Jumat, 10 Mei 2019

X. DOGMA GEREJA: MARIA BUNDA ALLAH
Jumat, 10 Mei 2019


1.Banyak orang, bukan Katolik, berkomentar: “Maria hanya manusia biasa seperti kita … Tuhan hanya ‘meminjam’ tubuhnya saja untuk melahirkan Yesus.” Pendapat tersebut sudah muncul sejak abad ke-5, disponsori oleh Nestorius, uskup agung Konstantinopel.

2.Tahun 431 berlangsung Konsili Efesus. Konsili ini membicarakan kedudukan Bunda Maria dalam tata keselamatan. Pada waktu itu seorang Uskup bernama Nestorius, Uskup Agung Konstantinopel menyebarkan ajaran yang mengatakan bahwa Maria hanyalah wadah jasmani, ibu Yesus, manusia dari Nasaret. Menurut Gereja, Yesus itu sungguh Allah sungguh manusia, keallahan dan kemanusiaan Yesus tidak dapat dipisahkan, dan seluruh pribadi-Nya itu dilahirkan oleh Maria. Pada waktu itu rakyat yang berhimpun berteriak lantang: “Theotokos! Theotokos!,” artinya Maria Bunda Allah. Akhir konsili memutuskan bahwa Maria adalah Theotokos – Maria Bunda Allah. Keyakinan ini begitu meresap di hati setiap umat Katolik dari dulu sampai sekarang.

3.Gereja Katolik menempatkan Maria sebagai Bunda Allah di atas para malaikat, para kudus, dan segala makhluk di surga. Dengan menjawab “ya” atas rencana Allah, Maria membuat “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan” (Kol 1:26) terwujud.

4.Harus kita akui bahwa Maria hanyalah ciptaan Allah, dan Tuhan tidak membutuhkan siapa pun dan tidak tergantung pada siapa pun juga. Namun demikian, Tuhan berkenan memulai dan menyempurnakan karya keselamatan-Nya yang agung lewat Bunda Maria. St. Agustinus mengatakan, “Dunia tidak layak menerima Sang Putra langsung dari tangan Bapa. Oleh Karena itu, Dia menganugerahkannya kepada Maria agar dunia memperoleh Dia melalui Maria.”

5.Dari rahim Bunda Maria, Yesus, Anak Allah, dilahirkan. Rencana keselamatan Allah telah dinubuatkan oleh para nabi, “Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung …” (Mat 1:23). Hanya karena ketaatan Bunda Maria, apa yang dinubuatkan oleh para nabi tersebut terpenuhi. “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takhluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Elisabet menyebut Maria sebagai “ibu Tuhanku” (Luk 1:43).

6.Kita meyakini bahwa Maria telah ditentukan Allah sejak semula menjadi ibu Sang Putera. Karena itu, sejak awal Allah membebaskan Maria dari dosa asal untuk mempersiapkan Tabut Perjanjian Baru. Jadi penghormatan kepada Bunda Maria bukan akal-akalan Gereja Katolik, tetapi kita mengikuti teladan Allah sendiri, sebab Tuhanlah yang terlebih dahulu mempercayakan diri-Nya kepada Bunda Maria. Karena itu, oleh malaikat Gabriel, Bunda Maria disebut sebagai “penuh rahmat.” Bunda Maria menanggapi tawaran Allah dengan iman tanpa syarat: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

7.Dengan kesanggupannya, Bunda Maria mewujudkan imannya dengan penuh ketaatan dan penyerahan diri: ketika melahirkan Yesus dalam kondisi yang sangat miskin, mengungsi ke Mesir, selama 30 tahun bersama Yesus dalam kehidupan yang tersembunyi di Nasaret, ikut menanggung sengsara Yesus, dan menyertai Yesus sampai di bawah Salib-Nya.
🇮🇩MS🇮🇩

Yang tlah berlalu biarlah berlalu

0 komentar:

Posting Komentar

Hubungkan ke Facebook

Contact Us
Goa Maria Lawangsih
0852-9219-3234
Patihombo yogyakarta