga mereka kehilangan harapan, putus asa, bahkan kehilangan iman. Padahal, orang-orang kecil adalah mereka yang dikasihi Tuhan.

3.Seperti Yesus, kita harus mengasihi mereka. Untuk itu kita perlu memiliki garam di dalam hidup kita, artinya hidup yang selalu mengandung kebaikan, memberi dampak positip bagi kehidupan orang banyak, terutama orang-orang kecil. Sebaliknya bila hidup  tidak melakukan kebaikan, bahkan menyesatkan orang lain, lebih baik bila ia tidak hidup; lebih baik bila ia tidak pernah hadir di dunia ini. “Lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” Apakah aku telah menyesatkan orang lain, terlebih anggota keluargaku sendiri?


Renungan Harian GML : SEMANGAT BERBELAS KASIH

Rabu, 27 Pebr 2019


BACAAN
Sir 4:11-19 – “Orang yang mencintai kebijaksanaan, dicintai oleh Tuhan”
Mrk 9:38-40 – “Barangsiapa tidak melawan kita, ia memihak kita”

RENUNGAN
1.Seorang rasul muda berkata dengan penuh semangat, “kami cegah orang itu.” Ia menggunakan prinsip: “pukul dulu, bicara kemudian.” Ia bertindak tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan Yesus. Apa yang menggerakkannya? Para murid merasa bahwa kuasa mengusir setan hanya diberikan kepada mereka saja. Alasan kedua, “karena ia bukan pengikut kita” sehingga tidak boleh berbuat atas nama Yesus. Kita mudah mengadili orang lain tanpa mengetahui gambaran sepenuhnya tentang orang tersebut atau kurang mempertimbangan pendapat Yesus lewat firman-Nya.

2.Dalam menghadapi perbuatan seseorang, Yesus mempunyai wawasan yang dalam. Ia membaca semua tindakan dengan hati yang penuh belas kasih; setiap tindakan Ia lihat dalam terang cinta, misalnya seorang wanita berdosa yang menyeka kaki-Nya dengan air mata dan rambutnya. Menurut pendapat umum, si wanita tersebut harusnya dilempari batu sampai mati. Tetapi Yesus menerimanya, mengampuni dan memulihkannya. Demikian juga sikap Yesus terhadap seorang lumpuh yang diturunkan lewat atap, pemungut cukai, orang kusta.  Apakah aku mengadili orang lain menurut terang Injil atau serampangan saja?

3.Yesus memberikan prinsip sederhana tentang penghakiman: “Barangsiapa tidak melawan kita, ia memihak kita.” “Percayalah semua yang baik yang kau dengar dan hanya percaya kepada yang jahat yang kau lihat.” Hal ini berlawanan dengan kecenderungan kita yang suka mengadili dan membicarakan jeleknya orang lain. Seorang yang baik melihat dengan mata kebaikan. Mengapa kita susah  memaafkan kekurangan orang lain? Mengapa kita begitu mudah membicarakan kejelekan orang lain? Kuncinya ada pada hati kita. “Tuhan, ubahlah hatiku menjadi seperti hati-Mu.”

Renungan Harian GML : TOLONGLAH AKU YANG TIDAK PERCAYA INI

Senin, 25 Pebr 2019

BACAAN
Sir 1:1-10 – “Kebijaksanaan diciptakan sebelum segala-galanya”
Mrk 9:14-29 – “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya”

RENUNGAN
1. Ketika sembilan murid menunggu Yesus turun dari gunung Tabor, mereka frustrasi karena tidak mampu menyembuhkan anak yang kerasukan setan. Kita sering melakukan pekerjaan, tapi tidak melibatkan Allah, sehingga apa yang kita kerjakan nampak “hampa” dan “mati” sampai Yesus datang dan bekerja untuk kita. Ketika kita menyingkirkan Allah dari  pekerjaan kita atau dari keluarga kita, berarti kita tidak beriman. Para rasul memiliki iman yang dangkal sehingga tidak mampu menyembuhkan.  Kepada mereka, dan kepada kita, Kritus berkata, “O angkatan yang tidak beriman!” Kapan aku tidak beriman?

2. Ketika Yesus tidak ada, para rasul hanya berdebat tentang Dia, tetapi ketika Yesus kelihatan, mereka “berteriak kagum.” Yesus segera melihat betapa tipisnya iman mereka, sehingga Ia menggunakan setiap kesempatan untuk memperkuat iman mereka. Apa yang Dia buat kepada tiga rasul di atas gunung, Dia buat untuk sembilan rasul yang lain. Kegagalan mereka menyembuhkan menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajarkan iman. Yesus juga menguji ayah itu: “Katamu, jika engkau bisa? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Kemudian Yesus memerintahkan kepada semua rasul pentingnya berdoa. Apa yang harus aku buat demi bertambahnya imanku di dalam keluargaku?

3. Teriakan sepenuh hati bapak tadi merupakan hal yang sangat perlu agar Yesus mengusir roh jahat. Orang itu menegaskan kembali imannya ketika mengakui kelemahannya. Kita seringkali mengandaikan bahwa iman kita kuat, tetapi menghojat Allah ketika menghadapi peristiwa-peristiwa buruk. Percaya kepada Yesus sungguh tidak mudah. Pertama-tama kita perlu mengakui keterbatasan kita, ketidak mampuan kita untuk mengerti “mengapa” begitu banyak peristiwa buruk. Yesus tidak menolak perjuangan untuk beriman, tapi mengkritik kurangnya usaha untuk beriman. Apa yang gagal dibuat oleh para rasul dibuat oleh ayah tadi dengan seruan: “Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Pengakuan penuh kerendahan hati terhadap kebesaran dan cinta-Nya.

Renungan Harian GML : NAIK GUNUNG BERSAMA KRISTUS

Sabtu, 23 Pebr 19, St. Polikarpus



BACAAN
Ibr 11:1-7 – “Berkat iman kita mengerti bahwa alam semesta diciptakan Allah”
Mrk 9:2-13 – “Yesus berubah rupa di depan para rasul”

RENUNGAN
1. Naik gunung berarti berdoa, berjumpa dengan Allah. Sebuah perjalanan sulit dan terjal. Mereka diubah oleh Yesus supaya tidak hanya pasip memperhatikan Dia bekerja untuk orang lain. Apa artinya? Kita harus berjuang untuk membuka pintu hati agar Yesus masuk. Tentu lewat doa. Tetapi apakah doa kita menjulang sampai kepada Allah, atau hanya berputar-putar sekitar masalah dan takut tidak terkabulkan? Lewat doa, kita belajar bagaimana bisa bersama dan bersatu dengan Kristus. Doa itu pusatnya Kristus, bukan permasalahan kita.

2. Di atas gunung, Petrus, Yakobus, dan Yohanes diberi gambaran lengkap tentang kemuliaan Allah. Mereka juga diberikan visi tentang tugas perutusan. Mereka melihat dengan terang apa yang dilihat oleh Allah dan membuang segala keraguan mereka. Bagi kita, tanpa doa dan tanpa usaha mempelajari pikiran-pikiran Allah, kita tidak pernah akan melihat terang kemuliaan-Nya. Seberapa besar porsi doa kita?

3. Gunung Tabor mengajarkan kepada para murid bagaimana mengelola pengalaman bersama Kristus dalam doa dan mengetahui buah-buah dari doa. Tanda doa yang berhasil adalah kita menerima kekuatan yang dari atas yang bekerja dalam diri kita. Kedua, kita menerima rencana Allah;  mengerjakan apa yang dikehendaki Allah.  Ketiga: kita tahu jelas tentang tujuan hidup kita. Misi Kristus hanya akan terpenuhi secara sempurna di surga. Rumah kita yang sesungguhnya berada dalam surga. Maka jalan yang harus kita tempuh adalah mengubah keinginan hati dan mengatur serta mengarahkan hidup kita hanya ke surga.

Renungan Harian GML : APAKAH KRISTUS MEMPERHITUNGKAN AKU?

Kamis, 21 Pebr 2019


BACAAN
Kej 9:1-13– “Pelangi-Ku akan Kutempatkan di awan sebagai tanda perjanjian antara Aku dan bumi”
Mrk 8:27-33* – “Engkaulah Mesias”

RENUNGAN
1.”Menurutmu, siapakah Aku ini?” Doa-doa kita harus mampu membawa kita untuk menanggapi pertanyaan Kristus tersebut. Pertanyaan tersebut merupakan test untuk perjalanan iman kita. Kita harus menanggapi pertanyaan tersebut dari perspektif ini: “Siapa Kristus bagiku?” Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan pengalaman berelasi dengan Kristus secara pribadi. Ketika relasi kita dengan Kristus intim dan mendalam, maka tanggapan kita akan terasa menyentuh kehidupan, bahkan orang lain pun  ikut merasakannya. Bila relasi kita dengan Kristus dangkal dan hampa, maka jawaban kita hanya akan mengulang-ulang apa yang diajarkan oleh para katekis. Tanpa makna.

2. Petrus menerima Yesus sebagai Mesias, tetapi bukan Mesias seperti dikehendaki Yesus. Petrus menginginkan Mesias seperti  yang ia mau, yaitu Mesias yang mampu menyelesaikan segala kesulitan dan membebaskan Israel dari penjajahan Romawi. Ia keracunan “ragi Herodes dan Parisi.”

3. Petrusku malang Petrusku sayang. Pada suatu saat ia menyatakan pikirannya tentang Bapa, tetapi pada kesempatan lain, ia menyatakan pikiran setan. Maka Petrus menjadi target pencobaan setan agar lepas dari Kristus. Penderitaan Kristus akan menjadi ikrar bahwa iman para rasul tidak pernah akan gagal: “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur ... “ (Luk 22:32). Doa Yesus menghasilkan buah: Petrus lahir kembali pada hari Pentakosta. Ia menjadi rasul Gereja yang gagah perkasa.  Bagaimana dengan aku?

Renungan Harian GML : SELALU INGAT TUHAN

Selasa, 19 Pebr 19


BACAAN
Kej 6:5-8; 7:1-5.10 – “Aku akan menghapuskan manusia yang Kuciptakan dari muka bumi”
Mrk 8:14-21 – “Awaslah terhadap ragi orang Parisi dan ragi Herodes”

RENUNGAN
1.Dari Injil, betapa gampangnya kita kehilangan warta Allah, karena kita begitu dikuasai oleh keinginan untuk mendapatkan sesuatu dengan serba cepat. Kita begitu haus akan kesuksesan dan terobsesi memiliki banyak uang. Hati yang gelisah dan merasa tidak aman dijauhkan dari visi kehidupan yang sehat, karena tidak memiliki pondasi yang kuat. Jiwa yang hidup dari pondasi yang benar tahu bahwa ia milik Kristus dan melaksanakan kehendak-Nya.

2.Salah satu dosa paling besar umat Israel adalah melupakan karya agung Allah yang dikerjakan Allah bagi mereka. Kita bisa memiliki sikap yang sama, jika tidak bersukur walau pun menerima banyak dari Allah. Kita harus ingat hal ini: Allah yang menciptakan kita dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baik dalam diri kita, menyelamatkan kita dan menyertai kita. Cepat lupakah kita?

3.Dalam kehidupan, kita perlu “detox” untuk membebaskan kita dari tujuan-tujuan yang kurang/tidak penting. Detox ini hanya bisa dijalankan lewat doa. Dengan doa, kita menguji dan  melatih keinginan-keinginan dan menyucikannya kembali dan mengarahkannya kepada Allah. Bila “detox” ini kita jalankan secara rutin dan sungguh-sungguh, Allah dapat menyembuhkan banyak penyakit kejiwaan yang ada pada kita.

Renungan Harian GML : MENCINTAI KRISTUS?

Senin, 18 Pebr 2019

BACAAN
Kej 4:1-15.25 – “Kain memukul Habel, adiknya, lalu membunuh dia”
Mrk 8:11-13 – “Mengapa angkatan ini meminta tanda?”

*RENUNGAN*
1. Yesus sungguh mencintai kita dan tidak pernah menolak jiwa yang rendah hati yang meminta apa yang baik yang ia butuhkan demi keselamatan dan kepenuhan jiwanya. Jika kita menginginkan seperti apa yang diinginkan oleh orang-orang Parisi, maka Allah akan pergi meninggalkan kita dan kehidupan rohani kita menjadi dingin dan beku. Bila hal ini terjadi, maka saatnya bagi kita untuk memurnikan kembali hati kita yang egois. Kita menghendaki kebahagiaan banyak hal, tetapi Kristus menginginkan kita untuk menerima apa yang menjadi kehendak-Nya. Itulah kepenuhan hidup.

2. Yesus hadir dan berbicara kepada jiwa kita agar kita selalu tumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Tetapi Tuhan akan diam dan pergi, jika kita menyeret Dia untuk mengikuti pikiran dan kalkulasi kita. Dia bukanlah Superman yang hanya datang ketika kita menghadapi hal-hal buruk. Lebih dari itu, Kristus ingin selalu campur tangan dalam kehidupan kita. Dia menginginkan kita selalu bersatu dengan-Nya dan mencurahkan rahmat-Nya dari hari ke hari, dan membagikan hidup-Nya untuk kita. Ia menghendaki hidup yang penuh percaya kepada-Nya seperti kepercayaan seorang anak kecil

3. Kristus memberikan tanda-tanda pasti kedatangan-Nya dalam hidup kita. Pertama, dalam tanda salib. Hanya iman yang akan memahami tanda salib ini. Di sana terjadi perjumpaan antara dosa kita dan belaskasih Allah. Dosa merupakan kejahatan yang membuat hidup kita menyimpang. Obat untuk itu adalah Salib Kristus. Tanda yang lain adalah Ekaristi. Ekaristi merupakan tanda yang paling kuat, karena di dalamnya Kristus hadir, merendahkan diri-Nya untuk tinggal bersama kita. Dalam rupa roti dan anggur Ia mengunjungi kita. (MS,berkat.id)

Renungan Harian GML : BERDUA-DUA

Kemis Pon, 7 Pebr 2019

BACAAN
Ibr 12:18-19.21-24 – “Kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi”
Mrk 6:7-13 – “Yesus memanggil kedua murid dan mengutus mereka berdua-dua”

RENUNGAN
1. Tuhan Yesus mengutus para rasul berdua-dua untuk menjadi saksi-Nya lewat teladan hidup mereka. Mereka diharap mengembangkan kerukunan dan kebaikan hati di antara mereka, sehingga orang lain yang melihat akan terdorong untuk berseru, “lihat, betapa mereka mengasihi satu sama lain.” Tim para rasul ini menunjukkan kesatuan budi dan hati, saling berbagi apa yang mereka peroleh: penginapan, keberhasilan maupun kegagalan. Dengan sikap ini Kristus ada di tengah-tengah mereka.

2. Kesaksian hanya oleh satu orang bisa dianggap omong kosong, tetapi jika kesaksian itu lebih dari satu orang, maka bukti itu menjadi lebih kuat. Para rasul memberikan kesaksian tentang apa yang dibuat Yesus dan tanda-tanda yang Ia kerjakan: menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan, dan seterusnya. Sangat indahlah bila kita bisa memberi kesaksian seperti para rasul ini di tempat kerja atau dalam keluarga masing-masing.

3. Yesus mengajarkan  prinsip teamwork. Teman sejawat akan membantu kita untuk waspada melawan bahaya yang mengancam kesehatan badan dan kerohanian, doa pun bisa bersama-sama. Yesus memberi jaminan “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:19). Kerja tim juga akan membantu keefektipan kerasulan: keduanya akan saling berbagi pengetahuan, pengalaman pribadi, dan cara pandang terhadap peristiwa. Satu sama lain saling melengkapi, berbagi rahmat, kemampuan dan mutu. “Dua kepala lebih baik daripada satu kepala.”
(MS,www.berkat.id)

Renungan Harian GML : BERBICARA DARI HATI TUHAN



Sabtu, 2 Pebr 2019, Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

BACAAN
Maleaki 3:1-4 – “Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya”
Ibr 2:14-18 – “Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya”
Luk 2:22-40 – “Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu”

RENUNGAN
1. Anak Manusia, Yesus Kristus, untuk pertama kalinya memasuki Bait Allah. Ia memasuki rumah Bapa. Ia, sebagai Anak Domba sempurna, sudi dipersembahkan di tempat buatan manusia. Dan di Bait Allah itu, semua manusia mengharapkan kedatangan-Nya. Anak Domba sejati datang untuk terakhir kalinya ke tempat persembahan. Bait Allah merupakan sebuah tempat pengorbanan untuk memperoleh penebusan dari dosa-dosa mereka, dan tempat penyembahan kepada Allah yang benar. Pada hari ini, lewat Maria, datanglah satu-satunya kurban penyelamat. Dengan itu seluruh kurban yang dibuat manusia dengan mengurbankan kambing, domba, sapi, tak ada gunanya.

2. Melalui ritual persembahan sederhana, Sang Anak menjadi milik Bapa. Adakah orang yang dapat berbicara melalui kedalaman hatinya, hati yang lapar dan haus akan keselamatan jiwa-jiwa? Ialah Maria. Ia memiliki hati murni dan sederhana karena penyerahannya. Maria memantulkan kepada dunia apa yang telah dikomunikasikan Anaknya kepadanya. Yesus adalah daging dari dagingnya. Yesus adalah daging kita oleh karena rahmat. Ia memampukan kita untuk menjadi persembahan bagi Tuhan dalam tugas perutusan dalam nama-Nya. Hal itu mungkin karena kehadiran Kristus yang hidup yang menggerakkan hati dan kehendak kita.

3. Karena pengorbanan Kristus, maka Bait Suci yang sesungguhnya adalah Tubuh Kristus yang tergantung di kayu salib yang merupakan persembahan sempurna. Karena baptisan, kita diberi keistimewaan untuk berbicara tentang Kristus yang terpantul dalam hidup kita. Maka terlebih dahulu kita harus mengalami “sebilah pedang akan menusuk hatimu ...” artinya kita mampu mengubah hati kita yang keras seperti batu menjadi hati yang baru seperti hati Yesus.


Renungan Harian GML : KRISTUS HARUS MAKIN BESAR

Setu Pahing, 12 Jan 19


BACAAN
1Yoh 5:14-21 – “Allah mengabulkan doa kita”
Yoh 3:22-30 – “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”

RENUNGAN
1. _”Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”_ Sebuah tuntutan yang harus membakar hati setiap rasul Tuhan dan pemimpin Gereja. Yang terjadi pada kita sering sabaliknya: kita mencari diri sendiri, entah pujian atau sanjungan. Ada orang yang mau pelayanan ketika memberikan kehormatan dan nama besar bagi dirinya. Orang seperti itu akan gampang kecewa, marah dan mutung ketika tidak ada yang berterima kasih kepadanya. Kita perlu mencontoh Yohanes Pembaptis: rendah hati, Kristus nomer satu dan harus makin besar, walaupun kita dicela dan tidak ada orang berterima kasih atas jerih payah kita.

2. Setiap hari, hati Yohanes penuh cinta yang selalu mengarah kepada Mesias yang akan datang. Pelayanan dan hidup rohaninya berpusat pada Kristus. Keheningannya di padang gurun membuat cintanya tumbuh murni. Sebagaimana Yohanes katakan, apa yang ia terima ia terima dari surga. Cintanya kepada Kristus bukanlah usaha semalam, tetapi hasil usaha bertahun-tahun lewat doa, penyangkalan diri, dan kesetiaan terhadap hidup pertobatan.

Renungan Harian GML : KEHADIRAN YANG MENGAGUMKAN

Kemis Kliwon, 10 Jan 2019


BACAAN
1Yoh 4:19-5:4 – “Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya”
Luk 4:14-22 – “Pada hari ini genaplah nas tadi sewaktu kamu mendengarnya”

RENUNGAN
1. Dalam kuasa Roh, Yesus kembali ke Galilea. Seluruh misi Kristus tidak ada lain kecuali menggenapi pasal yang Ia baca. Panggilan hidup kita tidak lain kecuali mewujudkan dan menggenapi tugas baptisan yang ditentukan oleh Roh Kudus. Tuhan tidak bekerja sendirian. Ia diutus Bapa dan dalam kesatuan dengan Roh Kudus. Dari sini semua buah perutusan dan kuasa-Nya mengalir. Kita harus menjadikan diri kita sebagai orang yang “diutus.” Hal tersebut mengharuskan kita menghasilkan buah limpah melalui tindakan cinta dan ketaatan kepada Allah

2. Yesus menutup gulungan Kitab itu. “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Jawablah pertanyaan dalam kitab Wahyu 5:2, _“Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?”_ Banyak orang bisa membaca Kitab, tetapi hanya Satu yang mampu membuka kunci keselamatannya. Banyak orang bisa menghapal teks, tetapi hanya Satu yang mampu membakar hati manusia. Banyak orang bisa berkhotbah dengan mengagumkan, tetapi hanya Satu yang mampu memuaskan mereka yang lapar akan kebenaran. Kata-kata yang kita sampaikan hanya asbun, omdo dan nato bila tanpa suara Kristus. Hanya Satu pribadi yang mampu mengubah hati manusia, dan kita hanya sebagai rasul ketika Kristus menggerakkan tangan kita.

3. _”Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya.”_ Kristus, dalam seluruh totalitas pribadi-Nya, datang untuk meringankan beban-beban kita dan mengangkat jiwa kita dengan pengajaran, mukjizat, dan penyembuhan. Tuhan juga menjanjikan banyak hal yang baik bagi kita, tetapi semuanya itu akan sia-sia jika tidak berasal dari Kristus.

Renungan Harian GML : LIMA ROTI DUA IKAN

Selasa, 8 Jan 2019

*BACAAN*
*1Yoh 4:7-10* – “Allah adalah kasih”
*Mrk 6:34-44* – “Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala”

*RENUNGAN*
1.”Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka.” Hati yang begitu mencintai orang-orang yang membutuhkan. Tak seorang pun dapat mencintai seperti Kristus. Kita mohon rahmat Tuhan agar  mampu melihat apa yang Ia lihat, menderita apa yang Ia derita, dan mencintai siapa yang Ia cintai. Inilah domba tanpa gembala: kaum remaja dan kaum muda (OMK) dan orang-orang yang berada dalam kegelapan jiwa karena putus asa. Apa yang telah Gereja/kita buat bagi mereka?

2.Tuhan menghendaki agar kita aktif turut menyelesaikan masalah-masalah di sekitar kita: “Kamu harus memberi mereka makan!” Artinya kita harus ikut bertanggungjawab terhadap masalah di sekitar: korban gempa bumi, tsunami, tanah longsor, angin topan. Di mana kehadiran Gereja?

3.Ketika Kristus memilih kita untuk suatu tugas perutusan, Ia akan memberikan apa yang kita butuhkan. Seringkali kita dihadapkan pada masalah yang sangat riil, tetapi di luar kemampuan kita untuk memenuhinya. Muncullah kecemasan. Apakah yang Kristus minta ketika kita berhadapan dengan hal yang mustahil seperti masalah di atas? Tuhan bertanya: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Artinya: Memberikan apa yang kita punya dan tidak perlu ada yang kita pertahankan; memberi dengan murah hati. Kita taruh roti dan ikan di atas meja, dan Kristus akan bertindak. Kesatuan budi dan hati dengan Kristus akan menghasilkan mukjizat. (MS,berkat.id)

Renungan Harian GML : PERTOBATAN NYATA

Senin, 7 Jan 2019


BACAAN
Mat 4:12-17.23-25 – “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

RENUNGAN
1.Berita dipenjaranya Yohanes Pembaptis mendorong Yesus untuk memulai khotbah-Nya. Yohanes berkata: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mt 3:2). Dengan pewartaan ini, Yohanes dipenjara oleh Herodes. Yesus menyampaikan pesan yang sama: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surgas sudah dekat!” Dari seruan tersebut, sedari awal, pewartaan Injil mengandung banyak resiko, tetapi Yesus tidak takut. Dalam situasi penderitaan bahkan penganiayaan, Matius menekankan agar setiap umat dan komunitas beriman berani menjadi “terang bagi bangsa-bangsa.”

2.Yesus tidak menunggu orang datang kepada-Nya. Ia pergi menemui orang-orang. Ia menerima orang-orang yang menderita macam-macam penyakit dan menyembuhkan mereka. Pelayanan terhadap orang-orang sakit merupakan bagian dari Kabar Gembira dan menyatakan kepada semua orang bahwa Kerajaan Allah telah hadir.

3.Berita tentang Yesus tersebar dari Galilea, menembus Yudea, Dekapolis, dan Yerusalem. Hal ini hendak meneguhkan bahwa orang-orang Kristen yang tengah mengalami kesulitan dan penganiayaan karena iman, ada terang yang bersinar dalam kegelapan. Maka tidak ada alasann untuk putus asa dan berhenti beriman.

4.Pertobatan konkret apa yang ingin Anda  wujudkan  saat ini? Tidak mungkin menjadi terang tanpa pertobatan.
(MS,www.berkat.id)

Renungan Harian GML : TUHAN MENGETAHUI KITA SEPERTI ADA KITA

Sabtu, 5 Jan 19, St. Yoh Neumann

BACAAN
1Yoh 3:11-21 – “Kita sudah berpindah dari maut ke dalam hidup, karena kita mengasihi saudara kita”
Yoh 1:43-51 – “Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Philipus berjumpa dengan Kristus dan memberitahukan-Nya kepada Natanael. Ketika Natanael bereaksi dengan acuh tak acuh, Philipus tidak menyerah. Phlipus mengalami bahwa Pribadi yang ia jumpai jauh lebih kuat daripada kata-kata, sehingga ia membawa Natanael untuk berjumpa dengan Yesus. Akan terjadi pada kita juga bila kita mencoba membawa orang lain kepada Kristus, kita akan mengalami rintangan yang sama: skeptis, tidak tertarik, banyak alasan, bahkan kita bisa dituduh kristenisasi. Tetapi apakah kita  menyerah begitu saja?

2.Natanael heran terhadap Yesus, karena Ia tahu persis siapa dirinya dan menghargai dirinya. Di sini kita lupa bahwa Yesus adalah Allah dan Sang Pencipta, dan ketika Ia memanggil seseorang, Ia tahu persis siapa yang Ia panggil. Panggilan Yesus bersifat personal, langsung menyentuh hati, memahami benar siapa diri kita menurut apa adanya. Ia tahu dan mencintai kita lebih baik daripada yang bisa dibuat oleh manusia. Bila panggilan Tuhan tersebut mengarah kepada seseorang, maka panggilan-Nya tidak bisa ditolak.

3.Tuhan berjanji kepada Natanael bahwa ia akan melihat “hal-hal yang lebih besar” di masa depan. Natanael akan melihat secara langsung mukjizat-mukjizat Tuhan dan akan melihat banyak pernyataan cinta Bapa kepada Yesus. Ketika kita memiliki relasi pribadi dan mendalam dengan Tuhan, kita juga akan melihat “hal-hal yang besar.” Selain itu kita juga perlu memiliki iman yang besar, kepercayaan total, dan kepekaan terhadap Roh Kudus, serta kesabaran. Apakah kita sudah pada jalur tersebut?

Renungan Harian GML : ROH KUDUS MENGINSPIRASI

Kamis, 3 Jan 2019

BACAAN
1Yoh 2:29-3:6– “Setiap orang yang  tetap berada dalam Yesus tidak berbuat dosa lagi”
Yoh 1:29-34 – “Lihatlah Anak Domba Allah”

RENUNGAN
1.Walaupun Yohanes tahu bahwa ia diutus untuk menjadi perintis bagi Mesias, tetapi ia tidak tahu sesungguhnya tentang Mesias itu. Tetapi Yohanes sadar dan tahu bahwa Tuhan memiliki rencana, dan ia menjadi bagian dari rencana itu. Segera ia tahu ke mana harus melangkah. Terkadang kita juga ingin tahu rencana Allah bagi kita dan ingin berbuat sesuai rencana-Nya. Terhadap rencana-Nya, Tuhan menghendaki agar kita percaya penuh dan mengandalkan Dia, dan berbuat apa yang kita tahu dengan bersedia dipimpin oleh Allah.

2.Mengandalkan Allah dan membiarkan Allah menyatakan rencana-Nya dalam diri kita berarti kita harus memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah. Yohanes mengenali Yesus, karena ia begitu perhatian terhadap tanda-tanda Allah yang diberikan kepadanya, yaitu Roh Kudus yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Kita tidak usah mengharapkan adanya penampakan atau tanda-tanda khusus, tetapi cukup memiliki sikap Yohanes yaitu keterbukaan terhadap Roh Kudus dan melihat kehendak Allah dalam kejadian-kejadian di sekitar kita. Sarana utama untuk bisa mendengarkan Allah adalah lewat doa. Maka duduk bersama Allah harus menjadi bagian rutinitas hidup kita.

3.Bagi Yohanes, menyadari bahwa Yesus adalah Mesias merupakan hal yang istimewa. Kebanyakan orang mengenal Yesus karena bertetangga atau bersama Dia ketika masih muda. Yohanes mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias karena pernyataan Roh Kudus. Ia mewartakan-Nya kepada kalayak ramai. Yohanes tidak ragu terhadap inspirasi Roh Kudus dan segera menyatakan Yesus kepada para muridnya. Dalam kehidupan kita, Allah menghendaki agar kita melakukan yang tidak terduga. Untuk itu dibutuhkan kesiapan seperti Yohanes, yaitu  menerima rencana Allah yang tak terduga, bahkan ketika hal tersebut berlawanan dengan apa yang kita harapkan.

Hubungkan ke Facebook

Contact Us
Goa Maria Lawangsih
0852-9219-3234
Patihombo yogyakarta